bab ke delapan belas

Waktu berlalu. Sungguh, waktu berlalu. Gak kerasa udah setahun gue meninggalkan detik-detik ketika gue meniup lighter kecil di kursi asrama gue sendiri. Udah setahun berlalu semenjak temen-temen FOSCA gue ngasih surprise di taman gladiator. Udah setahun semenjak temen asrama gue ngasih kado jam angry bird yang sekarang udah rusak plus sebuah tart kecil ketika pagi hari.

Dan setelah setahun itu berlalu, sekarang gue tinggal di rumah kontrakan. Gue tinggal berempat, sama temen satu lorong dan temen satu kelas gue. Kita semua punya kesibukan yang luar biasa. Tingkat departemen yang kita jalani ternyata berdampak besar buat komunikasi kita yang semakin jarang. Sekarang, ketika gue pulang mungkin ada yang udah tidur dan ada yang udah setengah terlelap di depan macbook nya. Dan ketika gue bangun, kita masing-masing pusing dengan tugas yang belom dikerjain atau jarkom telat yang memaksa kita untuk berangkat cepat. Jujur gue kangen sama keadaan asrama yang rame dan hampir semua kamar standby 24 jam untuk dikunjungi demi sedikit pencerahan dan relaksasi dari semua kegiatan yang penat. Gue kangen asrama yang penuh dengan cerita lucu semua orang dan bagi-bagi makan gratis yang mempererat rasa silaturahmi. Gue kangen bawelnya semua orang yang nanyain kemana air dan kemana jalan untuk kita kuliah, karena semuanya dibongkar untuk perbaikan fasilitas. Gue kangen pulang dari kampus bisa cepet tanpa harus nganggur untuk nunggu jadwal pelajaran berikutnya. Entah kenapa asrama seperti candu yang menerkam kekosongan gue.

Kosong. Iya, gue kosong banget. Gue merasa sendirian. Terus sendirian. Walaupun banyak temen yang dateng ke rumah gue untuk ngerjain tugas, gue tetep sendirian. Gue sendirian untuk menghadapi ketakutan gue dan kegalauan gue yang semakin menjadi-jadi. UTS hampir datang dan gue belum siap apa-apa. Jadwal gue kacau, dan seperti keluhan-keluhan selanjutnya, gue selalu sakit. Waktu yang disediakan Tuhan seperti hanya sekelebat di kepala gue. Semua meminta gue professional, semua meminta gue bermanfaat. Tapi gue merasa gue dicurangi. Gue dicurangi waktu yang berlari, sementara gue hanya mampu mengayuh langkah-langkah kecil. Gue dicurangi oleh orang-orang di sekitar gue yang rasanya naik jet, sementara gue tertatih di pesawat kelas ekonomi. Gue merasa tak berdaya.

Dan esok, gue akan membuka bab yang baru. Bab ke 19 dari hidup gue. Bab yang mungkin akan penuh derita, sepenuh bab ke 18 gue yang akan segera gue selesaikan malam ini. Berlembar-lembar cerita akan mengisi relung hati gue lagi. Berpuluh-puluh esai kata akan muncul merangkai makna lagi. Dan gue mungkin akan terus seperti ini: kosong, rapuh, dan sendirian.

Sedikit nostalgia, bab ke 18 kemaren gue melewatkan kesempatan besar yang mungkin benar-benar hanya sekali muncul seumur hidup. Gue melewatkan kepanitiaan MPKMB atau Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru kampus gue padahal gue udah tercatat aktif dan resmi di keluarga BEM TPB. Gue membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja, karena alasan yang sungguh biasa di hidup gue: sakit. Gue masuk angin parah, dan akhirnya harus gak masuk kuliah sampe tiga hari. Padahal tiga hari tersebut adalah masa pendaftaran untuk panitia. Dan gue melewati hari-hari itu. Melewati kesempatan untuk bergabung dengan keluarga kepanitiaan terbesar di IPB. Gue melewati itu dengan luar biasa sederhana. Membiarkan waktu berlalu begitu saja.

Tapi kecewa perlahan muncul dan terus merasuki gue. Cerita temen-temen gue yang punya keluarga besar baru yang luar biasa (terlihat) nyaman membuat gue menderita. Akun Twitter MPKMB harus gue hilangkan dari timeline Twitter gue ketika liburan untuk mengurangi kepedihan itu. Kepedihan ketika melihat semua orang punya kesibukan yang sebenarnya bisa gue raih, namun entah kenapa gue lewatkan begitu saja.

Dan waktu terus berlalu. Kepanitiaan itu pun sukses menyelenggarakan acara dan panitia pun senang. Semua berjalan normal. Mereka (seperti) melupakan penat dan bersenang-senang ketika acara sukses dan semua kembali bahagia. Semua punya cerita candu yang menyenangkan. Semua punya pengalaman menarik dengan adik kelasnya yang baru pertama kali masuk IPB. Dan gue hanya tersenyum mendengar cerita mereka.

Hanya ada senyum pahit yang terbias dari gue. Dan tangis tak bersuara yang ada di hati gue.

Gak ada yang bisa gue lakukan sekarang. Masa kepengurusan BEM hampir habis dan adik kelas kini sudah merangkai cerita mereka di asrama. Dan gue tersesat di sini, di tengah perih dan sakit yang gue derita dari kekecewaan melewatkan kesempatan itu. Dan lagi, gue sendirian. Hanya sendiri.

Bab ke 18 akhirnya menjadi bab yang tinggal di kenang. Hanya rangkaian kata yang bisa terurai darinya. Lembar-lembar itu kini tertimbun di ujung jalan malam yang selalu gue lewati tiap gue pulang ke rumah. Gelap, kosong dan sepi. Seperti salah satu cerita muram yang terlukis di dalamnya.

Akankah kutemukan cahaya di bab ke-19?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s