Generasi Lingkungan

Apa yang pertama kali terpintas ketika kita mendengar kata “Lingkungan”? Ada banyak. Ada yang langsung menjawab dengan mantap tentang lingkungan yang asri dan indah, namun ada pula yang terlebih dahulu mendefinisikan arti lingkungan itu sendiri. Lingkungan terbagi atas bebrapa kelompok besar, yang didasarkan atas tempat serta keadaan lingkungan itu sendiri. Secara garis besar, lingkungan terdiri atas lingkungan sosial-budaya dan lingkungan hidup. Setiap masing-masing kelompok besar mempunyai ciri-ciri tersendri, yang membuatnya mudah untuk dibedakan. Misalnya lingkungan sosial budaya. Lingkungan  ini dapat dicirikan sebagai suatu kondisi dimana terdapat interaksi antara individu dengan individu lain atau antara individu dengan suatu komunitas, atau bisa juga antara komunitas dengan komunitas lainnya. Akibat dari interaksi-interaksi ini dapat dirasakan oleh semua pihak, dan menyangkut berbagai macam aspek, seperti aspek psikologis dan budaya. Sementara lingkungan hidup dapat dicirikan sebagai suatu keadaan yang menyeluruh tentang kebersihan, keindahan dan kerapihan suatu daerah. Lingkungan hidup juga dapat dicirikan sebagai kumpulan komponen-komponen biotik atau makhluk hidup dan komponen abiotik atau komponen makhluk tidak hidup yang membentuk suatu keterikatan satu sama lain. Namun ada pula yang mengidentifikasikan lingkungan hidup dengan kehijauan, kesegaran alamiah dan rasa nyaman yang dapat membuat semua orang merasa aman. Pada akhirnya, banyak yang sepakat arti lingkungan secara umum lebih banyak terdapat pada definisi lingkungan hijau.

Dewasa ini banyak berkembang isu-isu mengenai lingkungan, terutama tentang lingkungan hidup yang kata orang makin rusak dan makin tak terjaga. Ini bisa dimengerti dengan mudah, sebab akhir-akhir ini kita sering melihat di mana-mana bencana terjadi. Banjir, longsor, angin puyuh dan beragam bencana lainnya satu persatu menimpa daerah-daerah di Indonesia. Konon kabarnya, bencana-bencana ini terjadi akibat rusaknya salah satu bagian terpenting dalam lingkungan hidup, yaitu hutan. Padahal kita semua tahu, hutan di Indonesia adalah salah satu yang terbesar di bumi, yang bisa menjadi paru-paru dunia kedua setelah Hutan Amazon di Brazil. Namun, melihat perkembangan pembalakan liar yang makin ke sini makin mengganas, sepertinya kita harus tahan dulu pendapat tentang paru-paru dunia itu. Menurut data-data di Internet, penurunan luas hutan di Indonesia mulai dari tahun 2000 hingga sekarang adalah salah satu penurunan luas hutan yang paling cepat. Paling tidak selama 7 tahun ini ribuan bahkan ratusan ribu hektar hutan telah hilang dimakan pembalak-pembalak liar. Tak tanggung-tanggung, kawasan hutan lindung merupakan salah satu daerah yang penurunan luas hutannya paling cepat. Padahal kawasan hutan lindung merupakan kawasan yang tak boleh terjamah pembalak-pembalak itu. Kawasan hutan lindung merupakan salah satu kawasan yang diciptakan untuk menjaga kelesatarian flora dan fauna, sebagai daerah resapan air, serta menjaga keseimbangan ekosistem di suatu daerah. Kalau hutan lindung saja merupakan salah satu yang sudah terjamah para pembalak, bagaimana keseimbangan ekosistem bisa dijaga?

