In Memoriam of Soe Hok Gie

In Memoriam of Soe Hok Gie

40 Tahun Kematian

Di penghujung tahun 1969, tepatnya tanggal 16 Desember, terdengar kabar, dua pendaki asal Jakarta tewas mengenaskan karena terjebak gas beracun. Konon, mereka adalah Drs. Soe Hok Gie dan Idan Lubis. Mereka tewas di sekitar kawah Gunung Semeru, Jawa Timur. Tim peneyelamat tidak berhasil menyelamtkan mereka, dan hanya berputar-putar diatas gunung menggunakan Helikopter. Akhirnya, tanggal 24 Desember 1969 mereka diturunkan oleh penduduk secara berantai oleh masyarakat. Dari sana, dibawa oleh truk ke Universitas Indonesia, rumah kedua mereka. Satu-satunya saksi yang ada ialah Herman O. Lantang. Dari dia dapat dilakukan rekonstruksi detik-detik mengenaskan itu.

Tragedi anak manusia. Itulah yang dapat dikisahkan pada tanggal tersebut. Drs. Soe Hok Gie, yang selanjutnya akan kita panggil Soe Hok Gie, meninggal dengan tanpa terduga-duga oleh para kawan karibnya. Seorang yang sangat dirindukan oleh masyarakat waktu itu. Jujur, idealis, penuh ide, puitis dan terkadang cenderung skeptis. Sangat meninggalkan bekas yang dalam bagi kita. Mati muda, tepatnya pada umur 27 tahun, itulah yang ia inginkan. Tujuanya ingin merayakan ulang tahunya di atas gunung itu malah menjebaknya dengan gas beracun. Ia berulang tahun tanggal 17 Desember, sehari setelah kematianya. Sungguh mengenaskan.

Tahun ini, adalah peringatan ke-36 tahun ketiadaanya. Seandaikan ia masih hidup, esok adalah hari ulang tahun yang ke 63. Sungguh angka yang manis sekali. Namun, bila kita ingin menjenguknya di peristirahatan terakhir pun tak bisa. Jasadnya telah dibakar, dan abunya di buang ke Gunung Pangrango, Jawa Barat. Kita hanya bisa menerus – kan cita-citanya dengan membetulkan pemerintah. Apalagi yang harus kita perbuat?

Dia bukan pahlawan, pejuang, maupun pejabat pemerintahan. Hanya salah satu dosen di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kerjanya hanya mengajar, diskusi tentang pemerintah, mengelola Radio UI, dan menulis artikel pemerintah di Surat Kabar. Tak  ada artinya bagi kita sekarang ini. Tapi marilah sejenak kita buka dan baca artikel karanganya. Membela kebenaran dan kemanusiaan. Pencetus unjuk rasa mahasiswa UI untuk memprotes kebijakan pemerintah, sama seperti sekarang. Pemuda berperawakan kecil ini sangat senang dengan membaca dan nonton film. Bukan sembarang film yang ia tonton. Film kemanusiaan, perang, dan kekuasaan. Setelah menonton, biasanya langsung didiskusikan. Apa arti semua pengorbanan ini? Kemanusiaan yang harganya mahal.

Dia sangat idealis. Semua yang menurutnya tidak pantas pun akan ia lawan. Tapi ia tak mau disebut radikal. Ia hanya ingin agar orang-orang merasakan betapa perihnya hidup menderita. Bakat tulisnya ia dapat dari ayahnya. Ayahnya ialah penulis yang terkenal. Diskriminasi yang ia terima sebagai keturunan Tionghoa tidak menyurutkan semangat ke-Indonesia-an nya. Nama bukanlah sebuah masalah, tapi rasa dan tindak tanduk seorang Indonesia yang menjadi tolak ukur keIndonesiaanya. Sebenarnya, ia sangat ingin mengganti namanya. Namun karena sulitnya prakara tersebut, diurungkanlah niatnya itu.

Dia bukan pejuang bambu runcing, maupun pejuang 45an. Ia adalah pejuang kertas yang meneruskan pembangunan. Mengenyam pendidikan pertama di Sin Hwa School, dan meneruskan ke SMP Strada. Dari SMP melanjutkan ke SMA Kanisius dan melanjutkan lagi ke FSUI atau Fakultas Sastra Universitas Indonesia sebagai mahasiswa Sejarah. Tamat dan menjadi dosen untuk fakultas yang sama. Ia adalah seorang cendekiawan ulung yang terpikat pada ide, pemikiran, dan terus menerus menggunakan akal pikiranya untuk mengembangkan dan menyajikan ide yang menarik perhatianya. Kecaman yang ia lakukan sepenuhnya adalah sajian pemikiran dari topik yang ia dengar. Seorang yang benar-benar memutar otak untuk menyajikan semua dengan hakekat kemanusiaan.

Walaupun begitu, tak semua yang ia lakukan lurus dan lancar. Kadang ia menerima surat kaleng berisi kecaman dan hinaan baginya. Tapi, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima dan terus berjuang. Menggulingkan pemerintahan yang korup dan mengangkat pemerintahan yang lebih bersih. Jatuhnya Orla pada tahun 1958 adalah salah satu keinginanya. Tapi apakah itu berhasil? Ya, zaman tiada berubah dengan naiknya Jenderal Soeharto sebagai presiden. “Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Mula-mula, dia membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang bersih. Tapi sesudah pemerintah itu berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan.”

Sendirian, kesepian, penderitaan. Tiga hal itu selalu yang menghantui seorang Soe Hok Gie. Hingga akhirnya ia menulis buku catatan harian, untuk menentang semua yang tidak tepat. Catatan harian yang kini dibukukan dan bahkan diangkat ke layar lebar ini, begitu laris dan sukses. Seolah semua orang ingin tahu apa yang sebenarnya ia utarakan dari dulu. Begitu getol dan senang hati para pembaca melihat buku itu. Memang, pengangkatan buku catatan harian menjadi sebuah buku adalah barang yang langka di Indonesia. LP3ES yang menjadi media pembukuan buku catatan harian Soe Hok Gie ini, baru dapat menerbitkan setelah penantian yang sangat panjang. Cetakan ke-8 yang diterbitkan Juni 2005 ini, adalah sebuah rasa keharusan untuk memekarkan nama Soe Hok Gie ke mata awam. Tepatnya, ke generasi muda nyaris buta tentang aktivis tahun ’66 ini. Ya, memang hanya itu yang bisa kita lakukan untuk mengenangmu.

Kami merindukanmu Soe.

5 thoughts on “In Memoriam of Soe Hok Gie

  1. GIE…adalah sosok orang yg penuh dedikasi baik pada rakyat kecil jaman itu maupun alam,pergolakan sosial politik yg membuatnya terus berjuang dengan caranya walaupun jiwa mengancamnya I love GIE…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s