menjadi pemimpin

semua orang tahu apa itu pemimpin. semua orang pernah menjadi pemimpin, setidaknya, menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan teman terdekatnya.

setiap orang selalu berusaha menjadi pemimpin. walaupun mereka tahu tanggung jawab yang berat di balik itu, pasti ada saat di mana mereka ingin memimpin dan memberi perintah bagi teman-temannya. tidak ada yang [aku rasa] mengingkari hal itu. menjadi pemimpin seperti menjadi kepala, ia menjadi koordinator bagi semua orang, ia mengatur dan mengurus semua perlengkapannya, ia menjadi otak semua rencana [baik dan buruk] yang akan di lakukan semua teman-temannya, dan menjadi energi, napas serta detak jantung bagi seluruh kejadian yang bergantung pada orang-orang yang dikoordinirnya.

lalu, bagaimana jika anda menjadi pemimpin?

ada yang senang, karena merasa bisa tinggal nyuruh-nyuruh orang-orang dibawahnya. ada yang sedih, karena merasa ribet dan banyak pikiran sehingga langsung menyerah. ada yang mengganggap itu tantangan, sehingga harus ditaklukkan. ada yang merasa biasa-biasa saja, karena merasa masih ada yang bisa membantu dan diandalkan.

seorang pemimpin, dituntut untuk berotak brilian dan cepat tanggap. dituntut untuk bisa menghandle segala tugas dan kewajiban. dituntut untuk mempunyai kesabaran tinggi dalam menghadapi semua anak buahnya. dituntut untuk mempunyai kemampuan berbicara di luar batas normal untuk melawan bahaya argumen dari kelompok lain. dituntut untuk mengetahui semua seluk beluk dunia organisasi dan segala macam tetek bengeknya. dituntut untuk bisa melobby semua patahan-patahan yang berliku. dituntut untuk bisa meluruskan jalan yang berliku dan terjal. dituntut untuk bertangan dingin, berbadan mesin dan bertulang baja. dituntut untuk PERFECTO dalam segala hal.

itulah yang terjadi pada lingkungan saya, di mana ALHAMDULILLAH nya saya ditunjuk secara [tidak] sopan untuk menjadi ketua suatu ekskul TIDAK TERKENAL dan mempunyai cukup banyak konflik internal untuk [harus] diatasi.

dan semua tuntutan PERFECTO yang saya sebutkan di atas, langsung menyergap saya satu hari setelah pergantian jabatan.

lalu, apa yang harus saya lakukan untuk menghadapi itu?

ada yang menyarankan untuk membaca artikel tentang menjadi pemimpin yang handal, atau googling tentang cara menjadi pemimpin yang baik, atau belajar dari pengalaman para pemimpin2 kaliber dunia seperti Ir. Soekarno atau Hitler.

namun saya tidak memilih semua itu.

saya merasa hanya perlu mendengarkan semua saran yang mampir pada saya. mendengarkan dan menyaring dengan saringan baik atau buruk secara umum, mencoba untuk menerapkannya sedikit demi sedikit pada aktifitas sehari-hari, dan menacapkannya dalam hati.

namun terkadang, itu tidak semudah yang saya harapkan. apalagi ketika anda tahu halangan terbesar anda adalah diri anda sendiri.

itu juga yang SEKARANG INI terjadi pada saya. halangan saya untuk menjalankan tanggung jawab ini berakar pada kompleksitas emosi dan perasaan saya sendiri, sesuatu yang entah kenapa sangat sulit saya kerjakan sejak dulu.

saya seorang tempramen akut yang tidak punya pegangan kuat. pegangan saya hanya perasaan saya yang [entah untung atau tidak] terlampau egois, sarkatis, sensitif, dan berani menjalankan segala cara jika memang diperlukan. saya akan berterus terang jika ia menyebalkan, dan saya tidak peduli akan reaksi pada akhirnya. saya berani menentang tirani jika perlu, mengumbar emosi dan melepas akal sehat hanya pada masalah kecil. tapi saya juga bisa menangis sejadi-jadinya jika ada hal yang benar-benanr mengganggu pikiran saya.

saya tidak suka dengan dua teman saya, sebut saja namanya muti dan muki. muki adalah atasan saya, sementara muti adalah pembantu saya. kompleksitas terjadi ketika saya dihadapkan pada dua pilihan: membiarkan saya terluka dengan balon pikiran tidak dianggap dan merasakan kesendirian dalam mengatur organisasi karena tidak tega pada mereka yang tengah berada pada tugas yang juga berat, atau membiarkan saya melaksanakan tanggung jawab seperti seorang kesatria dan membuat mereka merasa dilema sendiri. dan saya lebih memilih yang pertama, dengan muka kusut dan curhat colongan di mana-mana, membuat asam lambung saya naik dan tidak mempersilahkan makanan mampir ke lambung saya.

ya, saya stres dengan dilema saya sendiri.

lalu apa alasan sebenernya yang membuat saya kesal? satu, dia TIDAK bertanggung jawab atas apa yang ada di tangannya. dia hadir dalam rapat, namun hanya membiarkan saya melihatnya dan tahu-tahu lenyap ditelan dinginnya pintu gerbang. dua, mereka seperti TIDAK mengenal saya jika di luar organisasi. saya memang tidak memuja penghormatan anak buah, tapi setidaknya sedikit senyum tidak apa-apa kan? tiga, mereka menantang saya dengan muka SOK SUCI dan KEALIMAN mereka yang SANGAT TIDAK MENGENAKKAN UNTUK DILIHAT.

[itulah bukti betapa saya sungguh tempramen dan tinggi emosi.]

overall, saya tetap pemimpin mereka. saya tetap menjadi pemimpin organisasi saya. saya akan seperti ini dalam jangka waktu satu tahun ke depan. saya akan menjadi contoh adik-adik saya dalm berkehidupan di masa SMA ini. dan saya akan tetap menjadi saya, raachaan yang kesepian dan merindukan hangatnya seseorang yang benar-benar mengerti saya luar dalam. [seperti langit?]

dan saya akan tetap menulis. hanya itu yang emmbuat saya sedikit ringan melangkah.

hiks hiks..

“Cinta adalah soal seberapa kuat kita mempertahankan apa yang sudah dimulai, apa yang sudah ada, dan membuatnya tak tergoyahkan oleh waktu.”

6 thoughts on “menjadi pemimpin

  1. “…mempersilahkan makanan mampir ke lambung saya…”

    ituh nanti aku mampir deh ke lambung mu.. hehe..
    soalnya kali ajah saking sebelnya mau makan aku. *haha.. hayoo ngakuu~*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s