IDOL

Continue reading

Advertisements

love story

EPIK HIGH feat. 아이유 – ‘연애소설 (LOVE STORY)’

We were like magnets once
Cuz only when one of us turned around
We grew apart

I had nothing
But thanks to the scars you gave me
I became the main character
In a sad love story

I was nothing special
But thanks to the breakup you gave me
I became the main character
In a sad love story
In this sad love story

It’s time I forgot you
But my memories are getting fatter
Feelings growing bigger
When I look back
It makes my heart rip apart
But all of it were classic scenes
Do you remember?
In the dark movie theater
The day we first held hands
I was thankful
That your hand that built up and tore down countless things
Landed in mine
Do you remember?
The night you told me about your family
It was something only I knew about you
Making me want to give you a piece of my heart
It was raining under the blankets
You used my body as a roof and avoided all the rain of the world
I remember everything
Even the first morning without you
Moments I broke down after enduring so well
I cried for a while in the shower
As I picked off your hair on the soap bar

I had nothing
But thanks to the scars you gave me
I became the main character
In a sad love story

I was nothing special
But thanks to the breakup you gave me
I became the main character
In a sad love story
In this sad love…

I comforted myself, saying this sadness is just a drizzle
But I still wake up with a wet face
Seasons casually change and only look ahead
But I keep pacing back and forth
Next to you, who is only left as a memory that time left behind
I can’t forget
Our first night after being pulled together by our drunken attraction
Actually, I was drunk even before I had my first drink
I think what we drank was destiny
We sobered up way too fast
Back then we couldn’t live without each other
But now, every day is like a war
We look at each other as if we’ll kill each other
Then we face the end of our tears
From our first encounter that felt like necessary fate
To our last as we turned around, calling each other ill fate
We were each other’s mirror reflections
Even until we broke apart from the looks we threw at each other

I had nothing
But thanks to the scars you gave me
I became the main character
In a sad love story

I was nothing special
But thanks to the breakup you gave me
I became the main character
In a sad love story
In this sad love…

A story that’s only special to me
Isn’t it so cliché?
I know I’m not the only one
But this is me

I had nothing to give
But thanks to the scars that you left behind
I’m giving them to someone else
A sad story that resembles me

Everything was a first to me
But thanks to the fear you gave me
I’m forever
In a sad love story
In this sad love…

We were like magnets once
Cuz only when one of us turned around
We grew apart

We were like magnets once
Cuz only when one of us turned around
We became strangers

Not a single star in the Seoul sky.

(credit translation)

finished.

Dan, pada akhirnya semua berakhir.

Semua penderitaan yang susah dijelaskan dengan kata-kata sampai pada titik akhirnya.

Semua yang berawal tiga tahun lalu akhirnya diselesaikan di hari kemarin, di sore hari, setelah sempat menghabiskan waktu bersama di lokasi yang tidak jauh dari rumahku. Dari lokasiku. Tempatku berakhir setelah dicelakai kenyataannya di kotanya.

Semua pikiran untuk mengakhiri sebenarnya sudah menyeruak sejak lama, hanya saja tidak aku keluarkan pada siapapun, pada apapun. Hanya kulepaskan sebagai karbon monoksida yang mengganggu pernapasan. Sebagai nafas berat yang menyiratkan berbagai ungkapan. Ungkapan berat, ungkapan lelah, ungkapan dillema, hinga ungkapan rindu.

Tapi aku tidak merindumu.

Aku merindukan diriku sendiri. Merindukan diriku yang tidak diganggu perasaan apapun selain menjadi dirinya sendiri. Merindukan diriku yang bahagia dari pikiran-pikiran bahwasanya aku dibuang, aku hina, aku lemah, dan aku tidak berharga. Merindukan pikiran-pikiran bodoh bahwa aku dimanfaatkan, aku hanya menjadi penghibur di kala saat susah tapi dibuang saat dunia sudah bahagia kembali. Merindukan diriku yang bisa menikmati menjadi dirinya tanpa ada rasa berat embel-embel status yang mengganggu.

Kemudian, dengan berat hati aku menyerah.

