friends forever?

Post ini dibuat langsung dari kamar 116 Asrama TPB IPB Darmaga, Bogor.

ada satu hal yang sebenarnya agak memalukan buat gue, tapi gue dengan jujur mengakui bahkan menerima dengan ikhlas apa yang terasa janggal buat gue. dan, untuk pertama kalinya gue lebih memilih share sama kalian, sama pembaca maya gue. karena gue sendiri gak tahu sama siapa gue harus cerita.

gue terlahir sebagai anak tunggal, dimana gue terbiasa untuk hidup sendiri, dan memikirkan sesuatunya di otak gue sendiri. karena keterbatasan gue untuk punya temen main dan segala macemnya yang nyata, gue waktu kecil pernah punya ‘temen bayangan’. ada tujuh orang temen bayangan gue, namanya Fita, Honi, Sasan, Rina, Sendi dan Mia (kayaknya ada satu nama yang gue lupa, tapi siapa yaa?). don’t ask me where did I found that name, because that was I still remember at my childhood things.

dengan teman-teman bayangan gue, disitu gue menemukan arti hidup dalam pikiran anak kecil. gue bisa main sepuasnya, merasakan punya segerombolan ‘teman’ yang benar-benar mendukung, yang tidak pernah mengeluh bahkan bermusuhan dengan gue, dan bahkan bisa mewujudkan tampang aslinya di depan gue. tentu saja lo gak bisa memercayai hal ini secara langsung, karena hanya gue yang tahu bentuk mereka kayak apa.

setelah gue semakin dewasa dan kenal dengan namanya sosialisasi sama temen ‘beneran’, perlahan temen bayangan gue menghilang. entah kenapa gue gak bisa memunculkan mereka lagi. kebingungan gue waktu itu gak sempet gue bahas karena gue punya temen beneran dan banyak hal yang bisa gue bahas sama mereka. lama-kelamaan gue nyaman dan supel banget untuk bersosialisasi, dan gue jadi seneng main di dunia ‘nyata’. sampe akhirnya gue merasakan pengalaman paling buruk sedunia: dijauhin temen.

waktu itu gue kelas 4 SD, dan gue punya sahabat baik namanya Tina. dia ini agak penyendiri, dan agak possesif sama gue. dia duduk di pojok depan, hampir gak pernah bersosialisasi sama temen-temen yang lain, dan gue yang gak suka ngeliat orang sendirian akhirnya nemenin dia main. tapi di satu sisi kadang-kadang gue juga gak betah kalo cuman sama dia berdua, dan karena gak enak sama dia gue suka berbohong untuk bisa gabung sama temen-temen gue yang lain, si kelompok besar. akhirnya kebohongan gue terbuka dan dia marah sama gue. gue minta maaf banget dan setelah beberapa lama akhirnya dia mau maafin gue. gue berusaha untuk gak bohong lagi tapi sangat susah untuk menahan diri gue untuk main sama kelompok yang lebih besar. akhirnya suatu hari gue terjaring sama kelompok yang lebih besar dan bergabung sama mereka. dan Tina pun sendirian. gue memutuskan untuk membujuk kelompok yang lebih besar untuk main sama Tina tapi ternyata usaha gue gagal.

dan akhirnya gue justru dijauhin sama temen satu kelas karena pengaruh si kelompok besar itu.

gue shock ketika gak ada satupun temen satu kelas yang mau gue ajak main atau bertemen dengan gue. gue sadar gue dijauhin dan gue ternyata melakukan sesuatu hal yang salah. Tina minta maaf sama gue dan gue maafin dia. tapi gue gak bisa memahami jalan pikiran temen-temen gue si kelompok besar itu. akhirnya gue merenung, dan tiba-tiba kembali merasa apa yang gue rasa waktu kecil. merasa terasing.

keterasingan yang gue rasakan kembali, memicu gue untuk berusaha memunculkan lagi ‘teman bayangan’ sebagi pelipur lara. tapi ternyata mereka gak muncul. untungnya, saat itu bapak memutuskan untuk membeli komputer dan gue sangat dibebaskan untuk ikutan main atau sekedar membuka-buka. ternyata gue keranjingan word processor untuk nulis, membiarkan gue merasa didengar lewat narasi-narasi. yap, semenjak saat itu bakat nulis gue mulai berkembang dan sampe sekarang masih berhasil untuk membuat gue tenang.