Ekosistem merupakan satu kesatuan yang benar-benar tidak bisa dipisah satu sama lain. Ekosistem terdiri atas beberapa komponen abiotik dan biotik yang mempunyai tugas dan peranannya masing-masing, yang salah satunya adalah menjaga dan melestarikan alam ini. Kalau ekosistem saja sudah tak seimbang, bagaimana bisa kita melestarikan alam ini? Pikirkan, dan coba bayangkan bagaimana kalau alam ini sudah tak seimbang. Sebenarnya tanpa berpikir dan membayangkan pun ketidakseimbangan alam sudah terjadi, setidaknya sejak tahun lalu. Ketika itu bulan Maret, Jakarta diguyur hujan lebat sehari-semalam yang membuat Kali Ciliwung meluap dan menumpahruahkan airnya di pemukiman warga. Tak ayal, warga kocar-kacir mencari tempat perlindungan. Tenda-tenda pengungsi didirikan, dapur-dapur umum di bangun. Ternyata bukan hanya pemukiman warga yang terkena imbasnya, jalan-jalan umum, jalan provinsi bahkan jalan tol pun ikut terendam. Banyak fasilitas umum yang ikut terendam, Bandara Soekarno-Hatta sempat tak dapat digunakan untuk mendaratkan pesawat. Sarana transportasi lumpuh, makin menyulitkan semua orang. Hingga akhirnya Istana Negara sempat tergenang, walaupun hanya sebatas betis orang dewasa. Berbanding terbalik dengan warga yang waktu itu hanya bisa melihat atap rumahnya saja.

Waktu pun terus berjalan. Memasuki bulan September di tahun yang sama, kira-kira ketika umat Islam sedang menjalankan ibadah Puasa Ramadhan. Di daerah Jawa Tengah tanah mulai pecah-pecah. Sungai tak lagi melimpah ruah, namun kering menyisakan sedikit aliran. Air menjadi semahal emas, segemilang berlian. Orang-orang yang masih punya persediaan air menjadi orang yang terpandang. Sementara orang-orang yang kekurangan air berbondong-bondong memperdalam sumur mereka atau bahkan berjalan berkilo-kilometer untuk mendapatkan air. Menggendong beberapa jerigen dan bahkan anaknya sendiri, menyusuri hutan dan semak belukar. Kekeringan terus meluas, membuat daerah-daerah sekitarnya turut merasakan sakitnya hidup tanpa air. Pemerintah pun (akhirnya) turun tangan mengatasi keadaan, dengan mengirimkan  truk tanki air yang memuat hampir 6.000 liter. Bukannya memberi secercah harapan, truk ini justru disandera di tengah perjalanan menuju daerah yang dituju. Pengemudi dan keneknya dipaksa untuk membuka keran dan mengucurkan air untuk penghidupan mereka. Setelah beberapa lama berdiskusi akhirnya disetujui untuk mengucurkan sedikit harapan sebelum menuju ke daerah yang dituju. Kejadian ini terjadi di Maluku.

Tragis dan memilukan hati. Itulah kesan yang didapat kalau kita melihat realita di daerah-daerah di Indonesia. Namun begitulah adanya kalau ekosistem kita rusak. Ketika musim penghujan tiba, air hujan yang turun tidak dapat diserap oleh tanah dan akhirnya hanya larut bersama derita banjir. Dan  ketika musim kemarau datang, persediaan air tanah tidak ada sama sekali. Tidak terserapnya air hujan oleh tanah disebabkan karena sudah tidak ada lagi tanah yang bebas untuk daerah resapan air. Semua tanah dialihfungsikan sebagai lahan pemukiman dan perkantoran. Tak hanya itu, penurunan luas hutan juga ikut mempengaruhi larutnya air hujan mengalir ke laut begitu saja. Hutan dapat berfungsi sebagai perantara masuknya air ke tanah. Kalau hutan tidak ada, berarti air tidak bisa masuk ke tanah. Bisa ditarik kesimpulan, walaupun hujan turun lebat sekali persediaan air tanah tidak akan bertambah. Padahal hampir sebagian penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya dengan air tanah. Justru air tanah terus digerus, namun persediaanya tak pernah bertambah. Kejadian disanderanya truk tanki air seharusnya menjadi cerminan betapa pengelolaan air di Indonesia begitu buruk. Daerah resapan air dengan mudahnya dialihfungsikan, sementara hutan terus-menerus dibabat habis-habisan hanya untuk kepentingan sebagian orang (atau bahkan kepentingan negara sahabat kita sendiri).

