nyasar?!

iya, gue tahu ini judul absurd banget. tapi emang ini beneran. semua kejadian yang bakal gue ceritain ini beneran nyata. gak ada rekasaya, eh maksudnya rekayasa. mau ketawa boleh, mau cengengesan boleh, mau guling guling juga gapapa. and here we goes….

it starts when…

hari itu, kamis pagi yang tidak cerah, gue berjibaku dengan waktu untuk nyari tempat jahit kebaya buat graduation. dan akhirnya, setelah menemukan tempat yang pas dan cocok, serta sudah ngepas ukuran, gue langsung siap siap mau cabut ke BTA 8, untuk intensif SNMPTN. biasanya kan gue dianter ama bokap pake motor, tapi ternyata hujan seperti akan jatuh segera. akhirnya, bokap menyarankan gue untuk naik bus aja, pas banget emang bus nya lewat deket BTA. akhirnya dengan berat hati gue langsung buru buru jalan ke “terminal” deket rumah tempat biasa orang banyak naik bus itu. gue harus naik bus P9a jurusan Senen-Bekasi yang lewat tol supaya cepet (walaupun ongkos nya agak mahal sih). akhirnya, bokap masih sempet nganter ke “terminal”, dan meninggalkan gue terbengong-bengong sendiri karena…

“terminal” itu ternyata mengalami perubahan yang BESAR.

gue bingung dan agak panik karena waktu sudah menunjukkan pukul 09.15. artinya, waktu yang tersedia tinggal satu jam lagi sebelum masuk. bus itu gak muncul sampe lama, sampe akhirnya ada abang-abang teriak “senen… senen…”

reflek, gue langsung ikut sama abangnya dan naik bus itu.

tapi, setelah gue duduk, gue sadar…

ini bus ber-AC. sementara P9a itu gak ada AC-nya.

lalu gak lama si kenek nutup pintu dan berteriak dari kaca deket pintu itu…

“senen, rawamangun, gambir, tanah abang, tareeeeek…”

dem. gue salah naik bus!

bus besar itu pun jalan. berlari di tengah kepungan bus lain yang ikut mencari jalan di tengah jalur bebas hambatan.

mampus kuadrat.

gue diem. gak ngerti mau apa. gak ngerti mau ngapain. sepanjang perjalanan gue mikir, panik, dan kalut. gue lirik jam, udah 09.20. ini tol men, lo gak bisa main turun aja dan ganti bus yang harus gue naiki. mendadak, si abang-abang yang lain nagih ongkos. gue ngasih lembaran lima ribu rupiah.

“lima setengah neng…” gue kasih seribuan lagi.

“kurang neng, kurang gope.”

dem, jadi ongkosnya enam ribu lima ratus?!

dalam kekalutan yang tak terkira gue nanya: “bang, lewat jatinegara gak?” abangnya jawab: “lewat pramuka.” terus ngacir gitu aja.

dem, belahan jakarta manakah itu pramuka?! naik apa gue ke BTA 8 nya?!

gue rasa gue mau nangis saat itu. baru pertama kali gue ngerasa se-sedih dan sekalut itu. biasanya kalo ada apa-apa setidaknya gue masih bisa nyari cara untuk menghibur diri. ini gak ada sama sekali.

mendadak hujan turun dereeeeeessss banget, jalanan pun macet. sekilas gue ngeliat bus P9a yang harusnya gue tumpangi namun tak sempat kuraih. alamak, rasanya gue pingin gedor-gedor pintu trus minta masuk ke bus ijo itu. dem kuadrat.

dalam kekalutan karena salah naik bus, macet, dan hujan deras yang tak terkira, hape berdering. beberapa teman BTA ikut terjebak dalam hujan yang kacau itu dan minta nitip soal. gue pun curhat kalo sekarang pun gue gak tau apakah nyampe BTA apa engga. temen gue gak ngerespond apa-apa. sambil berusaha tenang dengan mendengarkan music slow dari headset, mendadak terbersit keinginan untuk menghubungi emak tercinta. pesan singkat pun terkirim, dengan kata-kata terindah yang pernah kubuat selama ini:

bu, aku nyasar -_-

tak lama, akhirnya emak membalas dan langsung melempar pesan dengan nada panik. dengan tak kalah panik, gue berusaha untuk menjelaskan perkaranya, dan semua informasi yang bisa gue raih. bus itu ternyata AC56 jurusan Tanah Abang-Bekasi, yang kebetulan lewat senen dengan terlebih dahulu melewati jalan pramuka. emak pun memberi instruksi agar turun di matraman, dan selanjutnya menuju BTA 8 dengan jalur biasa. gue pun menyimpan sms itu baik baik dan berusaha santai sambil memperhatikan jalan. siapa tahu ada alternatif lain yang bisa lebih mudah dan cepat sampai. tapi karena situasi hujan yang belum reda, kaca bus tidak ada yang bisa terlihat jelas. gue pun berusaha tenang dan memperhatikan lajur bus nya pelan-pelan.