Menyerah pada kekuatan yang entah apa.

Menyerah pada sesuatu yang sebenarnya, tidak juga menghalangiku untuk jadi apa-apa. Hanya membuatku berpikir ulang ratusan kali dan menyesatkan dalam lorong waktu beserta kenangan yang tiada berakhir. Menyerah pada sebuah ego yang tidak bisa runtuh walaupun begitu banyak yang menggodanya. Ego yang menjadikan manusia tidak akan jadi sempurna. Selamanya akan terombang-ambing dalam ketidakpastian.

Karena sesungguhnya yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri.

Kamu, ya kamu. Maafkan aku, tapi aku menyerah terhadapmu. Melakukan apa yang sebenarnya toh akan aku lakukan juga secepatnya, atau selambatnya.

Ku pikir aku bisa bertahan hingga detik terakhir ketika semuanya benar-benar tertutup. Sambil berharap kelak ada celah yang bisa kumasuki, kemudian tinggal di dalam sana sampai seluruh kulitku mengering dan aku pecah dalam kepingan satu-persatu.

Tapi ternyata, kita hanya statis di atas udara.

Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang tergerak.

Kembali ke ego yang mendarat lebih keras daripada keinginan untuk memelukmu setiap malam dan berharap ada hati yang mencelos disitu. Atau keinginan untuk diberi kecup di puncak kepala seperti yang sering kau lakukan ketika kau menyerah untuk melepaskan aku. Seperti yang kau lakukan kemarin saat aku kembali mendaratkan pelukanku. Kau kecup puncak kepalaku berulang-ulang, sementara aku mengucap maaf dengan lirih, bercampur air mata.

Oh ya, air mata.

Aku tidak menangis banyak seperti tiga tahun lalu. Aku tidak meraung dan menyentakkan pada dunia, bahwa yang mereka lakukan padaku itu tidak adil. Tapi pecayalah bahwa itu tidak berarti aku tidak merasakan sakit.

Aku hanya tidak bisa merasakannya lagi.

Kebas.

Tapi tetap saja aku kalut.

Aku tetaplah aku yang kalut ketika ditinggal pangerannya.

Aku tetaplah kalut ketika aku sadar bahwa aku sendirian disini. Apalagi dengan kondisi lingkungan kerja yang juga tidak maksimal, dan diriku sendiri yang seperti penuh dengan air mata yang ingin dicurahkan. Pada siapapun. Bahkan pada udara sekalipun.

Tapi aku sadar, ini yang kuinginkan.

Aku patut bersyukur aku melalui ini tanpa air mata berlebih, kan?

Kamu yang selalu mengajarkan aku untuk tidak peduli dengan apa yang terjadi kemarin. Kamu yang selalu memberi contoh padaku yang tidak peduli apapun yang terjadi, di hari esoknya pasti seperti sudah terlupa dan kembali memulai hari baru.

Semoga aku juga bisa seperti itu.

I still love you
I wanted to tell you,
the one who couldn’t take it anymore and
gave up in the end.
I miss you more than I hate you
I long for you more than I’m sad
Is this not it? Is this not it?

If we bump into each other, what would happen?
Would I hide from you amongst the crowd,
even if it’s only a waste of insignificant feelings.

I worry throughout the day,
the medicine of time has passed,
but this isn’t it, this isn’t it, this isn’t it.

You may be smiling
from happiness now.
You, the person who left hurtful scars
more than happy memories,
I miss you more than I hate you,
I long for you more than I’m sad.
Is this not it? Is this not it?

It was so familiar from the start,
more than a long-time couple,
and now it’s nothing but insignificant memories.

I worry throughout the day,
the medicine of time has passed,
but this isn’t it, this isn’t it, this isn’t it.

I tried emptying out
my heart that’s filled with you,
hoping something movie-like
would happen to me.

I worry throughout the day,
the medicine of time has passed,
but this isn’t it, this isn’t it, this isn’t it.

Even I feel sorry for myself,
I want to bury this finished love,
but this can’t be it, this can’t be it, this can’t be it.