Di setiap diskusi tentang isu-isu lingkungan selalu ada pertanyaan, bagaimana caranya kita memperbaiki itu semua? Sebagian orang berpendapat bahwa kerusakan lingkungan di Indonesia sudah mencapai taraf mengkhawatirkan, dimana hampir separuh pelindung keseimbangan alam Indonesia sudah rusak oleh tangan-tangan kotor yang tidak manusiawi. Namun, diantaranya ada pula yang berpendapat kerusakan alam Indonesia masih dapat ditanggulangi. Tentunya dengan suatu sistem yang menyeluruh, dan menyebar di berbagai titik kerusakan alam. Tidak hanya penanggulangan, penyuluhan pun penting dilakukan terutama di area pemukiman pinggir hutan, bahwa area hutan itu penting adanya. Untuk itu diperlukan adanya satu tim nasional atau suatu badan kerja yang dapat merancang, membangun dan melaksanakan sistem pengendalian lingkungan nasional yang terencana dan tepat sasaran. Sebenarnya pemerintah sendiri telah membuat perencanaan yang cukup untuk mengembalikan keseimbangan alam, misalnya sistem tebang pilih, reboisasi hutan, gerakan 1000 pohon dan klasifikasi hutan yang ternyata pada akhirnya hanya menjadi hembusan angin segar sesaat.

Kita, sebagai masyarakat yang (sebenarnya) paling banyak terkena imbas pencemaran lingkungan seharusnya sadar, kalau pencemaran lingkungan ini tidak ditanggulangi secara cepat, makin banyak lagi bencana, dan makin banyak pula penderitaan yang kita rasakan. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mengembalikan ketidakseimbangan ini? Memang, sebenarnya kita bisa saja melimpahkan tanggung jawab ini kepada instansi atau lembaga-lembaga yang bernaung di atas kita, namun adalah lebih baik kalau kita sendiri yang sadari, lalu memulainya dari lingkungan kita sendiri, dari tempat bermukim kita. Hasilnya dapat segera kita rasakan, dan lebih nyata dibandingkan kalau pemerintah yang mengerjakan. Penanggulangan pencemaran lingkungan secara gotong royong, tepat, dan menyeluruh tak hanya berdampak pada lingkungan hidup, tapi juga bisa berdampak pada lingkungan sosial, seperti membaiknya interaksi antar individu, mempererat tali silaturahmi, dan lainnya.

Salah satu bagian dari masyarakat yang sebenarnya dapat juga berperan penting dalam penanggulangan pencemaran lingkungan adalah para pelajar ataupun generasi muda yang kelak nantinya dapat memajukan bangsa ini. Apa yang dapat mereka lakukan? Sebenarnya banyak sekali yang bisa mereka lakukan. Dengar dasar kodrat seorang pelajar adalah belajar, maka kita bisa membentuk suatu pembelajaran untuk menanamkan pada generasi muda untuk belajar menanggulangi pencemaran lingkungan. Apalagi dewasa ini banyak bermunculan sekolah-sekolah berlandaskan kurikulum alam atau yang lebih dikenal dengan nama sekolah alam. Dari sekolah alam ini, para generasi muda dapat belajar mengembangkan kesadaran dan pikiran mereka untuk membantu pemerintah, sekali lagi untuk menanggulangi pencemaran lingkungan yang semakin menggila. Tak hanya di sekolah alam, sebenarnya di sekolah-sekolah yang sudah ada juga dapat dibentuk suatu pembelajaran yang berdasarkan lingkungan, namun dengan semua kenyataan yang ada, sepertinya lumayan susah untuk mengembangkan ide ini. Ini disebabkan karena peraturan pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya mencukupi untuk menampung ide-ide pendidikan. Pun kalau terlalu dititikberatkan pada sekolah alam, masalah keterbatasan sekolah alam dan kurangnya tenaga pendidik yang dapat meningkatkan kesadaran para muridnya tentang berlingkungan yang baik masih menjadi kendala.

