me and my roommate

Hi! Post ini di buat dan di posting langsung dari Asrama TPB IPB Dramaga – Bogor.

Well, hello people. Bulan oktober datang dan musim pancaroba juga mengiringi. Dari hati yang paling dalam gue doakan semua pembaca blog yang hina dina ini mempunyai kesehatan yang mumpuni. Jangan lupa istirahat yang teman-teman, dan makan teratur. Himbauan ini juga diperuntukkan buat yang bikin post ini, jangan pikirannya penuh sama hal-hal yang tidak perlu dan hanya memakan sebagian energi dan tenaga. Ahem.

Perkuliahan baru saja menempati posisi puncaknya. Nanti tanggal 19 Oktober UTS dimulai untuk semester pertama gue di sini. Mulai banyak sekali pengetahuan dan hafalan yang kuterima. Kuis sebelum UTS pun udah ada beberapa yang dijalani dan beberapa diantarannya memang kurang memuaskan. Gue gatau kenapa tapi rasanya semua masih janggal. Gue masih ngerasa main-main. Gue belum percaya untuk kesekian kalinya bahwa gue memang masuk kuliah. Bahkan udah punya nilai. Udah melakukan banyak hal di kampus ini. Dan bahkan udah tinggal hampir 3 bulan di Asrama TPB IPB ini.

Yap, asrama emang jadi momok utama buat anak-anak mahasiswa baru IPB. Kewajiban masuk asrama di satu sisi memang menguntungkan karena kita yang belum terbiasa hidup sendiri masih bisa dibantu sama temen-temen kiri kanan. Tinggal di asrama juga melatih kepedulian dan  solidaritas kita sebagai mahasiswa. Namun di satu sisi mungkin asrama dengan peraturan dan beberapa acara tetek-bengek-nya itu membuat beberapa penghuni asrama merasa terkekang, sehingga banyak banget yang memutuskan untuk gak tinggal di asrama dan memilih untuk pulang-pergi ke kampus. Ini paling banyak gue temukan sama temen-temen gue yang memang asal daerahnya dari Bogor.

Di asrama, kita gak tinggal sendiri sekamar. Gak mungkin juga IPB membikin tiga ribuan kamar untuk semua mahasiswa barunya, bakal ada banyak sekali gedung asrama nanti di IPB. Akhirnya, diputuskan kalau satu kamar itu diisi empat orang. Waktu IPB menjaring mahasiswa baru lewat SNMPTN Undangan, asrama udah hampir terisi tiga per empat dari kapasitasnya. Dan untuk kamar gue, awal matrikulasi atau awal masuk dari SNMPTN Undangan kamar gue diisi sama tiga orang. Namanya disamarkan, menjadi Desa dan Iga. Desa asal dari Banten. Iga dari Jawa Barat.

Disinilah curhat kita dimulai…

Hanya beberapa hari setelah kita masuk, entah mengapa tiba-tiba Iga sakit. Gue juga gak begitu tau bagaimana ceritanya, tapi intinya Iga demamnya parah sampe mukanya jadi merah. Dan akhirnya, gue yang kelimpungan pun menemui SR atau Senior Residence, yaitu kakak tingkat yang sudah berpengalaman dan dipilih khusus untuk membina mahasiswa baru macam kita ini. SR pun membawa Iga dengan ambulans asrama ke klinik terdekat. Waktu itu jam udah menunjukkan sekitar jam 9 malem. Gue karena gak ikut nganterin Iga, menitipkan uang lima puluh ribu ke Desa untuk bantu-bantu biaya pengobatan.

Gue pikir Iga dirawat karena panas tubuhnya memang luar biasa. Tapi ternyata, tak lama kemudian Desa dan Iga pulang ke asrama. Mereka cuman dikasih obat dan penanganan sederhana. Gue yang gak pernah mau pindah-pindah tidur (karena gue pun di tempat baru agak susah tidur) ngalah pindah tidur ke kasur atas. Malem itu gue ngerasa drop banget karena gue bener-bener kena serangan homesick. Gue kaget banget harus tinggal sendiri dan dengan orang-orang yang menurut gue belum gue kenal dan sangat berbeda dengan “kultur orang kota” yang keburu menempel di diri gue. Mereka asli dari desa, penerima beasiswa bidik misi dari pemerintah, dan memang tidak berniat sepenuhnya untuk kuliah dan mungkin lebih memilih langsung kerja. Jelas banget beda dengan pemikiran gue yang seperti ini.

Malem itu gue sms panjaaaaaaaaang banget sama emak gue, menceritakan semua yang terjadi. Memang sebelum-sebelumnya emak gue sering nelpon nanya lagi apa, dan gue jawab dengan nada biasa aja. Padahal di saat itu juga sebenernya gue nahan nangis sampe sesenggukkan. Akhirnya besok paginya emak gue langsung nyamperin gue ke IPB. Kata papa, pada saat yang sama sebenernya emak gue juga kena sindrom yang mirip sama gue, kaget gak ada orang yang paling kita sayang di samping kita. Jadilah emak gue pun sangat emosional saat itu, sama kayak gue. Dan pertemuan gue dan emak gue pun sedikit haru.

