Gie, sekali lagi

Bulan desember, bulannya year-end sale dan perayaan hari raya Natal untuk umat Kristiani. Awal desember buat gue dimulai dengan perih hati dan segala macam masalah yang rada gak enak kalo dibahas lagi di sini. Dan semua kembali berjalan normal pada minggu-minggu kedua dan minggu selanjutnya. Masuk ke tanggal belasan, baru gue sadar ternyata bulan Desember adalah sebuah bulan memorial. Bulan yang paling ditunggu-tunggu untuk membahas tokoh kita yang satu ini. Tokoh yang paling pertama menyadarkan gue dengan keadaan di sekitar kita. Tokoh itu adalah, Soe Hok Gie.

Gak kenal kakak Gie? Yah silahkan di cek dulu posting gue di sini dan bisa di googling untuk menyamakan referensi.

Dan, malam ini, sebuah transisi dari tanggal 16 Desember menuju 17 Desember, mengingatkan gue tentang beliau yang aktif, intelek, dan peduli terhadap sesama. Tau cerita tentang kulit mangga di depan istana presiden?

Seorang pengemis mengais-ngais tong sampah. Ia menemukan kulit mangga, lalu memakannya. Karena tak tega, aku berikan uangku yang tinggal 2 rupiah 50 sen. Kejadian itu aku lihat tak jauh dari istana. Ya, 500 meter dari situ, paduka kita mungkin sedang berfoya-foya, makan dengan istri-istrinya yang cantik…

Untuk jujurnya, gue belum bisa sepeduli itu terhadap mereka di sekitar kita. Gue masih berfikir ada banyak cara untuk mendapat uang selain mengemis, dan mengemis mungkin hanya bentuk kemalasan yang memuncak. Atau mungkin frustasi terhadap keadaan saja. Sehingga memberi justru membentuk sifat malas itu sendiri. Tapi, gak bisa dipungkiri itu salah satu cara untuk bersekedah dengan cara mudah. Dan, itu juga salah satu sifat untuk membentuk kepedulian juga.

Gue merasa berada di tengah-tengah pemikiran antara memberi dan tidak memberi kepada pengemis jaman sekarang.

Selain kepedulian terhadap sesama yang sangat kuat di mata seorang Gie, yang masih relevan dengan kehidupan Indonesia jaman sekarang adalah intelektualitas dan pemikiran-pemikirannya. Sangat jarang anak muda di jaman taun 1960-an yang sudah membaca hampir semua buku yang berat-berat tentang filsafat dan segala pemikiran tentang politik. Dan sama aja, sekarang ngeliat novel Pak Rangkuti aja gue udah males banget, dan hampir semua anak setuju dengan pendapat ini (kalo anak IPB pasti tahu :p). Minat bacanya yang tinggi ini harusnya bisa ditularkan kepada generasi muda. Tapi entah kenapa, ini pun susah, terkhusus pada diri gue sendiri.

Dan gue harus banyak belajar dari kakak Gie. Semangat belajarnya yang utama juga.

Duh, ini kok jadi sentimen yah?

Terakhir, untuk memperingati sekaligus mengingatkan kembali tentang seorang Gie dimata gue, (dan karena gue juga udah ngantuk), gue mau mengutip salah satu tulisan dia di Catatan Seorang Demonstran, buku yang benar-benar mengenalkan gue pada beliau ini.

 “Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”

Sekali lagi, kami merindukanmu, kakak Gie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s