Sosialisasi dan Kepribadian

Di dunia, manusia adalah objek dan subjek. Manusia adalah objek dari kehidupan, sekaligus menjadi subjek dalam pengembangan kehidupan itu sendiri. Manusia menjalankan kehidupannya sebagai makhluk yang lahir berdasarkan perbuatan-perbuatan makhluk-makhluk tertentu, tetapi sekaligus mengendalikan kehidupannya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Manusia menyusun, membuat suatu kerangka dasar kehidupan, tetapi juga ikut menjalankan apa yang ia rencanakan dan merasakan hasil pengetahuannya itu. Karena ‘kegandaan profesi’ itu, manusia dapat menemukan dan mendapatkan keajaiban-keajaiban di alam serta menyusunnya menjadi beberapa disiplin ilmu yang sekaligus pula dikontrol oleh manusia-manusia lain. Dari sini, manusia mendapat berbagai macam pengetahuan yang dapat digunakan oleh dirinya untuk menjalankan sendi-sendi kehidupannya.

Salah satu disiplin ilmu yang paling berkaitan dengan analogi ini adalah disiplin ilmu sosial. Dalam kehidupan, manusia tidak bisa lepas dari manusia lain, tidak bisa lepas dari interaksi kepada manusia lain, serta tidak bisa lepas dari lingkungan sosialnya. Dalam lingkungan sosial, manusia mempunyai peranan-peranan tersendiri yang dapat melengkapi satu sama lain. Dalam lingkungan sosial, manusia juga menjadi subjek dan objek kehidupannya. Manusia melakukan interaksi sosial, menemukan pola-pola tertentu dalam interaksi itu, dan secara perlahan-lahan mengapresiasi temuannya dengan mengabstraksikan semua pola-pola itu ke dalam kehidupannya, serta secara final mengaplikasikan temuannya lewat perilaku-perilaku khusus dalam interaksi sosial berikutnya. Dan akan terus begitu, karena sampai akhir hayat manusia tidak akan pernah berhenti melakukan interaksi sosial, baik langsung maupun tidak langsung. Logikanya sederhana, manusia pasti bertemu manusia lain. Dalam suatu pertemuan pasti ada ketertarikan atau motivasi, yang mendorong manusia melakukan interaksi yang memunculkan pola-pola tertentu yang akan menambah pengetahuan sosial manusia itu.

Pengabstraksian pola-pola tertentu dalam suatu interaksi ini disebut sosialisasi. Karena dalam pengabstraksian ini, ada proses penanaman atau transfer informasi dari suatu generasi ke generasi lain dalam suatu masyarakat. Pengabstraksian ini juga meliputi proses pembelajaran, atau dalam bahasa yang lebih tinggi disebut penginternalisasian (sampai tingkat tertentu) norma-norma sosial suatu masyarakat. Sosialisasi ini secara otomatis akan mempengaruhi penilaian seseorang pada lingkungan sekitarnya, yang secara eksplisit dijelaskan oleh Charles H. Cooley melalui Konsep Diri atau ‘looking-glass self’. Looking-glass self adalah analogi ketika kita melihat cermin. Menurut Cooley, apa yang terjadi pada diri seseorang merupakan refleksi masyarakat yang ada di sekitarnya. Ketika kita berkaca, maka yang kita lihat adalah cerminan diri kita, oleh Cooley cerminan ini ditafsirkan sebagai tanggapan masyarakat yang dibentuk kepada dirinya. Looking-glass self dibentuk melalui tiga tahap. Pada tahap pertama seseorang mempunyai persepsi mengenai pandangan orang lain terhadapnya. Selanjutnya, seseorang akan menilai pandangan orang lain terhadapnya. Terakhir, ia akan mempunyai perasaan terhadap apa yang orang lain nilai tentang dirinya.

