finished.

Dan, pada akhirnya semua berakhir.

Semua penderitaan yang susah dijelaskan dengan kata-kata sampai pada titik akhirnya.

Semua yang berawal tiga tahun lalu akhirnya diselesaikan di hari kemarin, di sore hari, setelah sempat menghabiskan waktu bersama di lokasi yang tidak jauh dari rumahku. Dari lokasiku. Tempatku berakhir setelah dicelakai kenyataannya di kotanya.

Semua pikiran untuk mengakhiri sebenarnya sudah menyeruak sejak lama, hanya saja tidak aku keluarkan pada siapapun, pada apapun. Hanya kulepaskan sebagai karbon monoksida yang mengganggu pernapasan. Sebagai nafas berat yang menyiratkan berbagai ungkapan. Ungkapan berat, ungkapan lelah, ungkapan dillema, hinga ungkapan rindu.

Tapi aku tidak merindumu.

Aku merindukan diriku sendiri. Merindukan diriku yang tidak diganggu perasaan apapun selain menjadi dirinya sendiri. Merindukan diriku yang bahagia dari pikiran-pikiran bahwasanya aku dibuang, aku hina, aku lemah, dan aku tidak berharga. Merindukan pikiran-pikiran bodoh bahwa aku dimanfaatkan, aku hanya menjadi penghibur di kala saat susah tapi dibuang saat dunia sudah bahagia kembali. Merindukan diriku yang bisa menikmati menjadi dirinya tanpa ada rasa berat embel-embel status yang mengganggu.

Kemudian, dengan berat hati aku menyerah.

Menyerah pada kekuatan yang entah apa.

Menyerah pada sesuatu yang sebenarnya, tidak juga menghalangiku untuk jadi apa-apa. Hanya membuatku berpikir ulang ratusan kali dan menyesatkan dalam lorong waktu beserta kenangan yang tiada berakhir. Menyerah pada sebuah ego yang tidak bisa runtuh walaupun begitu banyak yang menggodanya. Ego yang menjadikan manusia tidak akan jadi sempurna. Selamanya akan terombang-ambing dalam ketidakpastian.

Karena sesungguhnya yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri.

Kamu, ya kamu. Maafkan aku, tapi aku menyerah terhadapmu. Melakukan apa yang sebenarnya toh akan aku lakukan juga secepatnya, atau selambatnya.

Ku pikir aku bisa bertahan hingga detik terakhir ketika semuanya benar-benar tertutup. Sambil berharap kelak ada celah yang bisa kumasuki, kemudian tinggal di dalam sana sampai seluruh kulitku mengering dan aku pecah dalam kepingan satu-persatu.

Tapi ternyata, kita hanya statis di atas udara.

Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang tergerak.

Kembali ke ego yang mendarat lebih keras daripada keinginan untuk memelukmu setiap malam dan berharap ada hati yang mencelos disitu. Atau keinginan untuk diberi kecup di puncak kepala seperti yang sering kau lakukan ketika kau menyerah untuk melepaskan aku. Seperti yang kau lakukan kemarin saat aku kembali mendaratkan pelukanku. Kau kecup puncak kepalaku berulang-ulang, sementara aku mengucap maaf dengan lirih, bercampur air mata.

Oh ya, air mata.

Aku tidak menangis banyak seperti tiga tahun lalu. Aku tidak meraung dan menyentakkan pada dunia, bahwa yang mereka lakukan padaku itu tidak adil. Tapi pecayalah bahwa itu tidak berarti aku tidak merasakan sakit.

Aku hanya tidak bisa merasakannya lagi.

Kebas.

Tapi tetap saja aku kalut.

Aku tetaplah aku yang kalut ketika ditinggal pangerannya.

Aku tetaplah kalut ketika aku sadar bahwa aku sendirian disini. Apalagi dengan kondisi lingkungan kerja yang juga tidak maksimal, dan diriku sendiri yang seperti penuh dengan air mata yang ingin dicurahkan. Pada siapapun. Bahkan pada udara sekalipun.

Tapi aku sadar, ini yang kuinginkan.

Aku patut bersyukur aku melalui ini tanpa air mata berlebih, kan?

Kamu yang selalu mengajarkan aku untuk tidak peduli dengan apa yang terjadi kemarin. Kamu yang selalu memberi contoh padaku yang tidak peduli apapun yang terjadi, di hari esoknya pasti seperti sudah terlupa dan kembali memulai hari baru.

Semoga aku juga bisa seperti itu.

I still love you
I wanted to tell you,
the one who couldn’t take it anymore and
gave up in the end.
I miss you more than I hate you
I long for you more than I’m sad
Is this not it? Is this not it?

If we bump into each other, what would happen?
Would I hide from you amongst the crowd,
even if it’s only a waste of insignificant feelings.

I worry throughout the day,
the medicine of time has passed,
but this isn’t it, this isn’t it, this isn’t it.

You may be smiling
from happiness now.
You, the person who left hurtful scars
more than happy memories,
I miss you more than I hate you,
I long for you more than I’m sad.
Is this not it? Is this not it?

It was so familiar from the start,
more than a long-time couple,
and now it’s nothing but insignificant memories.

I worry throughout the day,
the medicine of time has passed,
but this isn’t it, this isn’t it, this isn’t it.

