Kehilangan

Jadiiiii, gue itu seneng banget bikin cerita. Kebanyakan ceritanya adalah jenis cerita panjang yang konfliknya gak selesai di satu waktu. Tapi, lebih sering lagi gue gagal menyelesaikan cerita itu. Kayak cerita yang ini, sebenernya pas diketik bisa nyampe 11 halaman, dan ini bahkan belum masuk inti ceritanya. Berhubung gue bosen, jadilah tulisan sepotong ini gue publish. Selamat membaca!


“Duit gue ilang!!” teriak Rani.
“Hah?”
“Duit gue ilang!!”
“Serius lo?” ucap Sella.
“Beneran!! Tadi gue taruh di sini!!”
“Berapa?”
“Lima puluh ribu.”
“Mak!! Banyak banget!!”
“Bantuin gue cari yuk…”
Mereka berdua pun terlihat sangat sibuk. Menggeledah kolong, tas, tempat pensil, dompet, di mana pun yang kelihatannya strategis untuk menyimpan uang.
“Kenapa?” Tanya Satrya yang baru datang.
“Duit dia ilang.” Ucap Sella.
“Sapa?
“Rani. Duitnya ilang lima puluh ribu.”
“Beneran, Ran?” ucap Satrya sambil menghampiri sang korban.
“He-eh.”
“Kayaknya kelas kita mulai bahaya deh.”
“Bilang ke Risa ma Bu Shinta, yuk.”

* * *

“Sudah berapa orang yang kehilangan uangnya?” Tanya Bu Shinta, wali kelas mereka.
“Cukup banyak, Bu.” Jawab sang pengurus kelas, Risa.
“Berapa banyak?”
“Ada 3 orang, Rani, Firza, dan Ahmad. Rani kehilangan uang lima puluh ribu, Ahmad kehilangan dua puluh ribu dan Firza kehilangan hape N.70 miliknya.”
“Firza? Hape? Kalau begitu tolong panggil anaknya ke sini.”
“Baik, Bu.”
Risa pun bangkit dari kursinya dan menuju ke kelas. Dari luar terlihat beberapa anak menggerombol, berbisik-bisik di luar kelas.
“Eh, ngobrolnya jangan di luar dong! Di kelas aja, ntar ketahuan guru loh.”
Semua pun bangkit, masuk ke kelas dan membuat gerombolan baru di sudut kelas. Sementara Risa maju ke depan kelas, menuliskan sesuatu.
“Ada tugas lagi?”
Risa menoleh. Berdiri di sampingnya, Adri.
“Ada. Bahasa Indonesia gurunya lagi penataran.”
“Oh… Trus, yang tadi diomongin Bu Shinta apa aja?”
“Masalah klepto.”
“Apa kata Bu Shinta?”
Risa selesai menulis pengumuman dan berbalik menghadapi Adri.
“Yang jelas, gue disuruh manggil Firza. Trus lo mau nanya apa lagi?”
Senyum menghiasi wajah Adri.
“Kok lo galak sih semenjak jadi pengurus kelas?”
“Galak?”
“He-eh. Pusing ya jadi pengurus kelas?”
“Nah, lo tahu.”
Risa meninggalkan Adri dan berganti menghampiri Firza.
“Firza, lo dipanggil Bu Shinta.”
Ia mengangguk dan bergerak menuju ke ruang guru.
“Ris, tugas?” Tanya Satrya sambil menunjuk papan tulis.
Risa mengangguk dan duduk di mejanya sendiri. Menghela napas beberapa kali, ia mengambil buku Bahasa Indonesia dan mulai menulis.