This Isn’t It – Taeyang.

humaniora pertanian (1): tengkulak atas nama kemanusiaan

Humaniora, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Balai Pustaka: 1988), adalah ilmu-ilmu yang mempelajari tentang cara membuat atau mengangkat manusia menjadi lebih manusiawi dan berbudaya. Menurut bahasa latin, Humaniora biasa disebut artes liberales yaitu studi tentang kemanusiaan. Sedangkan menurut pendidikan Yunani Kuno, humaniora disebut dengan trivium, yaitu logika, retorika dan gramatika. Pada hakikatnya humaniora adalah ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup studi agama, filsafat, seni, sejarah dan ilmu-ilmu bahasa. – Wikipedia.

Percaya atau tidak, saya sekolah di institut pertanian. Di waktu semua anak seumuran saya berharap masuk universitas negeri umum atau institut teknologi, saya melamar sekolah di institut pertanian. Tanpa ada ekspektasi apapun, saya melamar dengan kemampuan akademis saya di kala SMA ke jurusan teknik, seperti titah orang tua. Tidak ada yang menyangka saya bisa lulus ujian penerimaan bergengsi, termasuk saya sendiri. Dan setelah empat tahun bersekolah di sekolah pertanian, sudah saatnya saya menafkahi diri sendiri dengan bekerja. Dengan titel sarjana teknik, saya mencoba mengadu nasib.

Menjadi lulusan sekolah pertanian sebenarnya membuat saya terkotak dengan lulusan sekolah lain. Embel-embel pertanian yang selalu “ngikut” kemanapun saya pergi, membuat banyak HRD yang bertanya pada saya “Mengapa kamu melamar disini sementara kamu dulu sekolah pertanian?” Saya harus mati-matian putar otak untuk memberikan jawaban yang paling wajar, dan dengan makna tersirat tentunya. Beberapa kali jawaban saya diterima HRD, namun kemudian saya tidak mengambil kesempatan kerja disana karena satu dan lain hal. Sampai pada satu ketika sebuah pesan berantai muncul tentang suatu perusahaan “pertanian” sedang membuka lowongan pekerjaan administratif. Saya yang ketika itu sudah tidak bisa “nganggur” lagi, tentu saja mengambil kesempatan ini. Seleksi administrasi dilewati, dan saatnya bertemu orang yang bekerja di perusahaan ini untuk menyamakan visi dan misi.

Mereka yang bekerja di perusahaan “pertanian” ini membuka tes dengan tes psikologi sederhana. Saya hanya senyum-senyum karena sadar perusahaan ini bukanlah perusahaan besar, makanya tes yang dilakukan juga sederhana. Sampai pada satu titik wawancara, saya dipertemukan dengan dua orang HRD bermuka judes nan sinis. Kami berbincang sederhana, dan saya meyakinkan dengan sepenuh tenaga bahwa saya bisa melakukan pekerjaan administratif walaupun dengan nol pengalaman. Mereka tertarik dengan embel-embel ijazah pertanian yang saya keluarkan. Tentu saja lucu kalau mereka tidak menganggap saya adalah kandidat yang cocok, pikir saya waktu itu. Mereka mengaku perusahaan pertanian, dan saya adalah lulusan pertanian, apalagi yang mereka cari?

Continue reading

Kamu

Mencintaimu adalah kutukan terbesar dunia
Membuat alasan, membuat alasan
Kemudian menyesalinya hingga tak terasa
Air mataku mengalir dengan derasnya

Mencintaimu adalah mispersepsi
Kesalahan ku yang gersang kasih sayang dari yang bukan aku
Kemudian meresapinya jadi cinta
Mengacaukan akal sehat yang biasa berpacu dengan waktu

Pahit
Aku harus pahit terhadap diriku sendiri
Berusaha mati-matian menghapus satu-satu
Kamu, kamu, kamu
Sebelum aku yang hancur karenamu

Bodoh
Aku harus bodoh pada normaku sendiri
Berusaha membodohi aturan dan prasangka
Tentang kamu, kamu, kamu
Sebelum aku yang remuk karenamu

 

Cawang, 2017.04.15