Aku Merindu

Bersimpuh di sisi Lautan Teduh
Menghias lembah Mendalawangi
Mengecup dinginnya embun Semeru
Pedih hati bila merindu

Engkau, menangisi asa
Semakin pilu, semakin haru
Ketika waktu bersimpuh pada singkat kata
Dekap aku, bintang
Peluk aku, bulan
Aku merindu

Kerucut-kerucut itu membayangiku
Menari-nari di depan lembab hatiku

Aku merindu, Tuhan
Ratusan kali aku bersimpuh
Bertanya pada ratusan rumput yang bergoyang
Menangisi setiap kesalahan yang selalu ku perbuat

Aku merindu, Tuhan
Kekesalan ini penuh
Memuncak, bagai petir yang menghujami langit sore
Merindu, aku kepada sesuatu
Sesuatu yang tak pantas digambar dengan pedih
Sesuatu yang tak ayal dapat membuatku berhenti mengadah
Teruap keringat membasahi peluh
Sesak di dadaku ini kuserahkan padamu
Peluh ini terus bercucur tuk merindumu

Persetan saja untuk Tuhan
Dia tak tahu rasanya merindu
Tapi ia ciptakan merindu bagaikan kerucut-keurcut
Yang membayangiku pagi-petang
Yang menghujami nadi-nadi sore hari

Aku menyerah
Rindu ku tak pernah terobati
Rindu ku tak pernah terakhiri
Rindu ku hanya seonggok rerumputan kering yang tak lagi bergoyang
Rindu ku hanya untuk mengadah peluh

Aku merindu, Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s