* * *

“Risa!! Risa!! Risa!!”
“Hm…”
“Risa, bangun!!”
“Apa sih, Rani?”
“Ada yang kehilangan lagi!!”
Mata yang terpejam itu tersentak. Sambil membetulkan letak kacamatanya, Risa berlari menuju Adri, sang korban.
“Berapa?”
“Lima puluh ribu.”
Jantung Risa sejenak berhenti berdetak.
“Udah di cari?”
“Udah.”
“Udah di mana-mana?”
“Udah.”
Mendadak pikiran Risa menjadi semrawut. Ia makin bingung. Sebelum menjadi pengurus kelas, belum pernah ada cerita kehilangan seperti ini. Ia juga bingung kenapa baru marak ketika ia menjadi pengurus kelas. Apa gara-gara ada yang sirik sama dia? Tapi kenapa harus lewat orang-orang yang dekat dengannya? Rani… Ahmad… Firza… Dan sekarang Adri. Kenapa harus mereka?
“Risa?” Tanya Rani.
“Eh… Iya?”
“Kita tetep ada pelajaran Komputer kan?”
“Iya lah. Udah, semua pada ke ruang Komputer sekarang.”
Hampir semua anak kini meninggalkan kelas.
“Adri?” ucap Risa persis ketika Adri berada di sampingnya.
“Ya?”
“Duitnya kamu taruh di dompet?”
“Nggak. Di kolong.”
“Di kolong meja?”
“Iya.”
Risa sudah tak bisa lagi memarahinya karena hal itu. Pasti sudah banyak orang yang komplain masalah itu ke dia. Wajahnya yang seputih kertas telah menyiratkan hal itu.
Di tengah perjalanan menuju Ruang Komputer, sayup-sayup terdengar sekelumit pembicaraan anak-anak yang berjalan di depan Risa.
“Siapa ya kira-kira di kelas kita yang jadi klepto?” tanya Satrya.
“Auk.” Ucap Jelita.
“Tapi, kenapa ya kleptonya muncul pas Risa jadi ketua kelas?”
“Kleptonya sebel sama Risa.” Celetuk Reza.
“Tau darimana lo?” Tanya Satrya.
“Ng… Feeling?”
“Masih jaman hari gini pake feeling?” sindir Jelita.
“Yaa… Siapa tau?”
“Trus… Menurut feeling lo, siapa kleptonya?” Tanya Jelita lagi.
Reza terdiam. Begitu juga Satrya.
“Za, gimana?”
Dari belakang, Reza terlihat sedikit gelisah.
“Oi!! Gimana? Ditanya kok malah celingak-celinguk?”
“Ng… Kayaknya feeling gue belum nyampe tuh… Gue duluan ya!!” ucap Reza ala kadarnya. Setelah itu ia berlari meninggalkan mereka.
“Eh, Za!! Reza!! Tunggu!!” kejar Satrya.
Kini di depan Risa, tinggalah Jelita berjalan sendirian menaiki undakan tangga. Risa berpikir untuk menghampirinya. Namun, diurungkan niatnya itu karena mendadak muncul Firza.
“Jelita, lo dicariin Sella tuh.”
“Oh, OK. Thanks ya.”
Jelita pun berlari menuju Ruang Komputer yang sebenarnya letaknya tidak seberapa jauh lagi dari tempat Risa berdiri sekarang.

* * *

Pelajaran Olahraga sudah selesai dari lima belas menit yang lalu, namun lapangan olahraga masih seramai ketika masih pelajarannya. Anak-anak masih terus berlarian, kejar mengejar dan saling berteriak satu sama lain. Di pinggir lapangan, duduk sang pengurus kelas yang telah bermandikan peluh. Namun, sinaran wajahnya masih seriang ketika bermain tadi. Tak lama, akhirnya semua orang bubar dan berlarian menuju kantin. Namun, Risa masih belum bergeming dari tempatnya. Ia justru memilin-milin sapu tangannya sambil terus tersenyum, seakan baru saja menonton film komedi.
“Gak jajan?” ucap Adri sambil menghampiri dan duduk di samping Risa.
“Bawa minum kok.”
“Oh…”
Sejenak keheningan membalut mereka.
“Gimana rasanya jadi pengurus kelas?” Tanya Adri memecahkan hening.
“Ada enak, ada enggaknya.”
“Enaknya?”
“Bisa jalan-jalan kalo lagi bosen.”
Senyum menghiasi keduanya.
“Nggak enaknya?”
“Musti jadi bahan omelan ma guru-guru kalo ada yang ngawur.”
Tawa renyah berhamburan.
“Akhir – akhir ini lo makin jauh ma kita-kita. Kenapa?” Tanya Adri lagi.
“Gue cuman gak mau kalian jadi korban orang yang sirik ma gue.”
“Maksud lo?”
“Orang yang nagmbil duit kalian adalah orang yang sirik ma gue. Buktinya, dia cuman ngincer kalian-kalian yang deket ma gue. Satrya ma Jelita udah kena juga, kan? Pasti makin banyak korban berjatuhan gara-gara gue…”
“Lo berpikir kayak gitu?”
“Abis?”
“Gak semuanya yang lo pikir itu bener, Ris. Kata Firza, Bu Shinta udah manggil orang pinter buat ngasih tahu siapa yang jadi klepto. Dan itu semua bukan gara – gara lo. Everything happens because of drugs.”
“Drugs?”
“Kata Firza, Bu Shinta emang ga ngasih tahu secara terperinci siapa, tapi siapapun dia, he’s a drugster. Dan dia ngambil duit kita buat…”
“Bentar… He? Dia cowok?”
Adri mengangguk.
“Dan dia ngambil duit kita buat beli ‘barang itu’.” Ucap Adri.