Kondisi emosional yang gak stabil ternyata membuat gue cukup frustasi. Weekend pertama yang tadinya berniat bertahan di asrama akhirnya batal dan dengan beribu alasan gue ijin untuk pulang. Emak gue yang tadinya mau jenguk lagi akhirnya berubah menjemput gue di Stasiun Bogor. Begitu sampe rumah, rasanya legaaaaaaaaaa dan nyaman sekali. Gue pun kembali kayak dulu, menceritakan semua pengalaman gue dan opini-opini gue sama papa. Dan ternyata, seminggu awal itu gue melakukan kesalahan fatal yang sangat berakibat buruk.

Satu waktu, sebelum weekend pertama, Desa mendadak ngajak gue untuk duduk sebentar berdiskusi tentang uang yang kemaren gue berikan pada dia. Klinik tempat Iga diperiksa ternyata bukan Poliklinik IPB. Poliklinik IPB hanya buka dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore dan hanya buka hari kerja. Otomatis, uang lima puluh ribu yang kuberikan tidak cukup karena ternyata yang diperiksa bukan hanya Iga, tapi Desa pun diperiksa dan dapet obat. Setelah dihitung, total pembiayaan mereka hampir seratus ribu lebih. SR yang bertanggung jawab atas keselamatan kami ternyata tidak membiayai pengobatan Iga. Pada saat itu, yang ada justru teman-teman dari lorong lain, karena gue dan teman-teman lorong sendiri pun tidak hadir. Karena Desa kekurangan dana, akhirnya ia meminjam uang dari lorong lain. Waktu itu ada yang punya uang seratus ribu. Desa pun meminjam uang seratus ribu itu dan menambah lebihnya dengan uang dia sendiri.

Apa kabar uang lima puluh ribu gue? Utuh. Dikembalikan langsung pada gue.

Duerr. Apakah kalian merasa ada yang janggal?

Awal-awal cerita pertanggungjawaban itu gue gak ngeh sama sekali dan langsung memberikan dua lembar uang lima puluh ribuan untuk mengganti uang dari lorong lain. Tapi setelah kuceritakan secara utuh kepada papa, barulah muncul rasa janggal dari cerita itu. Dan gue pun langsung dimarahi habis-habisan.

Kenapa dia gak memakai uang gue yang lima puluh ribu itu tapi justru meminjam uang seratus ribu pada orang yang baru ia kenal?

Gue langsung merasa sangat tidak dihargai.

Kenapa pula gue justru dengan sangat ringan tangannya ngasih LAGI dua lembar lima puluh ribuan untuk mengganti uang pinjaman itu? Kenapa justru GUE yang “nanggung” pinjaman duit itu?

Itulah kesalahan sangat fatal yang langsung menghancurkan kepercayaan gue sama Desa. Di sini Iga gak salah apa-apa, karena bahkan dia gak tahu menahu tentang uang itu.

Malam saat menceritakan “kesalahan fatal” itu gue bengong. Gue gak tahu harus gimana. Emak dan bapak gue total mengoreksi keputusan gue itu. Beberapa koreksi itu langsung masuk ke otak dan bahkan menikam hati gue. Tak lama, akhirnya tangisan gue pecah. Gue merasa sangat disakiti, bahkan gue disakiti ketika kami baru masuk asrama, baru kenal dan bahkan ketika gue belum menemukan kecocokkan dengan mereka. Jujur, itu bener-bener menimbulkan luka paling dalem yang pernah gue rasakan selama ini.

Ketika gue balik ke asrama, setelah weekend pertama di rumah, gue berubah. Gue gak bisa menatap mata Desa. Buat gue, menatap mata dia mengingatkan gue pada uang gue itu. Menatap wajahnya yang bener-bener sunda, membuat gue jengah dan merasa bahwa gue mungkin akan diperalat bahkan lebih parah lagi oleh dia. Sampai sekarang gue selalu menolak untuk ditatap oleh Desa. Itupun terkadang jika memang penting, gue harus memaksa seluruh jiwa gue untuk bersikap normal di depan Desa. Dan itu sangat amat berat.

Okay, mungkin segini dulu yang bisa gue share dari cerita asrama gue. Gue gak bermaksud apa-apa, bahkan gue tidak ada satu niat pun untuk menjelek-jelekkan Desa di muka umum dengan menceritakan hal ini di blog pribadi gue. Ini murni sebuah kisah narasi, bukan eksposisi apalagi persuasi terhadap semua karakter di post ini.

Ini ceritaku, apa ceritamu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s