dari kejadian itu, ada satu hal yang bikin gue sadar. temen itu pasti pergi. dan gue gak mungkin bisa menahan satu temen atau beberapa temen sekaligus. temen di dunia nyata bukan temen di dunia bayangan yang akan selalu ada di sekitar kita, membantu kita pada saat kita sedang dalam titik nadir. temen itu juga manusia, sama seperti kita yang bisa emosian, bisa bete dan akhirnya memunculkan kejadian-kejadian emosional yang membuat hubungan retak. walaupun kata mereka friends forever, sebenarnya mereka cuman friends but not forever and there is the time I leave and you will be alone.

kalo kalian pikir gue punya banyak temen, bisa supel kemana-mana, itu adalah akibat dari frasa barusan. gue sadar gue gak mungkin punya satu temen untuk selamanya. dan gue sadar suatu saat pasti akan ditinggal. itulah kenapa lo bakal ngeliat gue bisa ikut hampir semua golongan manusia, dan di satu sisi gue juga bisa jalan sendirian. gue gak pernah nganggep siapapun adalah my friends forever. gue cuman nganggep mereka temen. temen yang kalo kita klop, yaa bakal nyambung. tapi ga pernah ada yang gue masukin ke hati.

sahabat bagi gue adalah soulmate, belahan jiwa. dimana kita bisa secara ikhlas dan rela memberikan separuh bagian hidup kita untuk mereka, dan gak pernah menyesal akan hal itu.

kriteria seorang sahabat buat gue sangat berat, dan banyak syaratnya. gue gak mau dikecewain oleh orang yang udah gue anggep sahabat. gue gak mau separuh bagian hidup gue akan mereka sia-siakan seperti Tina yang tiba-tiba menghilang waktu gue lagi dimusuhin sama temen-temen kelompok besar. gue mau sahabat yang bener-bener mengerti dan tahu kalo gue lagi merasakan apa. buat gue, sahabat itu sesorang yang gak mungkin lo temukan dalam satu atau dua hari. harus ada banyak pembuktian yang bener-bener menunjukkan kalo dia tulus untuk bersahabat sama gue.

sampai sejauh ini, gue baru menemukan empat manusia yang bisa menerima gue apa adanya, yang memang gue yakini mereka adalah sahabat gue. mereka adalah sahabat gue dari SMP, dan sampe sekarang masih kontak-kontakkan. tapi, di kuliah ini, belum ada orang yang bener-bener mengerti dan memahami gue seperti empat sahabat gue dari SMP. bahkan temen sekamar pun menurut gue belum bisa jadi sahabat gue. padahal barusan aja dua temen sekamar gue sedang asyik bercerita sampe bisik-bisik kayak gak mau didenger siapapun. mungkin termasuk gue.

yap, gue merasa terasing barusan, ketika dua temen kamar gue sedang asyik berbisik-bisik dan gue bahkan gak bisa denger mereka sedang bicara apa. keterasingan gue membuat gue menarik kesimpulan kalo mereka mungkin gak bakal jadi sahabat gue. mereka udah deket banget, udah kayak kenal lama, sampe gue yang sedang berkutat dengan tugas gak dipeduliin sama mereka. dari situ gue sadar kalo ternyata ada benernya frasa gue. walaupun kita satu kamar, walaupun katanya satu kamar itu sahabatan, I still be alone.

dan gue bangga kalo sampe sekarang, gue belum punya sahabat yang benar-benar mengerti gue.

kecuali kalian, PTcN Smile

11 thoughts on “friends forever?

  1. kita samaaa >,<
    nasib ga punya sodara nih,untung ga dianggep gila(iyalah,ga ada yg tau).gw sampe sekarang masih ada tuh 'temen bayangan' hahaha

  2. ternyata ada juga orang yang dulunya pernah punya temen bayangan ya… *siapa nih?* hehehe, salam kenal ya. maaf kalo saya ngegaje disini + tiba2 komen *bungkuk* >A<
    cuma tertarik aja, soalnya dulu saya juga pernah punya

    1. saya Rosari Prabawati, bisa diliat profil fesbuknyaa heuheu. salam kenal jugaa, wah gak nyangka ternyata bukan cuman gue doang yang punya keahlian dalam hal se-absurd ini hehehe

  3. iyuuuuwwwhhh baru baca gueee haha don’t worry cha we’ll always understand you and try our best not to disappoint you *bighug*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s