* * *

Semester 1 perlahan-lahan bergerak. Dan, tiba saatnya ulangan semester akhir. Tapi anehnya, ke-kurang-kerjaan si Klepto berangsur-angsur berkurang. Ujian semester pun berjalan dengan mulus dan tanpa hambatan berarti. Namun, bukan berarti si klepto menghilang, karena pada awal masuk minggu tenang, ada lagi yang merasa kehilangan. Walaupun mereka mengaku sudah meningkatkan kewaspadaan, namun tetap saja jatuh korban. Terutama, pada saat-saat banyak jam kosong seperti ini. Untuk mencegah terjadinya kehilangan yang lain, Risa memutuskan untuk lebih meningkatkan frekuensi kunjungan ke kelas sementara yang lain sedang asyik bermain di ajang class-meeting yang memang rutin dilaksanakan pada setiap minggu tenang. Termasuk pada hari ke 3 class-meeting yang sudah memasuki ajang Final. Entah beruntung atau tidak, namun semua kegiatan yang dilaksanakan lokasinya tidak jauh dari kelasnya yang memang langsung berhadapan dengan lapangan.
“Ris, lo mau ke kelas, kan? Kayak biasa?” Tanya Jelita.
“Iya. Emang kenapa?”
“Ikut donk… Gue mau ngambil HP.”
“Lo tinggal di kelas, HP nya?”
“Hehe… Sorry, Ris… Gue lupa tadi…”
“Ah! Gila lo! Ya udah, ayo buru!”
Mereka pun bergegas kembali ke kelas. Setelah bebrapa menit sayup-sayup terdengar suara peluit ditiup tanda permainan akan dilaksanakan.
“Jeli!! Buru!! Udah mau mulai!!”
“Iye…”
Dua cewek itu pun lari terbirit-birit untuk menyaksikannya. Peluit panjang tanda lomba mulai dilaksanakan berbunyi, dan mereka mendekati garis pinggir lapangan agar dapat bisa menonton dengan jelas. Dalam lomba futsal kali ini, yang bertanding adalah kelasnya melawan kelas yang lebih muda dari mereka. Salah satu anggota OSIS yang berpura-pura menjadi komentator memainkan perannya dengan baik, membumbui komentar dengan lelucon yang kadang-kadang bukan cuman bikin penonton yang ketawa. Bahkan, guru-guru pun bisa jumpalitan gara-gara nggak bisa nahan tawa!!
Babak pertama pun berakhir dengan skor seimbang 2-2. Momen waktu istirahat digunakan Risa untuk kembali ke kelas melaksanakan pengecekan rutin sambil menemani manajer team mengambilkan minuman untuk anggota tim. Setelah pengecekan selesai dan manajer team sudah membawa tray minuman, mereka kembali ke lapangan. Sampai di sana, para pemain sedang duduk bersantai sambil membicarakan strategi selanjutnya bersama.
“Gimana penampilan gue?” ucap Satrya ketika Risa membagikan minuman kepada para pemain.
“Hm… Gimana ya?” ucap Risa.
“Keren kan?”
“Lumayan lah.”
“Kok cuman lumayan, sih!!”
“Mending daripada gue bilang biasa-biasa aja!!”
“Masih untung lo…” celetuk Adri.
“Nah, kalo Adri gimana menurut lo?” Tanya Satrya.
“Hm… Gimana ya?” ucap Risa.
“Dri, lo mending gemukin badan deh!!” ucap Jelita tiba-tiba.
“Kenapa?” Tanya Adri.