Untuk memahaminya, perhatikan contoh ini. Misalnya seseorang tengah berinteraksi dengan orang lain. Si A mempunyai persepsi bahwa si B mempunyai pandangan yang buruk terhadapnya. Lalu ia memperhatikan lagi, dan mendapatkan persepsi kedua bahwa si B mengacuhkan interaksinya. Penialian ini menghasilkan perasaan kecewa kepada si A, walaupun perasaan ini tidak secara langsung diakibatkan oleh si B, melainkan hanya persepsi serta penilaian dari suati interaksi sosial. Kejadian ini ikut disebut sebagai proses sosialisasi. Mengapa? Karena dalam proses ini, si A telah mentransfer perasaannya menjadi suatu informasi untuk membantu dirinya dalam proses interaksi-interaksi lainnya.

Lalu, apa hubungannya antara semua penjelasan ini dengan pembentukan keperibadian? Untuk menjelaskannya, pertama kita definisikan dulu arti kepribadian. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kepribadian adalah identitas abstrak diri yang terbentuk berdasarkan apa yang kita terima, kita ambil dan kita serap dalam hidup sehingga menghasilkan susunan unsur-unsur jiwa tertentu yang dapat berinteraksi dalam situasi tertentu. Artinya kepribadian yang membedakan kita dengan individu-individu lainnya, dan kepribadian juga yang menentukan interaksi kita dalam suatu situasi tertentu. Nah, sumber dari pembentukan kepribadian kita ialah apa yang kita serap, kita ambil, dan kita terima dalam hidup ini. Darimana datangnya semua sumber-sumber ini? Sumber-sumber ini di dapat dari hasil pengabstraksian pola-pola yang kita dapat dari hasil interaksi-interaksi kita kepada manusia lain. Artinya, pembentukan kepribadian seseorang berasal dari sosialisasi yang dilakukan oleh orang itu, berasal dari penginternalisasian dan pengabstraksian informasi-informasi yang kita dapat dari masyarakat dimana orang itu bernaung.

Secara teori, faktor-faktor pembentuk kepribadian bukan hanya dari sosialisasi, melainkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepribadian, yaitu warisan biologis (keturunan), lingkungan fisik (geografis), dan lingkungan sosial (budaya, pengalaman unik, dan pengalaman kelompok). Warisan biologis diturunkan melalui proses prenatal atau proses ketika berada di dalam rahim. Dari proses ini individu mendapat salinan kepribadian dasar dari kedua orangtuanya, yang kemudian diasah melalui lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik atau lingkungan geografis mengasah kepribadian seseorang menjadi siap dan mandiri atas apa yang akan terjadi pada alam dan lingkungan sekitarnya. Sementara lingkungan sosial, termasuk di dalamnya melalui sosialisasi, membantu mengenalkan seseorang tentang ragam variasi kepribadian manusia yang lebih kompleks untuk memperkaya kepribadiannya sendiri, mempersiapkan dirinya menghadapi interaksi-interaksi sosial yang mungkin terjadi ketika ia menjalankan perannya di masyarakat kelak.

Setelah penjelasan panjang ini, barulah kita dapat menjawab pertanyaan yang mendasari pembuatan makalah ini, yaitu “Apa pengaruh sosialisasi dalam pembentukan keperibadian?”. Pengaruh sosialisasi dalam pembentukan kepribadian sangat besar, karena dari soisalisasi itu seseorang individu mendapat pelajaran, informasi dan sumber-sumber pembentukan kepribaadian yang membantunya menentukan identitas diri agar dapat dibedakan dari individu-individu lain di lingkungannya. Penentuan identitas diri ini penting, karena dengan identitas yang berbeda ini seseorang akan mendapat pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Begitu juga dengan orang itu, ia akan merasa diakui di lingkungannya, sehingga menambah motivasinya untuk berinteraksi dengan orang lain. Dengan banyaknya interaksi sosial berarti peluang sosialisasi akan semakin besar, dan kemampuan seseorang untuk menjadi lebih baik lagi akan semakin besar. Ia akan mudah untuk menentukan mana perilaku atau tindakan yang sesuai dengan situasi tertentu, menentukan mana yang baik dan benar, dan kemajuan-kemajuan yang penting bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s