surat untuk langit.. (part.1)

Dear Langit..

Apa kabar Langit? Baru pertama kali semenjak raa kenal langit, raa tulis surat kayak gini. Mungkin ini pertanda kali. Tapi raa sendiri gak tahu ini pertanda apa. Semoga bukan pertanda yang buruk ya. Langit sehat kaan? Tadi Langit bilang Langit sakit, sakit apa? Langit udah cek ke dokter belum? Semoga Langit cepet sembuh ya.. Raa pingin liat Langit tersenyum lagi. Raa pingin ketemu Langit lagi.

Langit, ada sesuatu yang mau raa omongin.

Raa gatau ini apa, raa juga awalnya gak ngerti apa ini pantas buat di omongin sama Langit. Langit sekarang sibuk banget! Kemaren aja Langit ke puncak sampe tiga hari, dan baru pulang jam 11 malem. Langit pasti capek banget, sampe Langit sakit. Maaf ya raa gak bisa bantu apa-apa sama Langit. Raa gatau apa yang bisa Raa bantuin buat Langit, sementara Langit kemarin masih mau bantuin Raa padahal waktu itu Langit juga lagi mikirin hal yang lebih sulit dari apa yang mau raa omongin.

Langit terlalu baik buat Raa.

Langit, seperti Langit. Menutupi bumi, membuat keindahan dengan awannya yang berliku. Menampung air hujan yang menguap karena panasnya matahari. Menjadi alasan mengapa manusia masih hidup hingga generasi nanti.

Menjadi alasan mengapa raa sampai sekarang masih bisa bertahan.

Langit, terlalu agung. Terlalu luhur. Terlalu tinggi untuk dicita-citakan. Terlalu menarik untuk di ceritakan. Terlalu indah hanya untuk di kenang.

Tapi raa sayang sama Langit.

Entah kenapa, raa seperti baru terkena karma. Terkena kutukan. Raa gak bisa melupakan Langit mulai detik itu. Sama sekali.

Detik itu, detik ketika Langit pertama kali bilang kalo Langit sayang sama raa.

Langit bilang di kelas, dan ada pula temen Langit di situ. Oke, untungnya temen Langit gak begitu ngeh apa yang Langit bilang sama raa. Langit tersenyum, lalu menggenggam tangan raa dan menghampirkannya ke pipi langit. Langit juga merangkul raa setelah itu, dan hamper juga mau ngajak raa pulang. Walaupun besoknya kita gak bisa ketemu, dan baru lusa kita ketemu lagi, tapi genggaman Langit masih kerasa hingga berhari-hari kemudian.

Pun abis itu, Langit kembali menggenggam tangan raa. Hangat, pelan, hampir tak terasa, dalam diam. Tidak ada yang tahu, tidak ada yang mengerti. Dan kita sepertinya memang tak mau ada yang tahu. Atau mungkin mereka juga tidak mau tahu tentang Langit dan raa. Langit terus memperhatikan raa. Kembali dalam diam, unnoticed and invisible. Raa juga setengah-setengah menyadarinya, karena pada saat yang bersamaan banyak hal yang terjadi begitu cepat dalam waktu yang bersamaan. Randomly, but I nearly missed it.

Ternyata, itu kesalahan terbesar raa. Kesalahan yang menyisakan penyesalan yang pedih.

Dan semakin dalam. Semakin dalam penyesalan raa, karena semakin banyak pula kejadian-kejadian yang unnoticed sama raa. Kejadian yang justru membuat raa makin sakit, makin pedih. Sampai ternyata, Langit pun menjauh. Langit pergi.

Langit menghilang.

(bersambung..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s