makna dibalik angka 7

Tanggal 7, bulan 7 tahun 2007, merupakan tanggal yang cukup unik yang baru saja terjadi. Di Indonesia, tanggal-tanggal yang dianggap unik pun digunakan untuk menggelar perhelatan besar, seperti perkawinan, kelahiran dan lainnya. Semua orang mendadak menjadi sangat fanatik dengan angka 7. Termasuk yang terjadi pada saya. Pagi hari sebelum tanggal unik itu, saya mendapati adanya 7 undangan perkawinan yang digelar bersamaan tanggal 7 bulan 7 tahun 2007. Ini benar-benar pengalaman pertama bagi saya. Orang tua saya pun kagum dengan fenomena ini. Mereka pun segera menyiapkan segalanya untuk memperingati tanggal unik tersebut, tentunya dengan cara menghadiri ketujuh pesta perkawinan itu.

Layaknya sebuah pesta, pasti masing-masing mempunyai tema yang khas. Nah, karena ini undangan pesta perkawinan, maka mereka pasti mengangkat budaya daerah pengantin masing-masing. Begitu pula dengan ketujuh undangan perkawinan ini. Mereka memakai 7 kebudayaan berebda, yaitu kebudayaan Jawa Solo, kebudayaan Jawa Yogyakarta, kebudayaan Padang atau Minang, kebudayaan asli Jakarta alias Betawi, kebudayaan Sunda, dan kebudayaan Manado, dan undangan yang terakhir memuat tema “Pesta Bintang”.

Tanggal 7 pun akhirnya datang. Keluarga saya pun telah siap memulai aktifitas baru kami, yaitu memperingati angka 7 dengan menghadiri 7 perkawinan secara langsung. Ayah saya pun menyalakan mobil, dan tepat pukul 7 pagi mobil kami melaju di tengah padatnya kota. Baru beberapa menit saja kami sudah dicegat macet di jalan. Bunyi klakson pun bersahut-sahutan. Tapi, dengan kesigapan para polisi lalu lintas pun, kemacetan itu terurai juga. Mobil kami pun bisa meluncur halus di jalan raya. Dan, inilah pemberhentian kita yang pertama, undangan pesta perkawinan dengan adat Betawi atau Jakarta.

Kedatangan kami ke sana ternyata langsung disambut dengan bunyi petasan yang membahana, pertanda acara akan dimulai. Ibu saya mengisi nama keluarga kami di daftar kehadiran, dan memasukkan sesuatu, yang sepertinya sudah menjadi kewajiban setiap menghadiri pesta, amplop yang berisikan uang sekenanya. Di dalam, pengantin wanita telah siap bersama keluarga memakai pakaian adat lengkap. Pakaian adat perempuan Betawi mirip-mirip kebaya orang Jawa, hanya terlihat lebih sederhana. Tak lama kemudian, dari arah pintu depan, datang iring-iringan pengantin laki-laki dan keluarganya yang membawa persembahan untuk keluarga pengantin perempuan. Lalu, persembahan pun diberikan, dan pengantin laki-laki dengan sigap menggandeng pengantin perempuan menuju pelaminan. Lagu-lagu khas Betawi pun dinyanyikan secara baik oleh sebuah orkes, yang asli Betawi juga, Gambang Kromong. Saya dan keluarga sungguh takjub melihat orkes yang boleh dikatakan sudah nyaris punah di sekitaran Jakarta. Alat musik yang cukup sederhana, dan amat wajib kita lestarikan.

Saya masih terpaku dengan Orkes Gambang Kromong yang langka ini, sebelum ditarik oleh Ayah saya untuk mengucapkan selamat pada dua sejoli yang terlihat anggun di pelaminan. Setelah bersalam-salaman, rasa menggelitik muncul dari perut saya. Betapa tidak, walaupun sebelum berangkat saya dan keluarga sudah sarapan, namun makanan khas Betawi yang terhampar di depan mata sungguh membangkitkan selera saya. Saya putuskan untuk mencoba asinan betawi. Bentuknya mirip-mirip asinan biasa, namun bedanya, asinan ini memakai krupuk yang berasal dari sagu yang berwarna merah. Cara penyajiannya pun mirip, yaitu dengan menyiramkan kuah berupa sambal kacang. Rasanya agak pedas, tapi enak.

Selesai menikmati asinan, kami pun pamit pulang. Mobil kami pun kembali membelah padatnya jalan, dan sampai di pemberhentian kedua, yaitu pesta perkawinan dengan tema kebudayaan Jawa Yogyakarta, atau “Ngayogyakarta Hadingrat”. Sayangnya, kami melewatkan iring-iringan pengantin menuju pelaminan, sehingga begitu kami datang, tinggal bersalam-salaman saja. Pengantin laki-laki hanya memakai sarung tanpa atasan yang dihiasi bunga-bunga, dan pengantin perempuan memakai kebaya lengkap. Lagi-lagi, perut saya merengek minta diisi, apalagi ketika melihat begitu banyaknya jajanan pasar dan makanan asli Jawa yang tersaji dengan manis di setiap sudut yang saya lihat. Begitu banyak jajanan pasar, seperti gethuk lindri, klepon, nagasari, semar mendem, dan lemper. Eits, jangan salah, lemper itu sebenarnya asli dari Jawa. Isinya bukan daging atau sayuran, tapi abon sapi. Abon itu dibuat dari otot sapi yang dimasak, dan dikeringkan, kemudian disayat-sayat, setelah itu di goreng. Saya mengambil kue berbentuk slindris yang berwarna hijau, dan ada lapisan berwarna coklat ditengahnya. Rasanya manis-manis gula jawa, dan pastinya enak. Ternyata, itu kue “putu”. Bahan dasarnya adalah ketan yang diberi warna hijau dari daun pandan atau daun suji.

