padang ilalang

Siapa yang suka berbeda pendapat? Tidak ada. Bahkan esensi dari debat bukannya untuk membenturkan pendapat dengan pendapat orang, tapi menemukan solusi dari perbedaan pendapat itu sendiri. Begitu juga hari ini. Lagi-lagi aku berbeda pendapat dengan Agas, sahabatku. Ia lebih mementingkan kuliahnya daripada ikut aksi di jalan.

“Untuk apa? Apakah dengan berdemo maka harga-harga barang akan segera turun? Apa dengan ikut aksi orang tuaku akan mendapat penghasilan berlebih?”

“Tapi setidaknya kita bersuara! Dengan begini kita menunjukkan kepedulian kita sebagai mahasiswa, bahwa kita juga peduli dengan nasib bangsa ini, nasib rakyat yang selama ini membayarkan pajaknya untuk beasiswa kita!” sergahku cepat.

“Kepedulian? Kepedulian untuk merobohkan pagar gedung DPR? Kepedulian untuk membakar ban di tengah jalan dan memacetkan arus lalu lintas? Itu yang disebut peduli?”

Aku terdiam. Agas memang benar, tapi dalam kamusku, kepedulian tertinggi mahasiswa adalah dengan membenahi apa yang ada di sekelilingnya. Sekarang, di sekeliling kita yang ada hanya raungan dan tangisan rakyat. Suara yang selama ini dibungkam pemerintah. Suara yang berusaha diteriakkan tapi tak jua terdengar. Suara yang meminta kepedulian.

Tapi Agas justru sebaliknya. Kata kepedulian dalam kamusku ternyata terlalu jauh. Ia lebih menekankan kepedulian kepada masing-masing individu terhadap lingkungannya. Ia pernah menegurku yang buang sampah sembarangan di pinggir jalan ketika kita makan bersama.

“Kamu peduli sama rakyat, tapi soal buang sampah aja masih harus diingetin?” Sindir Agas tajam.

***

“Kamu terlalu sibuk di BEM. Mana kepedulian kamu untuk teman-teman sekamarmu?” tanya Agas waktu ia menjemput di depan kontrakan.

“Ah masa? Kenapa emangnya?” tanyaku heran.

“Emangnya aku gak tahu kalau temen kamar kamu sakit? Katanya ketika dibawa ke rumah sakit kamunya malah pergi entah kemana.”

Aku terdiam. Aku memang sedang berada di Jakarta waktu Mei, teman sekamar dan satu kontrakanku sakit. Keperluan BEM yang mengharuskan aku bolak-balik Jakarta-Bogor membuat aku sedikit kewalahan mengatur jadwal. Termasuk menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu bersama Mei. Sialnya, ketika aku tak ada justru Mei sakit. Hanya kabar melalui pesan singkat yang kuterima dari salah satu teman Mei.

“Terus aku harus gimana? Aku gak bisa seharian terus sama Mei. Lagipula, memang acara itu udah terjadwal dan aku harus hadir.” Kataku singkat.

Agas terdiam. Deru motor membungkam kami. Pikiran kami melayang entah kemana. Tanpa terasa, motor Agas berhenti di suatu padang yang luas dan asing. Aku turun sambil terkagum melihat betapa hijau dan luasnya padang ilalang di depan kami. Agas lalu mengajakku untuk berjalan perlahan melalui padang itu. Pikiran liarku kembali berkelana sambil merasakan sapuan ilalang mengalun dibawah tanganku. Lucunya, tempat seindah ini tumbuh dengan sendirinya. Seakan mencibir tangan manusia yang katanya peduli tapi justru merusak. Tahu-tahu, kami sampai di bibir bukit. Pemandangannya semakin indah dan menyejukkan. Semilir angin pegunungan tak henti-hentinya mengelus mata kami. Kami pun duduk persis di pinggir bukit.

“Kamu tahu tempat ini darimana?” tanyaku pada Agas.