“Abis, digocek dikit masa’ langsung jatuh sih? Ntar kalo tiba-tiba ada angin kenceng gimana? Sekarang kan lagi musim-musimnya angin puting beliung. Terbang lo ntar!!” sindir Jelita.
“Emang gue seringan itu ya?” ucap Adri, sedih.
“Hmph… Sepertinya, lo harus menerima keadaan, Dri.” Sindir Risa.
“Ah!! Lo pada kejam ama gua!!” ucap Adri sambil berdiri.
“Oi, becanda!! Jangan ngambekan gitu donk.” Ucap Risa sambil menarik tangan Adri.
Sejenak ada jeda antara tawa mereka. Mata mereka berpaut, lama. Tangan yang saling menggenggam itu tergantung di udara tak semestinya. Ada semilir angin aneh mengalir diantara Adri dan Risa. Tapi, semilir angin itu berakhir dengan bunyi peluit tanda pertandingan akan dilaksanakan. Tangan yang tergantung itu pun berakhir selayaknya tatapan mata itu tak bertemu lagi.
“Sorry…” ucap Risa, ketegangan begitu kentara disuaranya.
Adri tak menyahut permintaan maaf itu. Ia berbalik dan berjalan bersama pemain lainnya menuju ke lapangan. Tapi, sejenak kemudian, Adri menoleh. Mencari sepasang mata yang tadi bertemu lama, namun tak ditemukannya. Menghela napas, Adri pun bersiap untuk bertanding lagi.
Semilir angin aneh yang menerpa Risa ketika bersama Adri makin menjadi-jadi, apalagi setiap Adri dan Risa hanya berdua saja atau ketika mata mereka bertemu. Sementara masalah klepto, di minggu-minggu ini justru makin menjadi-jadi. Ditambah lagi, hari ini mood Risa lagi jelek-jeleknya. Gara-garanya, Reza dan Satrya jadi makin sering main tebak-tebakkan siapa Klepto di kelasnya. Dan Reza selalu menyindir Risa yang dianggapnya tidak becus mengurus kelas. Reza dulu memang mantan ketua kelas, sebelum teman-temannya meminta ia mengundurkan diri karena kelas malah tambah ancur gara-gara dia. Kalau Reza dendam sama Risa, sebenarnya tidak apa-apa. Namun perlakuannya yang menghujat Risa di depan kelas menyebabkan mood Risa bener-bener ngedrop. Berkali-kali Risa melirik meja tempat Adri dan Firza sedang berbincang-bincang, namun kelihatannya mereka sedang memperbincangkan sesuatu yang benar-benar seru, sampai-sampai mereka hampir tidak mempedulikan apa yang terjadi disekitarnya. Melihat ini semua, Risa makin merasa kesepian.
Namun, teronggok sendirian di depan kelas ternyata justru memberikan Risa waktu untuk berpikir. Kenapa sekarang ia lebih memikirkan Adri dibanding yang lain? Kenapa sekarang ia selalu menginginkan Adri ada disampingnya? Kenapa Adri hampir selalu ada di setiap mimpinya, setiap malam? Semilir angin aneh itukah penyebabnya? Kalau begitu, semilir aneh macam apa yang selalu menyelimutinya? Kenapa harus dia dan Adri? Begitu banyak pertanyaan yang entah apa jawabannya. Dan pertanyaan-pertanyaan itu selalu membayangi kehidupan Risa. Memang, semester 1 tinggal menghitung hari untuk berganti menjadi liburan. Namun, kalau ia menemukan jawabannya sebelum liburan mulai, ia akan senang sekali.

