dimana ia berada?

Post ini dibuat melalui Microsoft Office OneNote di Kamar 116 Gedung A1 Asrama TPB IPB, Bogor.

Masih ingat dengan langit?

Orang yang membuat gue sempat berkelana ke alam mimpi. Orang yang membuat gue sempet ngerasa bahwa dunia SMA memang indah. Orang yang bikin gue berharap bahwa SMA gue akan punya orang yang peduli dengan kita, orang yang bisa diajak smsan, orang yang bisa diajak telponan dan diskusi hal yang penting atau bahkan gak penting. Orang yang juga dengan teganya meninggalkan gue begitu saja. Dan membuat gue tenggelam dalam kesedihan yang lumayan mendalam.

Sekarang, gue udah kuliah. Gue mau memulai hal yang baru lagi. Gue mau mencari lagi hati yang mungkin masih tertinggal di sana, dan gue gak tahu itu ada di mana. Gue mau kembali mencari dan merasakan jatuh cinta lagi. Untuk awalnya gue gak ngerasa apa-apa. Ada beberapa orang yang mampir ke hati gue, menetap, lalu lama-lama, karena kita berpisah, lalu pergi. Dan gue mencari lagi, merasa lagi apa yang gue bisa tangkap dengan orang-orang yang ada di sekitar gue, dan mulai merasa getaran-getaran pada orang-orang di sekitar gue lagi. Tapi ternyata itu belum cukup. Satu semester berlalu tanpa ada rasa. Dan gue kembali terseok dengan perjuangan semester lain yang menunggu di depan.

Semester dua baru berjalan ketika akhirnya, ada sesuatu yang menarik gue untuk melangkah ke kelompok itu. Karena mereka kekurangan orang, gue mengajukan diri untuk pindah dan bergabung dengan kelompok itu. Mereka sudah lumayan dekat dan gue termasuk yang baru di sana. Tapi gue gak menyerah, bahkan cenderung bersikap biasanya. Akhirnya nomor sudah ditukar, dan gue mulai mengajukan diri untuk membantu mengerjakan laporan dan tetek bengek lainnya. Dan akhirnya, hari itu, gue mulai bekerja dan merasa bersama mereka.

Gue masih ingat betul, betapa obrolan awal kami sangat tidak penting namun cukup melekatkan. Hingga akhirnya perlahan rajutan keceriaan dan kedekatan itu timbul perlahan. Tak pernah gue merasa sebahagia itu hingga terpingkal-pingkal. Gak pernah gue ngerasa begitu dekat pada pertemuan pertama, dan cenderung menunggu pertemuan kedua. Dan gue memang menunggu, hingga akhirnya kita berjumpa lagi keesokan harinya. Hari yang entah kenapa membuat gue merasa bahwa kedekatan ini pasti akan teringat sampai lama. Hal yang menegaskan kalau kepindahan gue secara sadar itu memang benar adalah pilihan yang membawa gue pada suatu kebahagiaan.

Namun ternyata, tak semuanya berjalan mulus.

Seseorang tiba-tiba menarik gue ke luka lama itu.

Orang itu membawa semua perhatian dan ingatan gue pada Langit.

Orang itu mirip sekali dengan Langit.

Dan gue jatuh cinta (lagi) pada sosok Langit yang gue temui sekarang.

G, sebuah inisial yang langsung tersirat ketika gue mengenal dia. Orang yang memang awalnya sudah gue catat nama dan perlakuannya pada gue secara tidak sengaja di bagian awal semester. Tapi, gue gak nyangka bahwa catatan gue terusik lagi dan bahkan sekarang bertambah. Orang itu begitu mirip dengan Langit. Terlalu mirip. Parfumnya, perhatiannya, tatapannya, semua tentang dia begitu mengikat gue dengan sosok Langit. Tak lama setelah menyadari itu, gue langsung merasa frustasi, hingga akhirnya sedih sendiri.

Kenapa sedih?

