(m)udik pt. 3

-meneruskan post ini, dan ini

HUWAU. Ternyata nyeritain cerita mudik aja gue harus menghabiskan tiga post sekaligus. Gak ngerti apa guenya aja yang terlalu heboh selama ngetik, atau emang ini cerita panjang banget. Tapi, melihat keadaan yang harusnya bisa ditempuh 12 jam namun akhirnya gue tembuh lebih dari 48 jam, yah memang mungkin saja ceritanya akan panjang. Buat yang baru baca, silahkan dicek post sebelumnya dulu biar nyambung, sekalian nambahin traffic juga ahahaha.

Jadi, sampai dimana kita kemaren?

Ah iya. Ahem. Jadi…

Setelah lepas dari neraka tanpa bensin itu, gue terkulai lemah di dalam mobil. Gak lama mobil berjalan, guenya langsung diculik jin tidur. Terkaget-kaget saat bangun, lokasi gue ternyata belum berubah banyak dari ketika gue tidur. Padahal gue udah tidur sekitar dua jam lebih. Orangtua memutuskan untuk berhenti di salah satu Gudang Bulog yang pernah gue samperin pada saat pulang kampung sebelum ini. Disana, ada kamar mandi yang memang disewakan untuk pemudik. Gue memanfaatkan itu untuk cuci muka dan ngebasuh diri, paling engga biar adem aja gitu. Setelah berapa lama, akhirnya perjalanan dilanjutkan kembali dan kita akhirnya memasuki Jawa Tengah.

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, kepolisian daerah Jawa Tengah ternyata melakukan antisipasi kemacetan yang lumayan efektif. Setiap ada pom bensin, yang mau ngisi bensin akan dibuatkan garis sendiri dan dilarang untuk saling serobot disitu. Buat yang mau lewat ya dipersilahkan melalu jalan utama. Jalur contra-flow juga diperbanyak untuk mempersilahkan pengendara dari arah Jakarta untuk masuk ke Jawa Tengah. Namun, itu juga belum banyak mengurangi kemacetan. Di daerah padat seperti pasar, kemacetan masih suka terjadi. Terutama di daerah Tegal yang entah kenapa macetnya nggak pernah bubar semenjak gue lewat Lebaran tahun lalu. Singkat cerita, (karena emang sepanjang jalan gue kerjaannya lebih banyak tidur), sore hari gue sampai di SPBU Muri, yang terkenal dengan banyaknya kamar mandi. Gue yang kudet (kurang update–red) ini pertama kali masuk ke SPBU Muri dan terkagum-kagum dengan kamar mandinya. Mungkin gue juga lagi beruntung karena dapet kamar mandi yang bersih dan ada shower-nya. Diulang lagi ya, ada shower-nya. Gue rasanya pingin buka baju trus mandi langsung disitu. Cuman karena memang niatnya cuman mau buang air kecil, akhirnya gue mengurungkan niat nekat itu dan buru-buru keluar dari kamar mandi.

Sore itu, entah kenapa udara emang gila panasnya. Gue yang sahur ala kadarnya, ditambah dengan stress di jalan yang lumayan membunuh, nggak kuat puasa lagi. Akhirnya batal di jalan. Perjalanan dilanjutkan dengan alternatif untuk menghabiskan satu malam lagi di tempat layak istirahat alias penginapan. Setelah sekian lama berkendara sejak dari SPBU Muri, gue dan orangtua memutuskan untuk berhenti makan di salah satu restoran. Menunya sop daging, salah satu menu yang menurut gue wajib banget selama perjalanan jauh. Dan benar, abis makan itu rasanya badan lumayan jadi lebih seger lagi.