* * *

Pagi ini, seperti biasa Risa melakukan checking-checking rutin dengan nilainya yang sebentar lagi akan keluar dalam bentuk rapot. Melakukan beberapa pertemuan dengan guru-guru penting, hampir saja ia melupakan tugas-tugasnya sebagai Ketua Kelas, sebelum akhirnya diingatkan oleh Adri yang secara tak sengaja bertemu di koridor menuju ke kelas.
“Oi. Sibuk aja dari tadi.” Celetuknya.
“Eh… Adri… Ya ampun!! Gue lupa nge-check ke kelas!!”
“Gak ada orang di kelas.”
“Suer lo?”
“Iya… Barusan gue dari kelas ngambil rapot.”
“Lo blum ngumpulin rapot?”
“Ini…” ucapnya sambil mennunjukkan buku biru itu.
“Eh, ngumpulinnya bareng dong!! Tungguin gue di situ, gue ambil rapot gue dulu.”
“Jadi lo juga belum ngumpulin? Ah, gue pikir tinggal gue doang.”
“Iya… Makanya tungguin gue ya!!”
Risa pun berlari menuju kelasnya yang tak seberapa jauh dari tempat Adri berdiri kini. Pintu kecoklatan itu berdiri tegak, menunggu untuk dibuka.
BRAK
Sesosok tubuh manusia berdiri kaku, tak begerak. Tangannya mengambang di udara, menggenggam sebuah alat elektronik yang berasal dari tas yang sungguh tak asing lagi dimata Risa. Cahaya matahari pelan-pelan menerobos dedaunan, menjelaskan siapa yang kini berdiri tegak berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Itu Reza.
REZA!!
Mantan ketua kelas yang seneng banget ngejek Risa.
Mantan ketua kelas yang selalu bikin sebel anak cewek di kelasnya.
Mantan ketua kelas yang sering bikin heboh satu sekolah.
Mantan ketua kelas yang kini sedang mencuri HP milik Adri.
Mantan ketua kelas yang menjadi klepto di kelasnya sendiri.
“HEH!! NGAPAIN LO DI SITU???” raung Risa.
Reza mengambil sebilah cutter dan berjalan menghampiri Risa.
“Mau ngapain lo?? Ngancem??” ucap Risa.
“Tutup pintunya.” Kata Reza panik.
“Hah?”
“TUTUP PINTUNYA!!” raung Reza. Suaranya bergetar hebat.
Tangan Risa meraih knop pintu dan mendorong pintu perlahan. Reza yang tidak sabar mendorong Risa ke belakang sehingga tangannya terjepit knop pintu dan tubuhnya sendiri. Risa, berteriak, namun pada saat itu juga Reza mengacungkan cutter miliknya.
“Diam atau cutter ini yang bakal berbicara.”
“Mau apa lo?” Tanya Risa.
“Gue? Seharusnya gue yang bicara kayak gitu ke lo!! Gue pikir lo dah lupa tentang masalah Klepto.” Ucap Reza enteng.
“Lupa? Gue? Lupa? Semua korbannya adalah sohib-sohib gue!! Lo pikir gue bisa dengan mudahnya melupakan itu semua?” ucap Risa marah.
“Sohib? Ternyata lo ngerti juga masalah kayak gituan. Gue pikir yang lo tau cuman bagaimana caranya cari muka.” Sindir Reza.
“Maksud lo apa?”
“Cari muka ke semua guru kalo lo adalah ketua kelas yang paling hebat!! Cari muka bahkan sampai ngerebut semua temen-temen gue!!”
“Ngerebut temen? Gue…”
“Apa? Temen-temen gue semua lebih respect ke lo!! Mereka bilang kelas ini lebih baik semenjak lo jadi Ketua Kelasnya. Mereka bilang…”
“Loh, emang bener kan?”
“Bener apanya? Buktinya semenjak lo jadi Ketua, ada klepto tuh.”
“Yang jadi kleptonya itu ya elo, Banci!!”
“Apa yang lo bilang barusan?”
“Yang merusak ketentraman kelas ini, yang merusak anak-anak cowok kelas ini, yang bikin kelas ini dibenci sama semua guru, yang jadi biang keroknya, itu elo!!”
“A…”
“PENGECUT!!! BANCI!! MUNAFIK!!”
