kembali ke pedesaan

Post ini dibuat di Asrama Putri TPB IPB Gedung A1 kamar 116.

Gak kerasa, demi gue dan seluruh emosi jiwa raga gue gak ngerasa banget kalo weekend ini gue udah berada di habitat gue di pedesaan Darmaga dan kembali menjalani rutinitas gue sebagai mahasiswa. Semester dua udah dimulai semingu lalu dan mulai kembali berjibaku dengan tugas laporan praktikum yang edan, dosen yang kadang-kadang terlalu pesimis untuk hidup, sampe bentuk pembangunan master plan IPB yang semakin gak jelas bentuknya. Untuk sekedar info IPB sedang mengejar cita-citanya menuju World Class University atau Kampus Kelas Dunia. Walaupun kalo boleh jujur pembangunan ini sama aja bikin jalanan IPB tambah panas dan penuh aspal, sesuatu yang kontradiksi sekali dengan suasana pedesaan di sekitarnya. Jujur gue maunya IPB cukup menjadi Green University dengan suasana hijau dimana-mana, yang sesuai dengan titel pertaniannya. Gak perlu menebang pohon dan hutan sepanjang jalan untuk jadi Kampus Kelas Dunia kan? Kenapa nggak menggemparkan dunia dengan suasana hijau selama di kampus gitu?

Well, itu gak begitu penting sih memang, dan tentunya bukan inti cerita di tulisan ini. Selain gue aktif ngampus, ternyata gue juga menjadi aktif berorganisasi. Apalagi kalo bukan badan induk organisasi mahasiswa yang males banget gue sebut namanya itu. Dan ternyata itu membuat gue lebih sering galau, terutama karena gue yang semester lalu biasa aja sekarang harus jadi kepala divisi suatu expo terbesar di IPB. Kekagetan gue itu ditambah dengan manusia-manusia yang semakin banyak dan semakin beragam, terutama cara mereka berorganisasi yang banyak bedanya. Jadwal masing-masing manusia itu juga beda banget sama manusia-manusia lain, jadinya tambah runyam. Apalagi ditambah jadwal asrama yang kadang-kadang bikin kaget mendadak dan harus membatalkan rapat yang udah dibuat beberapa hari lalu. Masalahnya, keterbatasan kita sebagai anak asrama yang harus mengutamakan acara-acara asrama juga gak bisa dilupakan. Para aktivis muda itu juga ada yang jadi ketua paguyuban lorong-lorong gedung asrama, yang kalo ada acara mau gak mau yaa harus turun. Jadilah komunikasi menjadi peran penting untuk menyatukan tiap keperluan kita.

Beruntunglah sekarang ada dunia maya, tempat paling famous untuk meng-eksis-kan diri dengan mengumbar status, foto, kegiatan, curhat terselubung, dan banyak lagi. Tapi sialnya, di asrama, terutama kamar gue, rada susah sinyal dan kadang-kadang susah banget ditebak maunya apa si sinyal-sinyal wifi hingga telepon seluler ini. Memang pembangunan yang banyak memakan korban berupa pepohonan agak melancarkan sinyal, terutama sinyal untuk modem gue. Tapi ternyata gak segampang itu juga, karena tetep aja banyak blank spot di sana-sini yang membatasi pergerakan gue. Dengan kebutuhan khusus untuk minus yang rada tebel ini juga menyulitkan gue yang gak bisa di depan komputer lama-lama misalnya. Gue juga otomatis gak segampang orang yang main selonjoran aja di lantai sambil main laptop karena gue pernah sakit paru-paru. Kesulitan-kesulitan ini kadang-kadang memenjarakan gue pada perasaan bimbang dan kesel tak tentu arah. Untunglah hape gue yang sedang berlangganan paket bulanan masih bisa menyalurkan sedikit kesal di hati, tentunya lewat twitter.

Tapi pernahkah kita mikir, apa jadinya kalo kita memang benar-benar di pedesaan yang sulit sekali menemukan sinyal? Atau mungkin ketika kita belum mengenal dunia maya untuk saling berinteraksi? Kita gak akan bisa sms atau telepon orang karena belum banyak yang pake hape misalnya. Gimana kita janjian? Trus kalo telat, gimana rasanya nungguin orang yang gak ada informasinya? Kita gak bisa ganti status di BBM, atau bahkan twitteran. Boro-boro twitteran, telepon rumah juga mungkin belom masuk. Gimana kita merencanakan rapat? Gimana kita memberi kabar pada orang tua kita yang nun jauh di sana?

Sebagaimana suatu kejadian, pasti ada sisi negatif dan sisi positifnya. Sisi positifnya adalah kita pasti akan mengutamakan ketemu langsung, mengutamakan interaksi langsung dengan orang yang mau kita tuju. Mungkin kita gak akan bermales-malesan di atas kasur sambil chatting denan temen kita, tapi kita akan turun dari kasur, mandi, ganti baju, dan langsung menuju rumah temen kita. Setiap pagi kita akan keluar rumah, menunggu siapa yang bisa kita ajak bicara sambil minum kopi di teras rumah. Setiap kita janjian pasti kita berusaha untuk tepat waktu karena gak mau membuat teman kita menunggu terlalu lama. Mungkin permainan anak kecil yang dimainkan tiap sore akan muncul lagi, sebagi ajang interaksi sosial kita dengan lingkungan. Bandingkan dengan kondisi kekinian yang cenderung tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan lebih suka menghabiskan waktu dengan ego kita sendiri.

Sisi negatifnya menurut gue cuman satu. Kita tidak akan hidup seperti ini. Kita tidak akan berjumpa temen kita lewat twitter. Kita akan sulit menghubungi keluarga kita yang ada di kampung halaman. Kita tidak akan seperti ini, bercuap-cuap lewat blog, dan dikenal media massa. Ekstrimnya, mungkin Raditya Dika tidak akan menjadi kambing jantan dan memperkenalkan dunia novel komedi dan Arief Muhammad akan tidak akan mengguncang dunia para remaja dengan penggalauan massalnya yang aduhai hingga menuntun seseorang ke keputusan-keputusan yang tidak mudah.

Jadi, mau pilih mana kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s