somebody that i used to know

But you treat me like a stranger and that feels so rough…

Setengahnya, gue lagi kegandrungan sama Gotye. Bukan langsung sih, untuk lebih tepatnya gue lagi kegandrungan sama Darren Criss dan Glee Cast lainnya. Cuman, entah kenapa ini lagu lagi nge-hits banget di pikiran gue, jadilah kemana-mana kepikiran ini lirik mulu.

Lirik ini bukan tanpa sebab. Gue baru saja merasakan kegagalan. Gagal banget untuk mempertahankan hubungan pertemanan yang sebenernya penting banget buat gue selama kemaren semester 2. Dan sepertinya gue akan menumpahkan semuanya di sini. Gue udah cerita ke orang yang gue percaya tapi gue juga ingin menyimpannya sebagai tulisan. Mungkin kalau di antara mereka ada yang baca, mereka bisa ngerti apa yang gue rasain selama ini. Tapi tentunya gue gak akan bikin semudah itu. Post ini akan terselip di tengah-tengah post lain yang udah gue munculkan sebelumnya. Biar hanya beberapa orang yang sadar ada perbedaan di blog gue gara-gara post ini.

Okeh, prolog-nya udahan. Kita masuk ke inti cerita ajaaaaaah~~

Gue punya ikatan pertemanan beberapa bulan lalu. Pertemanan yang gak sengaja dibuat. Ini dimulai ketika langkah kecil gue memutuskan untuk pindah dari kelompok sebelumnya ke kelompok yang manusianya hampir gak ada yang gue kenal. Sebuah keputusan yang hampir gue sesalkan karena mereka sangat klop berempat di awal, dan dengan adanya gue jadilah berlima. Awal-awal semua biasa. Masih kaku, dan cuman sekedar sapaan sederhana. Kita janjian untuk ketemuan lagi buat ngerjain laporan. Tukeran nomor, dan semua kembali biasa.

Saat sebelum ketemuan, gue merasakan ada sesuatu yang bakalan terjadi setelah ini. Gue awalnya nyantai aja sama mereka, mau ketemuan dimana dan bagaimana caranya mereka yang tentukan. Hingga akhirnya salah satu harus pergi meninggalkan kelompok karena mau praktikum untuk mata kuliah departemen. Namanya Geri. Sisalah bertiga: Agas, gue, dan satu cewek yang gue samarkan menjadi Dita.

Iyap, inilah cerita pertemuan gue dengan Agas pertama kali. Dia yang menjadi top stories gue kemaren. Dan inilah (lanjutan) cerita dibalik nama itu.

Gue dengan mudah menjadi dekat dengan mereka. Dengan Agas, Geri, dan Dita. Tapi belum begitu dekat dengan yang satu lagi. Tokoh minor ini sama sekali tidak ada kaitan dengan cerita, jadi gak akan gue sebutkan di sini. Gue dan berempat ini jadinya kemana-mana sering bareng. Sering banget. Maklum, waktu itu pikiran kita adalah bagaimana caranya laporan dan tugas kelompok itu selesai dengan cepat. Setidaknya walaupun engga berempat, adalah yang ngumpul misalnya cuman bertiga atau berdua. Mau dimanapun, asalkan ada alat-alat yang menunjang biar bisa mengerjakan laporan pasti ada kita. Bahkan sampe nyelip di saat-saat senggang dan liburan aja sampe kita ngerjain laporan. Sampe rada malem. Sampe kita hampir gila dengan semua laporan itu.

Kedekatan gue dengan mereka lama-lama membuahkan banyak isu dan kejahilan. Awalnya gue biasa aja dengan semua itu, tapi teracuni dengan perasaan gue yang waktu itu terlalu lebay dan intim sehingga agak gerah juga sih. Seringlah gue digosipin sama Agas, atau Agas sama Dita. Intinya banyak hal yang kita lalui bersama. Namun kelamaan gue mulai menyibukkan diri dengan organisasi dan mulai mundur dari mereka. Beberapa laporan terpaksa gue kerjakan sendiri. Mereka biasanya membantu dengan data-data yang memang harus dikerjakan ramai-ramai. Tapi analisis dan lainnya gue yang kerjakan sendiri.

