the unheards

ada hal yang kadang-kadang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

ada hal yang kadang-kadang bisa diucap, tapi tak bisa didengar. kelak ia akan menjadi sesuatu yang meliuk di pikiranmu, mengguggah, tapi tetap tak terdengar.

sementara sisanya akan keluar seperti percakapan biasa.

dan tak jarang mengguggah perasaan dan mebutakan naluri sesaat.

dan sedikit lainnya menjadi luka dalam hati.

lalu luka-luka ini akan mengguggah yang tadinya tak terdengar menjadi terbincangkan.

malah kadang menjadi realita.

Gak kerasa udah bulan Mei. Setahun yang lalu, bulan ini menjadi keramat bagi seluruh angkatan gue. Bulan ini adalah ketika kita ditentukan apakah lulus SMA atau ngga, termasuk apakah lulus SNMPTN undangan apa ngga. Buat gue, nasib baik sedang tinggi bulan ini. Buat beberapa teman lain, banyak yang belum beruntung di bulan ini dan beruntung di bulan berikutnya. Atau buat teman gue yang lain, bulan ini dan beberapa bulan setelahnya mereka kurang beruntung. Yang menentukan beruntung atau engganya bukan gue, tapi Tuhan. Maka berbahagialah gue dan mereka yang sedang beruntung bulan itu.

Tapi bulan ini, tahun ini, detik ini, alam semesta seperti sedang memusuhi gue. Semuanya menjadi lebih buruk, dan bahkan hampir sangat buruk di segala sisi. Gue sakit, drop total 4 hari sampe gue bolos empat mata kuliah, dan utang surat ijin sama dosen departemen. Gue gak masuk asistensi yang harusnya masuk 100% dan terpaksa ganti asistensi di hari lain. Gue bener-bener absen di organisasi, beberapa tanggung jawab gue akhirnya dialihkan ke orang lain. Untungnya masih ada semangat untuk ngelanjutin kuliah selama dua hari sebelum akhirnya gue cabut massal di long weekend minggu ini.

Dengan kondisi yang drop ini, suara-suara pesimis yang belakangan kedengeran semakin terasa. Mereka mengajak gue untuk lari dari masalah, bahkan sampe mengakhiri hidup gue. Gue semakin takut dengan keadaan, dan semakin gak stabil kalo ditinggal sendirian. Beberapa momen dramatis makin menginjak semangat gue dan membuat gue luluh lantak. Apalagi ternyata gue baru aja dikecewain sama beberapa orang yang ngakunya sahabat gue, padahal ternyata gue cuman dimanfaatin. Maka hidup gue semakin penuh dengan suara-suara orang tak terdengar itu.

Kadang memang lebih baik kita gak didengar sih, daripada didengar tapi cuman dimanfaatkan. Apalagi minta didengar, itu lebih ngemalesin lagi. Tapi toh ternyata kadang-kadang gue juga butuh didengar. Gak selamanya gue selalu siap untuk mendengar, ada saatnya gue juga mau speak up. Kadang-kadang gue bukan cuman the unheards yang bergemuruh dengan suara kecil, tapi gue seorang wanita that need to be heard. Tapi ternyata belum semua orang sepakat dengan definisi itu. Lalu gue kembali menjadi the unheards.

Yap, gue gak pantes didenger. Mungkin suara gue gak ada. Eksistensi gue cuman buat penyegar suasana. Sisanya? Non-exist. Gue cuman kursi yang dibutuhin kalau lagi duduk. Kalau lo gak butuh, gue akan tetap menjadi kursi, menanti untuk diduduki siapapun yang butuh. Gue cuman bumbu penyedap yang akan tambah seru kalau diikutsertakan. Sementara kalo itu menyangkut bahan yang penting, maka gue akan ditinggalkan. Gue hanya dipergunakan kalau keadaan saat genting, tanpa peduli apakah gue tahu atau butuh sesuatu atau ngga.

I am the unheard. No need to hear me, but at least I will stay here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s