DSC_2903

Continue reading “(m)udik pt. 3”

(m)udik pt. 2

–meneruskan post ini

BRO. Emang permasalahan kontinuitas itu berat ya. Bikin part 1 nya bahagia bet, part 2 nya susah banget mau mulainya. Dan karena saya mulai agak sedikit males-malesan, jadi maafkan kalo padanan katanya tidak sebagus post sebelumnya. Akakakakkk

–mari dilanjut–

BENSIN! Permasalahan bensin ini yang bikin perjalanan mudik gue kemaren terasa sangat nyata deg-deg-ser-nya. Bayangin aja, perjalanan baru juga seperempat tapi bensin full-tank udah abis. Udara siang yang panas bikin mau gak mau harus pake pendingin udara. Pendingin udara nyala, tapi jarak tempuh nol besar. Walhasil kita keabisan bensin di sekitaran perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Setelah gue cek Waze, ada pom bensin di sebelah kiri jalan sekitar 6 km lagi. Akhirnya dengan perlahan, perjalanan 6 km itu pun dimulai. Rasanya lamaaaaaaaaaaaa banget. Gue yang mulai frustasi dan ketar-ketir takut mobil mogok berusaha menafikan dengan dengerin lagu yang “agak keras”. Salah satu lagu yang gue dengerin (sekalian rekomendasi ini) adalah track no 2 Rap Monster’s Mixtape: Do You.

Continue reading “(m)udik pt. 2”

(m)udik pt.1

Bulan Juli tahun ini, umat Islam di dunia merayakan salah satu hari raya yang paling fenomenal, yaitu Hari Raya Idul Fitri. Di Indonesia, negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, hari raya ini pasti menimbulkan banyak efek dan fenomena sosial yang unik. Salah satu yang paling unik adalah tradisi pulang kampung, alias mudik.

Menurut salah satu selebtwit(?) yang gue follow, antologi mudik dapat ditarik dari padanan kata ‘udik’. Dalam KBBI, ‘udik’ dapat berarti desa, dusun atau kampung. Mudik, yang katanya diplesetkan dari ‘mulih udik’, berarti pulang ke desa, dusun atau kampung. Mudik adalah after effect dari budaya merantau yang dimaknai setiap insan Indonesia sebagai pergi ke daerah yang menjanjikan kehidupan yang lebih layak, dapat memberikan peluang kerja (atau peluang pendidikan) yang lebih baik dari daerah asal. Setiap setahun sekali, insan-insan yang jauh dari kampung halaman ini akan pulang kembali ke daerah asalnya selama beberapa hari untuk nanti kembali lagi ke kehidupan sehari-hari di rantau. Dan momen yang paling tepat adalah pada saat Hari Raya Idul Fitri.

Kenapa harus ketika Idul Fitri? Karena Idul Fitri adalah momen ketika kita kembali pada kondisi ‘fitri’ kita sebagai manusia. Selayaknya manusia, yang difitrahkan sebagai makhluk sosial, maka kita harus menjalin silaturahmi pada orang-orang yang mendukung kita. Dan yang paling utama, tentu saja orang tua. Makanya, ketika Idul Fitri ini banyak anak-anak yang walaupun sudah punya anak tetap kembali ke orang tuanya. Dari sinilah, berbondong-bondong ribuan orang yang tadinya bekerja di kota-kota besar memenuhi jalan menuju kampung halamannya masing-masing.

Di tahun 2016 ini, gue dan keluarga mudik ke Klaten, Jawa Tengah. Lebih tepatnya, ke keluarga Bapak. Walaupun Bapak bukan umat Islam, tapi gue dan sekeluarga lebih suka mudik kesana. Akhirnya setelah mencari waktu yang tepat, dibuat lah rencana untuk mudik hari Minggu, 3 Juli. Kita mudik menggunakan mobil pribadi. Gue yang belum bisa menyetir ini (T_T) masih belum bisa membantu banyak kecuali jadi tukang GPS dan nyiapin makanan untuk geng depan. Sekitar jam 8 pagi, kita berangkat dari rumah di Bekasi menuju Klaten. Kalo perjalanan lancar, estimasi mungkin di hari yang sama malam hari sih udah sampe.

Namun, estimasi hanyalah estimasi belaka.

Continue reading “(m)udik pt.1”