“Waktu itu pernah lewat. Padang yang luas kayak gini jarang banget di kota besar. Makanya aku ngajak kamu ke sini. Siapa tahu kamu suka.” Kata Agas sambil tersenyum.

Aku termenung sambil melihat jauh.

“Aku masih memikirkan kata-katamu yang kemarin. Tentang kepedulian. Bahwa kata kepedulian ternyata punya banyak makna, dan aku merasa kepedulian kita sebagai mahasiswa bisa dimunculkan melalui demo itu. Tapi kamu menolak mentah-mentah pendapatku, dan langsung membantah dengan bilang ‘kepedulian tapi malah bikin macet jalanan’…” kataku sambil menerawang.

Aku menghela nafas sebentar.

“Tadi aku lihat orang-orang di pinggir jalan, mereka semua meminta kepedulian. Bagaimana cara kita membantu mereka kalau kita sendiri tidak menyuarakan aspirasi kita?”

Agas terdiam. Aku juga. Sampai lama aku menunggu ada kata meluncur darinya. Tapi telingaku tak mendengar apa-apa selain semilir angin yang mendayu. Saat aku menengok, ia terlihat tenang. Namun sorot matanya tajam ke depan.

“Aku dikacangin ya?” kataku sinis.

“Enggak, aku cuman gak ngerti jelasin ke kamu aja. Mungkin nanti kalau aku ketemu jawabannya akan aku jelasin. Cuman, gimana kalau kamu cari sendiri? Kepedulian sosial seperti apa sih yang bisa kita lakukan untuk lingkungan kita?” tanya Agas.

“Kok kamu malah balik nanya?” tanyaku heran.

Agas hanya menyelipkan senyum. Tangannya merangkul hangat pundakku, dan aku bersandar di pundaknya.

“Singkatnya begini. Kita berbeda. Jauh berbeda. Tapi buktinya kamu masih peduli denganku. Aku juga. Berarti peduli tidak harus dengan hal yang sulit kan?” kata Agas.

Aku terpejam sambil mendengar kata-katanya.

***

Mei tak kunjung sembuh semenjak ia masuk rumah sakit. Aku masih menyempatkan diri untuk menjenguk dan merawat dia, namun ternyata penjadwalan waktuku kacau. Lebih sering Agas yang merawat dan menemani Mei di rumah sakit. Aku sendiri merasa kacau karena sudah jarang bertemenu dengan Mei, dan entah kenapa semakin jarang aku bertemu, Agas juga semakin menjauhiku.

Keesokkan harinya, tak sengaja aku bertemu dengan Agas. Aku langsung mencegatnya dan mengajaknya pergi. Namun entah kenapa reaksinya berbeda. Ia hanya diam dan mengangguk. Ketika kami bertemu, Agas juga cenderung diam dan mendengarkan. Aku mengutarakan rencanaku untuk ikut demo lagi di Jakarta. Namun semakin jauh raut wajahnya justru semakin berubah.

“Kamu sadar gak sih apa yang kamu lakukan selama ini?”

“Maksud kamu?”

“Kamu masih yang aku kenal kan? Kamu belum kena jaringan apa-apa kan? Aku semakin ngerasa kamu beda, Cha.”

Aku semakin bingung dengan ucapan Agas.

“Maksud kamu apa?”

“Kamu tahu kabar Mei? Mei sekarang ada di mana?”

“Ada di rumah sakit kan? Bukannya selama ini ada kamu di rumah sakit sama Mei? Apa jangan-jangan selama ini Mei gak ada yang jagain?” kataku panik.

“Kamu baru tanya dia sekarang?” tanya Agas ketus.

Aku terdiam.