Kalaupun ternyata kita tak bisa meningkatkan jumlah sekolah alam di Indonesia, kita juga bisa memanfaatkan apa yang sudah ada. Misalnya lebih mengembangkan program lubang-lubang biopori di sekitar kita. Sekarang ini sudah jelas terbukti keampuhan lubang-lubang kecil itu mengatasi banjir di Jakarta. Kita bisa membuat pengajaran mengenai lubang-lubang biopori di sekolah-sekolah, atau justru mengajak para siswa untuk membuat lubang-lubang biopori bersama-sama. Dengan ini, para siswa dapat merasakan manfaat dari menjaga alam yang ia tinggali. Atau mungkin bisa dimulai dengan kampanye lingkungan yang mengikutsertakan anak-anak untuk mengenal dan mengetahui apa sebenarnya permasalahan lingkungan dan apa itu global warming. Walaupun global warming bukan lagi sesuatu yang awam di masyarakat, tapi masih belum ada penjelasan yang jelas mengenai hal tersebut. Kampanye lingkungan ini bisa dimulai dari sekolah-sekolah, dan dikaitkan langsung dengan kurikulum di sekolah yang bersangkutan. Para siswa didampingi gurunya dapat mengenal, mempelajari dan mengaplikasikan langsug pembelajaran dari kampanye tersebut, namun tetap dalam kerangka kurikulum yang sesuai, sehingga program ini dapat berlangsung secara terus-menerus dan konsisten.

Ada begitu banyak cara untuk mengajak anak-anak mencintai lingkungan. Sayangnya belum ada kesadaran dari pemerintah, atau bahkan lembaga-lembaga lingkungan untuk ikut menggalakan anak-anak sebagai generasi muda. Siapa tahu nantinya kita dapat mengembangkan program kampanye penanggulangan pencemaran lingkungan bertajuk “Generasi Lingkungan”, di mana semua programnya dilaksanakan oleh generasi muda, termasuk anak-anak. Generasi muda hakikatnya adalah penerus bangsa, yang seharusnya lebih banyak dilibatkan dalam persoalan bangsa. Apa jadinya kalau generasi bangsa tidak tahu-menahu tentang persoalan bangsanya sendiri? Lalu mau ditaruh di mana martabat bangsa kita? Generasi muda selalu dikaitkan dengan proses belajar mengajar yang bertumpu pada kurikulum sekolah dan mengikuti test-test yang menjemukan. Atau mungkin generasi muda adalah anak bawang yang hanya perlu mengetahui, bukan terlibat langsung dalam suatu masalah negaranya. Bukti bahwa generasi muda dilibatkan dalam masalah negaranya masih cenderung nihil. Mengapa itu bisa terjadi? Padahal, sekali lagi, generasi muda adalah generasi yang nantinya memimpin bangsa kita. Bangsa yang besar ini. Bangsa kita tercinta ini.

Kita dapat menyimpulkan, begitu banyak yang dapat kita lakukan untuk mengembalikan keceriaan alam kita. Tak hanya pemerintah, bahkan generasi muda yang kelihatannya kurang tanggap pun dapat juga ditingkatkan kesadarannya melalui program pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah. Kalau semua program ini dapat dijalankan dengan baik, mungkin pencemaran lingkungan tak akan membahayakan ibu pertiwi kita.

Rosari Prabawati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s