I tried emptying out
my heart that’s filled with you,
hoping something movie-like
would happen to me.

I worry throughout the day,
the medicine of time has passed,
but this isn’t it, this isn’t it, this isn’t it.

Even I feel sorry for myself,
I want to bury this finished love,
but this can’t be it, this can’t be it, this can’t be it.

This Isn’t It – Taeyang.

Advertisements

Kamu

Mencintaimu adalah kutukan terbesar dunia
Membuat alasan, membuat alasan
Kemudian menyesalinya hingga tak terasa
Air mataku mengalir dengan derasnya

Mencintaimu adalah mispersepsi
Kesalahan ku yang gersang kasih sayang dari yang bukan aku
Kemudian meresapinya jadi cinta
Mengacaukan akal sehat yang biasa berpacu dengan waktu

Pahit
Aku harus pahit terhadap diriku sendiri
Berusaha mati-matian menghapus satu-satu
Kamu, kamu, kamu
Sebelum aku yang hancur karenamu

Bodoh
Aku harus bodoh pada normaku sendiri
Berusaha membodohi aturan dan prasangka
Tentang kamu, kamu, kamu
Sebelum aku yang remuk karenamu

 

-Cawang, 2017.04.15

haunt

Until we meet again
Until we find each other again

When I find you laying beside her
That’s when I secretly whispering
“I already did that before”

When I find you caressing her hair
That’s when I secretly whispering
“I already know how that feel”

When I find you kissing her
That’s when I secretly saying
“That is the moment I regret the most”

And so,
Once for a while
I will haunt your dream
To keep you awake
To keep disturbing you

Like how you disturb my life

 

-Bandar Lampung, 2017.01.21

(m)udik pt. 3

-meneruskan post ini, dan ini

HUWAU. Ternyata nyeritain cerita mudik aja gue harus menghabiskan tiga post sekaligus. Gak ngerti apa guenya aja yang terlalu heboh selama ngetik, atau emang ini cerita panjang banget. Tapi, melihat keadaan yang harusnya bisa ditempuh 12 jam namun akhirnya gue tembuh lebih dari 48 jam, yah memang mungkin saja ceritanya akan panjang. Buat yang baru baca, silahkan dicek post sebelumnya dulu biar nyambung, sekalian nambahin traffic juga ahahaha.

Jadi, sampai dimana kita kemaren?

Ah iya. Ahem. Jadi…

Setelah lepas dari neraka tanpa bensin itu, gue terkulai lemah di dalam mobil. Gak lama mobil berjalan, guenya langsung diculik jin tidur. Terkaget-kaget saat bangun, lokasi gue ternyata belum berubah banyak dari ketika gue tidur. Padahal gue udah tidur sekitar dua jam lebih. Orangtua memutuskan untuk berhenti di salah satu Gudang Bulog yang pernah gue samperin pada saat pulang kampung sebelum ini. Disana, ada kamar mandi yang memang disewakan untuk pemudik. Gue memanfaatkan itu untuk cuci muka dan ngebasuh diri, paling engga biar adem aja gitu. Setelah berapa lama, akhirnya perjalanan dilanjutkan kembali dan kita akhirnya memasuki Jawa Tengah.

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, kepolisian daerah Jawa Tengah ternyata melakukan antisipasi kemacetan yang lumayan efektif. Setiap ada pom bensin, yang mau ngisi bensin akan dibuatkan garis sendiri dan dilarang untuk saling serobot disitu. Buat yang mau lewat ya dipersilahkan melalu jalan utama. Jalur contra-flow juga diperbanyak untuk mempersilahkan pengendara dari arah Jakarta untuk masuk ke Jawa Tengah. Namun, itu juga belum banyak mengurangi kemacetan. Di daerah padat seperti pasar, kemacetan masih suka terjadi. Terutama di daerah Tegal yang entah kenapa macetnya nggak pernah bubar semenjak gue lewat Lebaran tahun lalu. Singkat cerita, (karena emang sepanjang jalan gue kerjaannya lebih banyak tidur), sore hari gue sampai di SPBU Muri, yang terkenal dengan banyaknya kamar mandi. Gue yang kudet (kurang update–red) ini pertama kali masuk ke SPBU Muri dan terkagum-kagum dengan kamar mandinya. Mungkin gue juga lagi beruntung karena dapet kamar mandi yang bersih dan ada shower-nya. Diulang lagi ya, ada shower-nya. Gue rasanya pingin buka baju trus mandi langsung disitu. Cuman karena memang niatnya cuman mau buang air kecil, akhirnya gue mengurungkan niat nekat itu dan buru-buru keluar dari kamar mandi.

Sore itu, entah kenapa udara emang gila panasnya. Gue yang sahur ala kadarnya, ditambah dengan stress di jalan yang lumayan membunuh, nggak kuat puasa lagi. Akhirnya batal di jalan. Perjalanan dilanjutkan dengan alternatif untuk menghabiskan satu malam lagi di tempat layak istirahat alias penginapan. Setelah sekian lama berkendara sejak dari SPBU Muri, gue dan orangtua memutuskan untuk berhenti makan di salah satu restoran. Menunya sop daging, salah satu menu yang menurut gue wajib banget selama perjalanan jauh. Dan benar, abis makan itu rasanya badan lumayan jadi lebih seger lagi.

DSC_2903

Continue reading