“Kamu baru tanya dia kemana sekarang setelah hampir seminggu dia di rumah sakit? Kamu tahu betapa dia nunggu kamu sampe gak bisa tidur, karena dia maunya ketemu kamu, bukan aku? Kamu tuh beneran Ocha yang aku kenal bukan sih? Yang selalu peduli dan sayang sama temen-temennya?” kata Agas tajam

Aku semakin terpuruk. Entah kenapa aku memang merasa kehilangan sosok Mei akhir-akhir ini, tapi lucunya aku tidak berusaha mencarinya. Aku hanya menitipkan dia pada beberapa temannya, tanpa tahu ternyata yang dibutuhkan selama ini adalah aku. Diriku yang menjadi teman satu kontrakannya selama ini. Agas pergi meninggalkanku yang hanya bisa diam. Sejurus kemudian ada belati tajam yang menusuk rongga dan seluruh nafas pikiranku. Ada kesedihan yang jauh lebih dalam dari sebelumnya, jauh lebih sakit daripada ditinggal Agas di tengah lautan manusia seperti di kampus ini. Kehilangan sahabat adalah hal yang mungkin sesegera mungkin menjangkau aku. Aku hanya punya sedikit kesempatan untuk mencegahnya.

Aku membatalkan semua kegiatanku setelah sore harinya. Aku benar-benar butuh sendiri. Rasa bersalah pada Mei dan terutama rasa sakit ditinggal Agas membuatku pergi menuju padang ilalang yang kemarin kudatangi bersama Agas. Aku duduk di tempat yang sama, dengan posisi yang sama. Berharap akan ada Agas yang datang lalu menawarkan bahunya untuk menjadi sandaranku. Namun selama itu aku menunggu, selama itu juga aku meresapi kekurangan padang ilalang itu. Memang padang ilalang itu menunjukkan keindahannya walaupun tanpa bantuan manusia, namun ada bagian kecil dari padang itu yang dirawat dengan baik oleh seorang pekerja dan hasilnya lebih indah dari keseluruhan padang itu sendiri. Penasaran, aku menghampiri pekerja itu dan bertanya padanya. Akhirnya kami mengorol seru dan menemukan kalimat yang benar-benar mengena bagi hatiku yang kusam.

“Memang benar teh, padang ini bisa hidup dengan tumbuh sendiri. Tapi ia juga membutuhkan sentuhan. Sentuhan tangan seorang yang peduli dengan lingkungannya. Karena kepedulian merupakan bagian dari fungsi kita sebagai pemimpin di alam semesta.”

***

Perrjalanan menuju rumah sakit kali ini terasa begitu lama. Aku terus memacu kecepatanku untuk segera sampai di rumah sakit, tempat Mei berbaring. Koridor rumah sakit yang panjang membuatku takut. Namun penampakan sekilas Agas membuatku lega. Tak kusadari tanganku membuka gerendel pintu dan masuk begitu saja. Mei ada disana. Kondisi yang lemah membuatnya hanya bisa tersenyum melihatku datang.

Ada perasaan lega yang luar biasa melihat Mei masih mau memaafkanku yang sulit sekali menyempatkan diri untuk menjenguknya. Ada perasaan hangat di mataku ketika merasakan kembali senyuman Mei yang ada di sampingku. Haru biru yang sedikit berlebihan muncul yang tanpa kusadari membuatku malu di hadapan kelaurganya. Agas juga perlahan masuk dan memegang pundakku. Aku hanya bisa mengucap ribuan kata maaf sambil terus menangis.

Mei memang tegar seperti padang ilalang. Ia terus menunggu ada orang yang penuh rasa cinta merawatnya hingga memunculkan kembali kecantikannya. Begitu juga aku yang ternyata membutuhkan padang ilalang itu ketika aku terluka, sama seperti aku membutuhkan Mei. Terkadang, hal yang paling sederhana bisa menunjukkan kepedulian yang luar biasa, walaupun bagi orang lain hal itu terkesan sepele dan kecil sekali nilainya. Kepedulian sosial juga tidak perlu hal yang besar. Kepedulian dengan teman yang sedang sakit dan senyuman hangat juga bisa menjadi hal paling indah yang bisa kamu lakukan, dengan status sebagai seorang mahasiswa.

***

Peringkat 6 Lomba Menulis Cerpen dan Essay Tingkat Persiapan Bersama IPB persembahan Departemen PSDM BEM TPB IPB 2012.

One thought on “padang ilalang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s