Kedekatan ini, buat gue, sudah menaikkan rating mereka di mata gue. Beneran, gue care sama mereka. Mereka (terlihat) sangat manis di depan gue, menyuarakan segala macam kata-kata persahabatan dan kangen-kangenan yang buat gue indah banget. Apalagi dengan kondisi gue yang masih belum terbiasa tinggal sendiri, dengan temen-temen kamar gue yang rada punya masalah satu sama lain, akhirnya gue sangat menerima kehadiran mereka dan bener-bener rely on sama mereka.

Tapi suatu saat, semua menjadi berbeda. Suatu saat, mendadak Geri sms gue. Basa-basi, dengan segala kelucuan dan supel-nya dia. Lalu muncul inti ceritanya. Dia minta gue untuk mencari tahu ada apa dengan Agas dan Dita. Ternyata, hari sebelumnya mereka sama sekali tidak bertegur sapa. Gue di minta untuk bertanya kepada kedua belah pihak, soalnya Geri rada tengsin sama Agas (ngakunya). Gue dengan sukarela menyanggupi hal tersebut. Ini karena gue memang menganggap mereka sahabat gue. Dan kalo ada yang gak beres sama mereka berarti gue juga harus ikut membantu menyelesaikan.

Singkat cerita, mereka ternyata berantem. Sampai akhir pengembaraan gue gatau mereka berantem kenapa. Cuman yang gue tahu, ini berantem yang (pada saat itu) lumayan berat karena mereka berdua bener-bener gak mau ngomong dan bener-bener total menghindar. Padahal, beberapa hari setelahnya adalah ulang tahun Geri. Jadilah gue berusaha untuk mendamaikan mereka dan “mempertemukan” mereka melalui perayaan kejahilan ulang tahun Geri. Namun ternyata gagal. Mereka masih marahan. Walaupun sudah muncul satu-satu tanda mereka sudah kembali membaik hubungannya.

Lama-lama, tanpa campur tangan gue, mereka memang kembali baik lagi. Dan gue seneng, jujur gue bahagia. Walaupun gue hanya sedikit berkontribusi diantara mereka, tapi gue seneng. Dan muncullah sms Geri yang mengucapkan hal yang sama. Gue sama-sama bahagia sama dia. Namun tiba-tiba Geri mengucapkan hal yang berbau jujur-jujuran di smsnya. Gue hanya mengiyakan. Tanpa persiapan, ia langsung mengutarakan kenyataan yang pahit dibalik itu semua.

Gue ternyata hanya “dipermainkan” oleh mereka. Gue disuruh untuk mencari tahu kenapa mereka berantem oleh Geri supaya Geri bisa mendamaikan mereka. Karena ternyata Geri sendiri tahu apa alasan dibalik mereka berantem. Bahkan salah satunya yang menyebabkan mereka berantem adalah Geri.

Kenapa gue merasa dipermainkan? Karena gue merasa gue gatau apa-apa! Gue deket sama mereka berempat, gue menganggap mereka sahabat. Tapi, dengan ketidaktahuan ini dan kesengejaan Geri menyuruh gue untuk mencari tahu, sumpah gue ngerasa gue bodoh banget! Gue ngerasa kayak keledai bodoh yang mau aja disuruh ini itu, disuruh mencari tahu hal yang bahkan gue gak diceritain dan gue gak dikasih tau satu senti pun! Gue benci diri gue yang dibodohi. DAN GUE JADI BENERAN BENCI SAMA MEREKA. ALL OF THEM.

Mereka bilang sahabat? Kangen bareng-bareng? Kangen cerita-cerita? Lalu kenapa gue menjadi yang paling tidak tahu ketika mereka punya masalah? Sebegitu burukkah untuk memberi tahu gue ada apa diantara mereka? Even the worst between them?

Begitulah. Itulah kegagalan gue mempertahankan persahabatan gue yang (harusnya) indah dengan mereka. Geri sebenernya udah minta maaf. Tapi itu jelas GAK MUDAH bagi gue untuk memaafkan. Dia memang tahu gue sudah memaafkan. Tapi dia gak tahu betapa gue terluka sama mereka.

Agas, Geri, dan Dita kini hanya tinggal kenangan. Begitu juga beberapa hal tentang mereka. Keindahan kata-kata yang mengalir diantara kita. Semua dengan mudah hilang begitu saja. Terlupakan. Hilang bersama waktu.

But you didn’t have to cut me off.
Make it like it never happen and we were nothing.
I don’t even need your love.
But you treat me like a stranger and it feels so rough.

No you didn’t have to stoop so low.
Have your friends collect your accounts and change your number.
Guess that I don’t need that, tough
Now you just somebody that I used to know…

😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s