perjalanan panjang

Post ini dibuat di kamar 116 Gedung A1 Asrama Putri TPB IPB, Bogor.

Entah kenapa, gue harus berfikir ulang untuk menemukan kalimat pembuka yang pas untuk membuat tulisan ini. Jujur gue juga gatau harus mulai darimana, dan mungkin mau cerita apa juga gak jelas. Yang gue tahu, gue harus melepaskan rasa aneh yang menggelayut daritadi di alam bawah sadar ini.

Semua berawal dari usaha gue untuk ikut serta dalam acara kampus. Gue bukan tipe yang senengnya cuman kuliaaaaaaah trus ngerjain tugas ampe capek. Gue gak puas kalo cuman dapet IP tanpa sertifikat keikutsertaan sesuatu yang ‘keren’ di mata gue. Akhirnya, semenjak semester satu gue seneng banget ikut-ikutan seminar, mulai dari seminar android dan IT, seminar energi terbarukan, sampe seminar kepemudaan. Gue juga mau ikut program turun desa bareng mahasiswa IPB yang lain, tapi karena bentrok dengan jadwal lain akhirnya gue cuman ikut acara opening-nya aja. Lama-lama, gue gak puas kalo cuman jadi peserta aja. Gue masih merasa menjadi panitia kayak di FOSCA dulu lebih seru daripada cuman dateng ke seminar dan dapet sertifikat serta seminar kit. Akhirnya dimulailah keikutsertaan gue untuk ikut UKM atau Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus.

Perjalanan panjang pun harus gue mulai dengan beli formulir, isi, bikin essay, dan wawancara. Ada beberapa prioritas UKM yang pingin banget gue ikutin, misalnya IAAS atau International Association of Agricultural and Related Science dan FORCES atau Forum of Scientific Science. Tapi ternyata jodoh gue bukan kesitu. Wawancara pertama yang gue ikutin adalah wawancara IAAS, lokasinya di kantin fakultas. Ada beberapa pos, tapi gue juga gak ngerti maksud tiap pos. Ada yang tentang diri sendiri, komitmen pada organisasi, keberanian dan (kalo gue boleh namakan) pos self-publishing. Gue ikut itu sama temen gue, dan kita berdua sama-sama hopeless karena peminatnya banyak dan banyak dari mereka selama wawancara menggunakan bahasa Inggris. Dan parahnya, pada saat itu kita gak tahu kepanjangan dari IAAS itu sendiri. Akhirnya kita berdua sama-sama gak lolos wawancara.

Selama waktu kosong gue sering menyambangi mading asrama atau media center untuk penjaringan UKM berikutnya. Sampe akhirnya gak lama gue menemukan open recruitment untuk panitia I-Share atau IPB Social and Health Care. Lagi-lagi gue dan temen gue ikut ngambil formulir dan tes wawancara. Kali ini wawancaranya menurut gue termasuk sebentar, dan gak berasa aja gitu. Gak ngerti memang gue yang kurang konsentrasi atau gimana tapi yang jelas gue akhirnya menyelesaikan itu dengan temen-temen gue. Ada banyak kenalan yang mengincar posisi panitia acara tersebut, namun lucunya, ketika hati pengumuman tiba, justru gue yang gak dapet posisi sebagai panitia. Semua kenalan gue bisa dapet posisi dan akhirnya menjadi panitia acara tersebut; sesuatu yang menjadi awal ketertarikan gue ikut UKM. Gue sempet down dan merasa ada yang salah karena belum pernah gue ikut UKM aja sampe harus mati-matian mikir bagaimana caranya agar gue bisa jadi anggota. Tapi toh gue tetep yang paling rajin jalan-jalan di media center dan mading asrama.

Akhirnya, gue mendapat angin segar ketika open recruitment anggota FORCES dimulai. Gue pikir, kalo ini gagal maka gue akan sangat amat menderita. Semua udah gue lakuin bareng temen gue yang juga berminat untuk masuk FORCES, dan menurut gue proses perekrutannya pun cukup panjang dan ribet. Gue harus membuat essay ilmiah, ikut sekolah penelitian sampe membuat karya tulis bersama anggota lainnya. Gue harus merelakan kesempatan untuk bergabung dengan UKM lain misalnya Koran Kampus, dimana gue juga suka hal jurnalistik dan media massa lainnya. Tapi setelah penantian penuh satu bulan, gue kembali harus menelan pil pahit ketika nama gue kembali tidak muncul di list anggota yang diterima.

