titik jenuh

Post ini dibuat dari kamar 116 Gedung A1 Asrama TPB IPB Bogor.

Gak nyangka, ternyata udah lama banget gue gak nulis di blog ini. Beberapa hari yang lalu memang ada tulisan baru dari gue, cuman itu pun bukan teruntuk blog ini sendiri, tapi untuk perlombaan yang akhirnya membuahkan hasil. Walaupun gue bukan peringkat satu, tapi menurut gue apa yang gue tulis kemaren bener-bener tulisan gue yang paling utuh, yang paling bisa diselesaikan dengan manis oleh jari tangan gue. Makanya gue mau membagikannya ke dunia maya sebagai rasa bahagia gue sama tulisan gue sendiri. Seperti unek-unek yang gak bisa keluar yang akan gue sampaikan melalui tulisan berikut.

Entah kenapa semester dua ini bener-bener semester neraka. Semua menjadi sangat sulit buat dijalani. Baik dari segi akademik, hubungan pertemanan, persahabatan, percintaan (halah), bahkan sampe organisasi dan kerjaan non akademik yang juga menemani hidup gue selama di IPB ini. Gue lalai dalam menjalankan tugas. Jadwal gue kacau. Gue berkali-kali bilang sama orang tua gue kalo gue mau pulang dan (rasanya) gak mau balik ke asrama. Di asrama memang gue terlihat tegar padahal ada masanya ketika gue sendiri, gue merasa sangat frustasi. Di kamar, gue udah menunjukkan itu. Temen kamar gue tau kalo ada saat-saat tertentu gue sedang badmood, yang kadang-kadang mempengaruhi mereka juga. Gue udah menunjukkan aslinya gue yang kalo gak suka sama orang, maka gue akan membenci dia seutuhnya dan memerlukan waktu untuk recover dari kebencian itu. Ketika gue udah kayak gini, maka banyak pikiran-pikiran aneh akan membasahi gue dan meracau dalam otak gue.

Akhir-akhir ini ada sesuatu yang paling mengobrak-abrik perasaan gue, yaitu pikiran mengenai menjadi seorang organisatoris macam gue ini yang selalu sibuk, dibandngkan dengan mereka yang bisa bersantai dan berleha-leha di kamar. Bahkan melakukan ritual pulang setiap weekend. Siapa yang lebih beruntung, gue atau mereka? Siapa yang lebih mendapat pengalaman dengan orang-orang? Dan siapa yang pada akhirnya mendapat anugerah dari Yang Maha Kuasa?

Mereka, anggaplah bernama Yanto, tidak punya organisasi apa-apa. Mereka hanya kuliah, dan bersosialisasi di asrama. Setiap hari Yanto berangkat kuliah dan pulang ke asrama atau kadang-kadang mampir ke bara. Hari-harinya disibukkan dengan mengurus dirinya sendiri, mengurus kewajibannya sebagai mahasiswa, mengurus tugas dan kelompok kerjanya,  dan mengurus kamarnya. Ketika malam tiba, ia bisa mengulang kembali pelajaran dengan nyaman di kamar, sambil bersenda-gurau dengan teman-teman sekamar dan selorong. Ketika malam makin larut, ia bisa bersih- bersih dan tidur nyenyak. Pagi datang, ia pun kembali bersiap untuk kuliah. Begitu seterusnya hingga akhirnya weekend tiba. Sehabis kuliah departemen lalu ia naik bis menuju rumahnya. Ketika hari minggu datang, maka ia pun kembali ke asrama dan mengulang aktivitasnya. Walhasil, nilainya bagus dan ia pun mendapat kebahagiaan dengan IPK 4.

Sungguh nyaman hidup si Yanto ini.

Namun suatu hari ia bertemu Dika. Ia adalah pengurus organisasi perwakilan mahasiswa. Ia ikut serta dalam kepanitiaan acara menjadi sekretaris, humas, publikasi, dokumentasi, dekorasi, lalu menjadi penanggung jawab komunitas binaan organisasi. Ia juga aktif dalam perwakilan kelasnya. Bahkan ia rajin mengikuti seminar pelatihan dan workshop, hingga lomba menulis essay dan cerpen. Ia tak pernah bisa tidur nyenyak malam hari karena banyak tugas menunggunya. Ia jarang terlihat di kamar, walapun kontribusinya terhadap kamar dan lorong asrama tetap ia utamakan. Pulang kuliah tak akan membuatnya beranjak dari daerah kampus, karena beberapa rapat menunggunya. Telepon genggamnya terus berdering menari-nari meminta konfirmasi masalah rapat dan lain-lain. Jaringan komunikasi menjadi hal biasa baginya. Lengkung mata dan muka ngantuk menjadi tempilannya sehari-hari. Dan kewajibannya sebagai mahasiswa masih ia pegang teguh walaupun hasilnya kurang maksimal.

Hidup Dika dan Yanto seperti bumi dan langit, sangat jauh berbeda. Sama seperti gue dan beberapa temen gue. Dan entah kenapa, akhir-akhir ini rasa iri selalu menghantui gue pada lapisan mahasiswa macam Yanto ini. Dengan semua kesibukan yang gue lampirkan pada analogi Dika, hati gue menjerit untuk sekedar melonggarkan tensi dan bernafas.sebentar. Ketika gue bisa nonton maraton beberapa film, pasti ada hal yang akan gue korbankan. Dan gue benci kenapa gue harus merasakan ini semua.

Banyak orang yang bilang, kalo ini namanya titik jenuh. Ketika gue udah gak bisa merasakan lagi sekitar gue, dan yang gue lihat hanya kebencian dan tangisan pada diri gue sendiri. Ketika gue cuman bisa nangisin keadaan, dan gak bisa bilang apa-apa selain gue mau pulang. Dan gue bener-bener merasakannya sekarang. Helaan nafas gue pun semakin berat.

Bahkan mendadak kata-kata seperti semakin sulit untuk dikeluarkan.

Doakan saja gue bisa melalui ini semua.

2 thoughts on “titik jenuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s