Balada sunyi

(*)
Engkau yang hadir dalam pengharapan kepada yang tiada
Bersimpuh di ujung maut yang tak sempat menghadang
Berlalu kelam, seperti malam mengintai siang
Kau, sunyi sepadan

Sepertinya hidup terlalu singkat untuk kau renungkan
Jika malam tiba, kau membayang datang
Membasuh jiwa yang terhadang karang
Merasuki asa dan rona jiwa
Kau, sunyi sepadan

Jangan biarkan aku menderita atas ketiadaanmu
Percaya bahwa kau datang setiap aku ingin, aku mau
Dalam haru selalu tersebut
Kau, sunyi sepadan

(**)
Ketika terang mulai menampakkan sinarnya, sebersit asa mulai tampak. Sunyi keluar dari peraduan dan berkata pada matahari:
“Izinkan aku berlari di sampingmu, wahai terang. Aku ingin tahu apa kata dunia tentang aku, dan temanku sang sepi.”
Matahari tak lantas menjawab. Pelan-pelan ia menyibak takdir dan berucap pelan:
“Apa ada yang masih membutuhkanmu disaat aku dapat memberi mereka cahaya terang?”
Sunyi sadar, ketika terang bersibak, tak ada lagi yang membutuhkannya. Ia pun berdiam dan mempersilahkan terang membasuh warna buana.

Ia kembali jadi sunyi, yang menunggu malam kembali.

(***)
Sunyi, jika memang itu takdirmu,
Kembalilah saat petang membayang
Tiduri aku saat lamunan mencapai batas paling hina
Agar sukmaku tak mati rasa
Namun jika gegai hadirmu tak kunjung tiba
Biar aku yang berlari
Mengejar kau, mengejar ketiadaan

Posted from WordPress for Android

One thought on “Balada sunyi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s