PLAK!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Risa, diiringi tatapan paling jahat yang pernah ada. Tapi, anehnya senyuman justru muncul di wajah Risa yang kini terlihat lebih merah dari biasanya.
“Liat kan? Bisanya cuman nampar cewek!!”
Mendadak, cutter itu bergerak, cepat sekali. Sedetik kemudian, darah mengalir di pipi Risa.
“Sekali lagi lo menghina gue kayak gitu, gue jamin akan ada pembunuhan di kelas ini!!”
Risa terdiam. Ada sedikit ketakutan mengalir di nadinya. Sementara pipinya kini terasa perih sekali. Walaupun begitu, ia tetap berusaha menggertak Reza dengan tatapan paling sangar yang bisa ia keluarkan. Sementara di belakang, tangannya sudah kehilangan rasa.
“Kalo diem begini kan enak. Nyaman, kan?” ucap Reza enteng.
Setelah berkata begitu, Reza mundur ke belakang, membiarkan Risa mengembalikan tangannya yang sedari tadi terjepit di belakang. Tiba-tiba, Risa jatuh terduduk di lantai, mukanya pucat dan darah masih mengalir dari luka di pipinya.
“Sekarang, mau lo apa?” Tanya Risa.
“Gue mau melanjutkan operasi gue.” Ucap Reza sambil melenggang menuju meja Adri.
Risa langsung bangun dan berusaha menarik tangan Reza. Namun Reza malah mendorong Risa ke belakang hingga terjatuh sambil dan kembali mengacungkan cutternya yang juga sudah berlumuran darah.
“Kurang puas ma luka lo itu?” ucap Reza.
Mendadak, sekelumit cahaya menembus kelas yang tadinya tertutup rapat. Reza langsung mendorong Risa ke balik meja guru.
“Risa?”
Adri melongok masuk ke kelas dan menemukan Reza, tapi tak melihat Risa di sana.
“Lo liat Risa?”
“Nggak.”
Adri bermaksud untuk pergi, tapi entah kenapa dia mengurungkan niatnya. Ia kembali dan duduk di meja guru, sementara Risa ada di bawahnya.
“Kok lo masih di sini?” Tanya Reza panik.
“Nunggu Risa.”
“Emangnya mau ngapain lo ma Risa? Pacaran?”
Senyum mengembang di wajah Adri.
“Kenapa nggak?”
Risa yang berada di bawah meja guru langsung terperanjat.
“Lo sendiri ngapain, Za?” tanya Adri.
“Ah… Gue? Mm…”
“Sendirian di kelas? Nggak takut dibilang klepto ma yang lain?”
“Mm… Ka… Kalo gitu… Gue ke… Kantin… Kantin dulu…”
Dan Reza kabur begitu saja. Merasa ini kesempatan yang tepat, Risa langsung mendorong meja guru dan keluar dari sana, yang menyebabkan Adri terlompat kaget.
“A****g!! Risa!! Gila lo!! Ngapain lo di situ?”
“Sorry… Sorry…Gue gak sengaja…” ucap Risa sambil menyenderkan diri ke meja guru.
Entah kenapa, mendadak tubuh Risa terasa melayang, pandangan matanya juga mendadak tidak focus. Risa sudah tidak bisa mengenali Adri yang kini berdiri di depannya, yang menggaruk kepala saking bingungnya.
“Risa? Ngapain lo ngumpet di bawah meja? Pipi lo kok berdarah? Risa? Lo kenapa?”
Keseimbangan Risa pun goyah, kesadarannya juga menghilang. Adri yang masih kebingungan terlonjat kaget ketika tiba-tiba tubuh Risa roboh ke lantai. Untung, Adri masih sempat menangkapnya sehingga tidak langsung jatuh ke lantai.
“RISA!! Risa, bangun!! Risa!! Risa!!”
Tepat saat itu juga Reza kembali ke kelas. Melihat Risa yang tak sadarkan diri, senyum kemenangan perlahan mengembang dari wajahnya. Puas melihat Risa dan Adri yang bagaikan adegan film, Reza perlahan keluar dari kelas dengan perasaan lega yang teramat sangat. Sementara Adri, yang hampir menangis karena Risa yang tergolek dalam pangkuannya terlihat lemah sekali, tertolong oleh kedatangan Satrya dan bersama-sama membawa Risa ke UKS.