Akhir tahun, muncul open recruitment anggota BEM TPB dan gue pun ikut ngambil formulir dan bikin essay tentang kepribadian sendiri. Waktu itu yang gue pikirkan adalah gue pingin ikut organisasi, apapun itu jenis dan bentuknya. Waktu itu gue sempet mau ikut DPM atau Dewan Perwakilan Mahasiswa tapi syarat gue gak lengkap sampe masa pendaftaran habis. Dan gue pikir, kalo gue ikut BEM mungkin akan mengobati rasa kecewa gue yang gagal masuk DPM. Akhirnya dengan beberapa kenalan gue, ikutlah gue wawancara BEM dan membiarkan diri gue untuk ber-ekspresi dengan jawaban gue pada saat wawancara itu.

Tutup tahun, UAS semester 1 pun dimulai. Gue mulai melupakan impian gue dan fokus ke masalah pendidikan. Sampe akhirnya mendadak malam tahun baru gue mendapat pesan singkat dari temen gue yang mengabarkan kalo gue kepilih menjadi anggota BEM TPB tahun 2011-2012. Gue kaget sekaligus gak percaya, kalo ternyata gue berhasil mendapat tempat juga di organisasi selama TPB. Waktu itu pengumuman disampaikan melalui dua cara, dari laman web dan mading BEM TPB. Dan ketika iseng gue mengecek, dalam dua cara itu nama gue sama-sama disebutkan. Artinya gue memang beneran masuk menjadi anggota BEM, sesuatu yang gue juga gak ngerti dasarnya darimana. Berita itu tersebar sampe ke temen-temen lorong gue dan mereka sukses membuat gue keki setengah mati ketika ada di asrama selama masa UAS berlangsung.

Singkat cerita gue ikut gathering perdana BEM TPB dan langsung mendapat tempat sebagai staff bagian Informasi, Komunikasi dan Jurnalistik. Hari kedua menjadi anggota BEM gue gak bisa mengahdiri rapat karena gue gak fit kondisi badannya. Namun setelah itu gue hadir dan berusaha mengikuti cara mereka berorganisasi, karena sebagian dari mereka memang adalah anggota magang BEM TPB periode sebelumnya. Awalnya, gue gak merasa nyaman karena mereka sudah punya keterikatan tersendiri ketika kami anak-anak yang bau kencur ini masuk menjadi anggota. Gue juga tergolong tidak begitu biasa dengan pandangan teman-teman yang mengetahui kalo gue itu menjadi anggota BEM. Namun semuanya berusaha gue jalani dengan hati lapang.

Jujur, gue sebenernya gak punya alasan yang masuk akal setiap gue ikut organisasi. Apa yang gue pikirkan adalah gue ingin ikut, dan gue akan berusaha semampu gue untuk menjadi anggota yang baik. Gak ada alasan khusus untuk itu, dan apalagi alasan berat macam “mengayomi dan memberi yang terbaik”. Intinya adalah gue suka berorganisasi, dan gue suka melakukan sesuatu yang berbeda dari yang dilakukan orang lain. Dan gue senang mendapat banyak kenalan, karena buat gue mendapat teman baru artinya mendapat perspektif yang baru. Ketika gue dilemparkan dengan pertanyaan-pertanyaan macam itu, yang ada kepala gue justru kekosongan dan bayangan bahwa jika gue melakukan kesalahan maka gue akan mendapat kecaman dan membuat malu diri gue sendiri.

Sialnya, itu justru yang membuat gue malah depresi untuk beberapa hari ini. Gue gak menemukan jawaban apa-apa ketika berpikir apa yang menjadi tujuan gue di BEM itu. Gue sendiri gak bisa mengekspresikan apa yang ada di otak gue ketika orang menanyakan apa motivasi dan intinya gue masuk BEM. Yang jelas, karena pikiran-pikiran kalut ini gue drop dan beneran sakit. Akhirnya gue gak bisa ikut upgrading dan malah bikin gue tambah banyak pikiran.

Dem. Ternyata gue masih belum bisa melapangkan dada untuk organisasi.

Tapi, gue seharusnya bersyukur karena setidaknya gue punya organisasi selama gue TPB tahun ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s