refleksi sejarah


Baru baru ini gue mendengar kabar bahwa salah satu sejarawan terkenal Indonesia, Rosihan Anwar, sudah tutup usia. Kepergian beliau menimbulkan haru dan rasa simpati serta kesedihan di masyarakat, karena beliau adalah salah seorang penutur sejarah yang dapat menceritakan perjalanan bangsa ini dengan jernih, tanpa ada kesan melebih-lebihkan satu orang atau satu golongan tertentu. Kepergian beliau seperti ingin menutup lembar lembar peristiwa dulu yang tak sempat diceritakan kembali, karena intervensi kekuasaan yang ingin melanggengkan namanya sebagai sebuah sejarah yang benar, padahal sebenarnya tidak. Kepergian beliau pula lah yang mendorong gue untuk ikut mencurahkan opini singkat tentang sejarah perjalanan bangsa ini dalam coretan berikut ini.

Well, sebenarnya gue tidak akan menceritakan sejarah sebagai peristiwa, tapi gue mau membahas sejarah sebagai suatu refleksi. Yap, sebuah peristiwa tidak hanya baik untuk dikenang, tetapi juga dapat dipelajari dan diambil hikmahnya. Buat gue, bagian yang terakhir ini entah kenapa belum keliatan muncul di masyarakat kita. Sebuah peristiwa sepertinya hanya menjadi untaian kisah, bukan untuk dipahami, dimengerti, dan dijadikan sebuah cermin untuk introspeksi diri. Sudah benarkah kita dalam menghadapi kejadian itu? Apakah kita sudah cukup dewasa dan jujur pada diri kita sendiri dalam menghadapi masalah tersebut?

Bangsa ini sudah cukup kenyang dengan peristiwa sejarah. Peradaban bangsa ini dimulai ketika manusia purba pertama kali menginjak bumi nusantara dan memanfaatkan isinya, dan gue yakin pada saat itu harusnya sudah timbul peristiwa sejarah. Sederhana saja, mulai dari sejarah menemukan api, sejarah menemukan kapak persegi, sejarah penggunaan kulit hewan sebagai pakaian, dan lain lain yang akhirnya meruntut pada manusia modern yang memulai fungsinya sebagai khalifah di bumi. Di sekolah, pelajaran sejarah dimulai dari peradaban kerajaan Kutai di Kalimantan, yang terus berjalan hingga jaman kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Terus begitu hingga akhirnya manusia Indonesia mengenal falsafah Pancasila dan menemukan arti proklamasi dan kebebasan. Terlalu panjang jika semua kejadian itu gue tulis disini, bahkan kalau bisa dihitung termasuk sejarah mengenai bom-bom yang meledak di nusantara ini. Sedemikian banyak peristiwa sejarah yang terjadi, apakah tidak ada yang bisa dijadikan sebuah refleksi sejarah?

Gue ingin mengutip salah satu puisi yang hampir tiga kali keluar di try out Bahasa Indonesia kemaren, tapi gak pernah bosen-bosen gue baca:

Cermin

Cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah
Meraung, tersedan, atau terisak
Meski apa pun yang terjadi terbalik di dalamnya;
Barangkali ia hanya bisa bertanya;
Mengapa kau seperti kehabisan suara?

(Sapardi Djoko Damono, Sihir Hujan, 1984)

Sebenarnya banyak sekali peristiwa sejarah yang bisa kita buat seperti cermin pada puisi diatas. Semua peristiwa sejarah yang terjadi pada kita sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu pada kita. Mungkin kita teralu lalai melupakan itu semua, meminggirkan hikmah yang terjadi dan lebih suka mencari penyebab sekaligus mencaci maki nya. Kita memang terkadang melupakan cermin, berlalu begitu saja tanpa sejenak diam dan berkaca dihadapnya. Padahal apa yang mau diajarkan sejarah pada kita adalah kemampuan untuk mencerna dan mengambil pelajaran bagi kita dikemudian hari. Bukankah apa yang kita kerjakan sekarang ini sebenarnya adalah untuk dikemudian hari, to live the world after life?

Sebut saja satu peristiwa, misalnya kehancuran Kerajaan Majapahit setelah meninggalnya Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Dalam sejarah diceritakan perang saudara yang tidak berkesudahan serta tidak dipikirkannya lagi masyarakat membuat kerajaan yang luas wilayahnya hampir satu ASEAN ini runtuh dan berhasil dikuasai Kerajaan Mataram Islam (correct me if I’m wrong!) Satu persatu daerah yang dikuasai megundurkan diri dan lebih memilih mengatur daerahnya sendiri. Di pusat kerajaan, keturunan raja semua berebut harta, dan akhirnya menimbulkan perang saudara. Kelicikan terjadi dan akhirnya kejayaan Majapahit yang dibangun susah payah hancur dalam hitungan tahun. Tipikal yang sama juga ditemukan pada sejarah kehancuran kerajaan kerajaan lain di Indonesia. Sekarang, terlepas dari semua tanggal dan tahun, apa yang bisa kita ambil dan sejarah kehancuran tersebut?

Suatu kekuasaan akan hancur apabila tidak ada lagi ketegasan. Setelah para punggawa wafat, tidak ada lagi yang tegas untuk membagi kekuasaan dan mengarahkan jalannya kerajaan. Masing-masing merasa dirinyalah yang merasa berkuasa setelah raja wafat. Artinya, ketegasan seorang pemimpin seharusnya ditularkan pada anak buahnya, jangan dipendam sendiri. Sejarah lain juga menggambarkan ketegasan seorang pemimpin terkadang tidak ikut dijalankan oleh bawahannya, bahkan terkadang bawahannya sendiri yang membelot. Bukankah ini yang terjadi pada bangsa kita sekarang, ketika presiden sebagai seorang pemimpin tegas dalam memberantas korupsi tetapi bawahannya justru melemahkan institusi pembersih korupsi?


Refleksi sejarah ini hanya sedikit dari begitu banyak refleksi sejarah yang bisa kita ambil dari seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi selama ini. Seandainya setiap peristiwa ini kita jadikan bahan pelajaran, dan bukannya justru diputarbalikkan, mungkin Timor Timur tidak akan terpisah dari NKRI. Mungkin pemeberontakan GAM tidak akan dibalas dengan operasi militer yang pada akhirnya hanya menimbulkan sengsara. Mungkin pemimpin kita tidak akan jatuh dikesalahan yang sama: tidak adanya ketegasan untuk memimpin bangsa ini. Sekalinya ada yang tegas, justru dimanfaatkan untuk menindas. Sekalinya ada yang mempunyai kemauan untuk menggunakan ketegasan, justru memble di depan 60% rakyat yang katanya memlilihnya waktu pemilihan umum. Yah, seandainya juga refleksi sejarah ini dilaksanakan seluruh rakyat Indonesia, nusantara ini akan mempunyai kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan negara adidaya di ujung sana. Karena kita memiliki pemimpin-pemimpin yang memiliki ketegasan dalam bersikap, dan selalu belajar dari setiap peristiwa yang ada.

Rest in Peace, kakek Rosihan Anwar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s