* * *

Siang ini, sekolah dipulangkan lebih cepat. Kesempatan ini digunakan Adri, Satrya dan Jelita menjenguk Risa yang sudah 3 hari tidak dapat hadir di kelas. Jarak rumah Risa dengan sekolah memang tidak terlalu jauh, namun sebelum ini, rasanya sulit sekali untuk menyempatkan waktu untuk menjenguknya. Sebenarnya cukup banyak yang ingin menjenguk Risa, namun orang tua Risa membatasi karena Risa masih shock dengan kejadian yang menimpanya, sehingga yang diizinkan hanya mereka bertiga. Padahal, tak satupun tahu apa yang terjadi dengan Risa dan Reza selain diri mereka sendiri. Reza pun sekarang jarang sekali masuk. Kalau tidak penting-penting amat, ia lebih memilih menyendiri.
Tok… Tok…
Ibunda Risa keluar dan menyapa mereka. Setelah basa-basi ringan soal sekolah, mereka langsung diantarkan ke kamar Risa, tempatnya berbaring sekarang.
“Risa, ini teman-temanmu datang.” Ucap Ibunda Risa lembut.
“Hai Ris.” Sapa Jelita ringan.
“Hai.” Ucap Risa lemah.
“Gimana keadaan lo?” tanya Satrya seraya duduk disamping Risa.
“Menurut lo?”
“Hm.. Buruk.”
“Kok buruk?” tanya Jelita yang ikut duduk disamping Risa.
“Gimana ya… Aneh aja sekarang… Semua entah kenapa berubah… Gue jadi ngerasa dihantui… Seperti ada memori buruk dengan gue… Tapi gue gak tahu itu apa… Mendadak gue lupa hampir semua memori gue… Kata orangtua gue, ada kejadian yang bikin memori gue ilang…”
“Lo tau kejadian apa?” tanya Adri dari kursi disebelah Risa.
“Justru itu, gue gak ngerti…”
Satrya berdiri, dan berjalan mengelilingi kamar Risa. Setelah beberapa lama, Satrya berbalik dan mengacungkan gunting ke hadapan Risa. Tapi tak terjadi apa-apa.
“Satrya! Apa-apaan sih lo?” tanya Jelita.
“Di beberapa film, orang yang kehilangan memori karena ada memori buruk punya ketakutan pada benda-benda tajam. Makanya, gue buat percobaan pake gunting.”
Jelita terkikik, Risa tersenyum simpul.
“Ye… Malah ketawa! Tapi bagus kan percobaan gue? Setidaknya kita tahu kalo Risa gak takut ma gunting. Appreciate dong!!”
“Iya dah… Gue appreciate… Makasih ya, Satrya.” Ucap Risa.
“Hehehe… Sama-sama…”
“Dri, lo gak inget apa-apa waktu Risa pingsan di kelas?” tanya Jelita.
“Hah? Em… Apa ya? Yang gue tahu dia tiba-tiba keluar dari kolong meja guru… Trus langsung pingsan… Gitu aja… Kayaknya gak ada lagi deh!”
Kamar Risa berubah menjadi hening. Semua terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mendadak, sekelebat bayangan muncul di benak Risa.
Ini semua gara-gara lo!!
“Nggak…” ucap Risa lirih.
“Hah?” tanya Jelita.
Lo ngerebut temen-temen gue…
“Bukan…”
“Bukan?” tanya Jelita lagi.
Banci… Pengecut… Munafik…
“Risa? Ada apa?” tanya Satrya.
PLAK…
Tangan Risa perlahan meraih pipinya yang terbalut perban.
Diam… Atau cutter yang berbicara…
“Cutter…”
“Ada apa dengan cutter?”
Kurang puas ma luka lo itu?
Adri bangun dari kursinya dan beranjak mendekati Risa yang cuma bisa diam ketika ditanya. Namun, Risa sudah bangun dan menubruknya duluan. Perlahan, terdengar sedikit sesenggukan dari Risa. Adri memutuskan untuk duduk dan memeluk Risa erat-erat.
“Semoga pelukan ini bisa membuat lo tenang.” Bisik Adri lirih.
Tak lama, tangisan Risa akhirnya jatuh juga. Satrya dan Jelita pun ikut memeluk Risa. Orangtua Risa yang melihat mereka dari jauh, pun ikut meneteskan air mata. Melihat betapa solidnya persahabatan yang dipunyai anaknya, sudah cukup membuat mereka terharu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s