Karena sosok itu nyata. Sosok itu seperti menggerakkan gue untuk mengulang lagi pertanyaan tentang hubungan gue dengan Langit yang telah berlalu itu. Gue masih ingin dengan langit. Gue masih butuh dia. Gue mau ketemu dia. Gue sayang dia, walaupun hati dan akal berontak dengan perlakuan dia ketika SMA, tapi suatu ketika gue memang mengontak dia dan dia membalas, rasanya luar biasa! Rasanya seperti kembali ke masa-masa itu. Kembali ke masa-masa bahwa diskusi memang suatu hal yang menyenangkan, dan ternyata ada yang mengerti tentang hal gue pada masa dulu. Tapi ketika dia sudah tidak mengontak lagi dan gue mulai jengah untuk terus menunggu, gue sadar bahwa Langit hanya masa lalu. Hal yang sudah tidak perlu lagi dibicarakan.

Bagaimana dengan manusia ini?

Mungkin dia adalah sosok yang paling membuat hati ini nyaman. Berada di dekatnya adalah sebuah kebahagiaan. Sebuah kenyamanan. Sebuah kebutuhan. Ada rasa gembira ketika dia ada di samping gue. Ada rasa kangen yang luar biasa ketika kerja kelompok harus berakhir. Ada rasa indah yang luar biasa ketika dia sms dan berusaha meyakinkan atau menemani gue, bahkan hingga larut malam. Kadang-kadang jawaban ajaibnya membuat gue tertawa, dan membayangkan diantar olehnya sampai depan gerbang asrama merupakan perasaan yang luar biasa. Ketika dia mau dan tidak marah dengan kelakukan gue yang seperti anak kecil, bahkan cenderung mau mengayomi, saat itulah gue gak bisa bertahan dan luluh di depan dia. Saat itulah gue berharap bahwa dia adalah Langit yang selama ini gue harap ada dan nyata di samping gue.

Tapi ternyata, Langit itu sudah menjadi milik seseorang di sana. Orang yang sangat beruntung memilikinya. Orang yang bisa memiliki dia seutuhnya. Orang yang sangat beruntung mendapat perhatiannya tanpa harus terpikir perasaan apapun pada teman-teman sekelasnya. Orang yang bisa mendapat seluruh hatinya untuk dimiliki. Sendiri.

Orang itu bukan gue. Orang itu adalah dia yang satu tempat kuliah dengan Langit gue yang asli.Orang itu yang mematahkan semua keberanian gue untuk mendekati dia, dan bermimpi tentangnya. Orang itu ada dan masih bersamanya.

Ada perasaan sakit yang luar biasa ketika gue membuat post ini. Ketika hati ini terus merasakan perasaan yang dalam padanya, sebenarnya hati ini justru semakin mempertegas posisinya yang bukan siapa-siapa. Ketika melihat teman lain yang mendapat pasangannya masing-masing, dan kita turut bahagia bersama mereka, sebenarnya tersirat perasaan yang menjerat. Perasaan yang berharap pada saatnya nanti gue bisa seperti mereka. Mendapat langit yang bisa memayungi kita ketika hujan. Mendapat langit yang bisa mencerahkan ktia ketika kita sedih. Langit yang selalu ada ketika kita berada di posisi tersulit sekalipun.

Langit untukku.

Dimana ia berada?

3 thoughts on “dimana ia berada?

  1. I dont know what to say. I never expected that this new one is likely… the new version of that Langit guy. I honestly regret what I’ve said to you, how I forced you to tell me as soon as possible, didn’t think that this hurt you so bad, that something this bad happened to you. I’m really sorry. and know what? I really wanna hear the full story, but I wont force you like I did back then. Be strong Cha, and… know what? I almost cried when it came to the “Langit has been taken by someone” part because I really know that feeling. I’m waiting for our quality time. In fact, I have the… well, kinda similar story as yours :”) but life must go on, mustn’t it? :”D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s