Tempat pemberhentian ketiga, pesta perkawinan adat Jawa Solo atau “Surokarto Hadiningrat”. Kali ini, keluarga kami berhasil melihat tata cara perkawinan adat Jawa. Pertama, iring-iringan pengantin laki-laki dan perempuan dipertemukan oleh kedua orangtua mereka. Pengantin laki-laki memakai “beskap”. Bentuknya seperti jas yang dipadukan dengan sarung dan keris. Pengantin perempuannya memakai kebaya lengkap. Lalu, setelah dipertemukan, “Cucuk Lampah” atau penunjuk jalan, menunjukkan jalan menuju singgasana pelaminan dengan menari. Setelah itu, mereka didudukkan bersama orang tua mereka. Kemudian, kakek pengantin perempuan memberikan petuah-petuah sebagai bekal mereka menjalani hidup bersama yang menggunakan bahasa Jawa halus, layaknya sedang menghadap raja. Para tamu pun bersiap mengucapkan selamat pada kedua mempelai.

Jam menunjukkan pukul satu siang. Pantas saja perut saya sudah tidak tahan lagi menyantap makanan yang telah disediakan. Ada berbagai macam makanan Jawa yang tadi belum sempat saya nikmati. Saya mengantri di hadapan jajaran makanan nasi langgi yang kata teman saya, jagonya masakan Jawa. Menu nasi langgi adalah sambal goreng, kering kentang, tempe bacem, bihun goreng, dan dadar telor yang dirajang tipis-tipis. Rasanya agak gurih, karena nasinya dicampur santan kelapa pada saat pembuatan. Memang benar-benar jagonya masakan Jawa.

Setelah puas menikmati adat Jawa Solo dan Yogyakarta, tempat pemberhentian keempat kami adalah pesta perkawinan adat Sunda. Ternyata ada kesalahan pada penulisan undangan, jadi ketika kami datang makanan telah habis dan acara pun sudah selesai. Namun, saya sempat melihat kedua mempelai bersanding. Mempelai pria memakai baju dan celana batik sementara mempelai perempuan memakai kebaya. Kunjungan kami begitu singkat, karena kami hanya mengucapkan selamat dan pulang. Itu saja.

Tempat pemberhentian kami yang kelima, pesta perkawinan adat Minang atau adat Padang. Begitu kami datang, sudah ramai ternyata. Kedua mempelai pun telah bersanding dan sedang sibuk menyalami para tamu yang hadir. Setelah kami bersalaman, ternyata kami tak cukup berselera untuk makan. Masakan Minang terkenal pedas dan bersantan. Namun, saya menemukan krupuk yang rasanya lumayan. Namanya krupuk “opak”.Krupuk ini memakai bahan dasar tepung singkong yang dibuat tipis dan digoreng. Rasanya khas dan saya baru pertama kali mencicipinya.

Selanjutnya, pesta perkawinan adat Manado. Seusai bersalaman untuk yang kesekian kalinya, saya memperhatikan makanan yang disajikan. Kekayaan hasil laut Manado memang sangat membanggakan, namun disajikan dengan santan kental dan cukup pedas. Saya hanya menyantap buah-buahan yang disajikan. Dan keluarga kami pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Pesta terakhir yang kami kunjungi benar-benar berbeda dengan pesta-pesta sebelumnya. Pesta yang bertemakan “Pesta Bintang” ini sarat akan budaya-budaya modern. Pengantin laki-laki memakai stelan jas dan pengantin perempuan memakai gaun putih. Setelah bersalaman, perut saya meronta. Saya coba cicipi makanan yang mereka sajikan, tapi entah kenapa saya seperti tidak bisa menerima makanan mereka.

Lama berselang, saya tahu apa yang saya rasakan. Saya rindu akan kehangatan kebudayaan Indonesia. Saya ingin, sekali lagi menyantap Nasi Linggi, atau asinan Betawi. Saya menyesal melewatkan masakan Manado dan Minang. Budaya modern kelihatannya tidak cocok untuk saya. Bahkan telinga saya tidak dapat menerka musik apa yang mereka lantunkan di sana, melainkan hanya dentuman yang membuat Jantung saya bergetar. Saya merasa lebih tenang ketika mendengarkan Orkes Gambang Kromong melantunkan lagu-lagu Betawi, walaupun saya bukan orang Betawi.

Saya tahu sekarang. Saya lebih suka menghadiri acara tentang kebudayaan tanah air saya sendiri. Ternyata, makna dibalik angka 7 bagi saya, bukan hanya 7 pesta sehari semalam, tapi rasa cinta saya pada kebudayaan Indonesia.

One thought on “makna dibalik angka 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s