memo for my friend

hidup itu sulit.

terkadang apa yang kita inginkan gak bisa semuanya gampang terwujud. terlalu banyak benturan, bahkan kadang diantara kita sendiri. ada yang gga bisa menahan emosinya, atau yang mati-matian cuek setengah mati biar ga ikutan kena masalah. atau justru bikin suram biar banyak masalah. itu semua sebenernya tergantung dari kita. apakah kita bisa meliaht situasi dengan kepala dingin, atau hati yang panas. apakah kita akan tetap maju dengan berbagai macam sindiran yang berat itu, atau kita mundur dan menyerahkannya pada orang lain.

gue akan prefer maju. mau gak mau, apa yang sudah dibebankan pada kita memang menjadi tanggung jawab kita. jika kita menyerahkan semuanya, sebenernya kita cuman menyia-nyiakan kesempatan untuk jadi lebih baik. dari segala masalah itu pasti ada sesuatu yang indah kok.

gue udah ngerasain semuanya. ngerasain dimusuhin, ngerasain dielu-elukan, ngerasain kena damprat, ngerasain nangis di depan podium, ngerasain dibebankan tugas begitu banyak. ngerasain ditinggal orang-orang kepercayaan kita, dan gue gamau orang harus merasakan itu lagi. itulah sebabnya kenapa gue peduli.

rahmat, gue juga emosi kok waktu lo dilecehkan begitu saja. gue juga sedih waktu lo jadi panas dan emosi. gue membela lo, dan membiarkan gue jadi bulan-bulanan hani sama vanessa yang kecewa dengan lo. gue rela dan bermaksud mengkomunikasikan itu buat lo. tapi ternyata gue hampir membuat masalah baru, gue harap masalahnya gak bakal kemana-mana (walupun gue sangat pesimis denga kata-kata gue barusan), tapi gue berusaha maju demi masalah itu (yang notabenenya agak gue buat sendiri).

tapi ternyata lo mengecewakan gue. lo ngelecehin gue. gue sempat merasa “oh, ini yang anak-anak rasain ketika mereka menganggap lo melecehkan mereka”. gue sempet mau cuek dan gak peduli sama lo. tapi semakin gue pikir, akan semakin terasa sakit hati lo dilecehkan “balik” ama mereka. ternyata gue gak bisa. dan buktinya, gue mengalahkan prinsip gue dengan kembai berlapang dada menerima kenyataan. sakit hati gue pun gue telen dalem-dalem.

tapi, barusan lo minta maaf. dengan mengakui lo salah dan lo emosi. gue sangat terhibur, dan akhirnya sakit itu terobati. dan lo bercerita, kepedihan lo satu satu gue baca. gue sedih, dan gue yakin gue gak bisa berbuat terlalu banyak. lo itu keras, dan gue gak bisa memecahkan itu. gue masih harus belajar memahami lo, dan memahami gue sendiri untuk berusaha memecahkan masalah ini. gue gak yakin apa kita bisa, atau apa kabar besok ketika di sekolah. terlalu sulit untuk dibayangkan.

tapi gue kecewa ketika lo harus memilih untuk menyerah. gue gak mau lo menyerah. gue tahu mungkin ini berat. tapi gue gak mau lo nyerah. lo adalah figur yang pantas jadi pemimmpin! gue tahu itu. lo berpengalaman, dan gue percaya karena gue memilih lo. gue gak mau lo mengecewakan gue lagi. gue berharap lo gak mengecewakan gue lagi.

dan diakhir sms itu lo tersenyum. gue gatau, apa mungkin pesan ini bener-bener nyampe ke elo apa ngga. dan sekarang gue gatahu harus bales apa. perasaan gue campur aduk. apa gue harus nangis, atau justru bangga sama lo yang akhirnya kembali. tapi lo (harus) tahu, gue bukan tipe yang gampang semangat ketika jatuh. gue tahu malem ini gue akan bermuram durja, tapi setidaknya senyum itu akan mempengaruhi gue. setidaknya malem ini gue gak akan nangis konyol. setidaknya lo memberikan sesuatu buat gue untuk menyemangati gue.

jangan pernah menyerah, rachmat hidayatullah.

10:44 PM 8/5/2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s