sampai akhirnya kenek bus mulai membuka kaca. bus perlahan-lahan menurunkan penumpangnya satu persatu. gue terdiam. dimana gue harus turun? belahan bumi sebelah manaaaa iniiiiii?

sampai akhirnya gue mendengar ternyata ada Lia Pramuka di depan sana, gue pun memutuskan turun. setelah sebelumnya gue melihat ada busway lewat dan shelter yang besar-besar berdiri kaku di atas tanah.

setelah gue turun dan segera bergegas menuju shelter, gue bertanya pada mbak mbak tukang karcis: “arah matraman sebelah mana ya mbak? lewat shelter matraman yang bisa transit ke arah kampung melayu kan?” mbak nya mengangguk dan gue pun membeli karcis. selama menunggu busway, gue hampir gak ngeliat sama sekali angkot atau metro yang lewat. adanya cuman bajaj. sama paling adalah nyelip ojek gitu yang lewat.

tak lama busway datang. langsung cabut ke matraman dan transit untuk pindah ke arah kampung melayu. alhamdulillah busway rada cepet dan sepi. emak pun menelpon dan mencari kabar. gue jujur dan menceritakan semua pengalaman tak terkira ini. sampe di shelter kebon pala, gue turun dan nyebrang. untungnya langsung dapet ojek. sampe BTA cuman lima ribu. sebenernya udah deket kok, makanya gue mau aja bayar lima ribu buat dianter sampe gerbang. ternyata gerbang belum sepenuhnya ditutup. masih ada yang keujanan dan basah kuyup terhuyung-huyung masuk kelas. termasuk gue. rambut berantakan. rok abu abu ngembang dan basah, jaket warnanya belang-belang gara gara ujan, bahkan baju hem putih pun turut terkena air dari atas sana.

gue pun masuk kelas dengan malu-malu, berharap tidak ada yang lihat kekacauan dan kekuyupan gue menghadapi perjalanan yang ribet barusan. dan ternyata setelah gue perhatikan, memang yang paling basah kuyup dan berantakan adalah gue sendiri. gue lirik jam, pukul 10.42. super telat. temen sebelah gue yang (seperti biasa, riwayat di BTA) tidak gue kenal sampai memberikan tisu untuk membantu gue rapi-rapi. tapi toh gue selamat sampe BTA, dan berhasil menerima ilmu dengan baik. pulangnya pun gue lancar, lebih tepatnya pulang sama temen gue jadinya kemungkinan nyasar jadi semakin kecil. walaupun hujan rintik-rintik tetap menemani.

oke. akhirnya semua selesai. lega rasanya menceritakan hal ini pada kalian semua. semoga kalian mengambil pelajaran dari kejadian absurd ini. kalo gue sih, pelajaran berharga yang gue dapet dari pengalaman barusan sih:

  1. bus AC itu mahal banget ongkosnya (apalagi kalau dibandingkan dengan ongkos biasa naik metro atau naik angkot).
  2. jika kau susah ingatlah ibumu. se-gaptek-gaptek-nya atau se-kolot-kolot-nya ibumu, dia tetap makan asam garam lebih banyak dari dirimu. termasuk lebih hapal trayek bus kota dibanding kamu.
  3. jangan pernah menyamakan teriakan kenek. belum tentu kenek teriak tujuan akhir dari bus itu, bahkan mungkin jauh dari ekspektasimu sendiri. *halah
  4. kalo nyasar, ongkos akan lebih mahal. makanyaaa: jangan nyasar!

udahan ah. malu cerita kayak gini. udahan yah ketawa-ketawanya. kita ketemu lagi besok-besok… *gatau kapan

3 thoughts on “nyasar?!

  1. brb ngakak ya chaaaaa… hahah XP pengalaman yang sangat berharga banget banget bangett,,.. sumpah ngirim sms ke nyokap kayak gitu gue gatau deh gue bakal g itu jg apa enggak kalo misalnya nyasar hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s