how’s your friend anyway?

Halo.

Akhirnya, setelah perjalanan panjang menemukan waktu yang tepat kapan gue membuka internet dan sign in ke wordpress, hari ini gue berhasil menyisakan sebentar saja untuk menumpahkan unek-unek dan semua kata-kata yang tidak pernah tersampaikan ke blog ini. Sekaligus kembali menyatakan bahwa blog ini hidup, dan gue bukan sekedar bikin blog karena waktu itu sedang hits banget untuk punya blog pribadi. Tapi karena gue memang butuh blog ini untuk sekedar menceritakan pengalaman gue dan pkiran-pikiran gue yang gak sempat didiskusikan ke siapapun.

Okelah, daripada berpusing-pusing ria dengan pembelaan-pembelaan gue tentang blog ini, sekarang kita mulai diskusi mengenai satu hal yang buat gue sedikit krusial. Gue mau diskusi tentang konsep pertemanan yang gue dan lingkungan gue punya.

Konsep pertemanan? Buset, buat berteman aja mesti ada konsepnya?

Hahahaha. Konyol ya? Entah kenapa pikiran tentang konsep pertemanan ini muncul kemaren. Cerita dimulai ketika di semester 3 kuliah ini gue punya temen deket. Yah, bisa dibilang sahabat lah. Ada dua orang laki-laki dan empat perempuan termasuk gue di sana. Kita deket setelah ulang tahun gue dan semakin dekat akhir-akhir ini. Kita jalan bareng, menyelesaikan masalah salah satu temen kita juga bareng, mendapat masalah dengan pacar-pacar para lelaki sahabat kita juga bareng, meredakan emosi salah dua sahabat kita bareng, dan merasakan PDKT sampai salah dua dari temen kita jadian juga bareng. Intinya, banyak yang terjadi diantara kita yang akhirnya membuat kita saling kenal. Sampe tidur rame-rame dan menghabiskan waktu bersama lebih dari 24 jam bareng juga pernah. Intinya kita nyaman berada di sisi masing-masing dan memutuskan untuk mengikat itu semua dengan tali persahabatan yang “bagai keluarga” hingga sekarang. Sebuah pertemanan yang lumayan “baru” bagi gue.

Kenapa “baru”?

Karena gue gak mudah bersahabat dengan orang lain. Butuh banyak penyesuaian dan perasaan saling menghargai satu sama lain. Buat gue, sahabat bukan hanya seneng-seneng bareng, main bareng trus foto-foto bareng dan majang fotonya di fesbuk. Tapi, ketika lo bisa cerita sesuatu yang paling menyedihkan di hidup lo, dan percaya 100% kalo temen lo gak bakal membuka rahasia itu ke siapapun, dan sahabat lo meresponnya dengan sangat baik dan memberikan solusi TANPA diminta ke elo, itulah sahabat. Sahabat gak butuh banyak waktu ketemu. Sahabat gak butuh jalan-jalan bareng yang jauh sampe ngeluarin ongkos mahal. Cukup ketemu di suatu tempat dan mengahbiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol bareng, saling mengungkapkan isi hati yang paling dalam dan saling mendapat respon positif sekaligus dapet suntikan semangat yang lebih. Buat gue, itulah sahabat yang dinanti.

Tapi sepertinya gue belom dapet itu dari temen-temen “sahabat departemen” gue sekarang ini.

Gue seringkali kecewa dengan mereka. Mungkin karena gue belom bisa familiar sama emosi atau kepribadian mereka sebelum ini. Mungkin juga karena gue sendiri yang belom terbuka sama mereka. Mungkin karena gue terlalu tertutup atau bahkan gue terlalu sulit dimengerti mereka. Gue seringkali kecewa karena gue sering diacuhkan ketika forum. Sering gue merasa mereka gak ada ketika gue sedang di posisi paling bawah. Pernah gue merasa gue cuman jadi penunjuk jalan ketika mereka main, atau orang yang mereka bisa pinjemin duitnya ketika akhir bulan tiba. Gue sering ngerasa hampa justru ketika di tengah mereka. Atau bahkan gak bisa ngeluarin suara apa-apa karena tercekat ego gue sendiri.

Apa salah gue ngerasa kecewa ketika mereka main dan bergembira dan gue malah terperangkap di kampus karena tanggung jawab yang belum selesai? Dan mereka cuman bisa bilang “kangen”? Tanpa support atau apa gitu yang setidaknya bisa membuat gue merasa “it’s all be alright, because your best friends here.”

Gue gak butuh mereka ada 24 jam di sekitar gue, enggak. Gue cuman butuh satu ungkapan yang bisa dengan tegas bilang sama dunia bahwa:

I am alright, because my best friends is here. And you, problems, go to hell.

Susah ya?

Sebenernya gue pernah kok ngerasa perasaan itu ketika gue SMP-SMA. Ketika gue gagal masuk beberapa SMA dan akhirnya diterima di salah satu SMA di Jakarta yang menjadi sekolah gue. Sahabat gue ketika SMP bener-bener mendukung gue. Gue pernah mendapat satu sms yang sederhana. Intinya cuman ngajak ketemu di salah satu mall di Jakarta yang deket sama SMA gue. Tapi entah kenapa gue merasa lebih dari itu. Gue ngerasa gue masih punya sahabat gue walaupun kita jauhan. Dan ketika ketemu, gue cuman ngajak makan dan curhat segala macemnya tentang SMA baru gue. Dia juga cerita, bahkan dia cerita tentang gurunya dan lingkungannya yang jadi kejam banget (menurut pandangan saat itu). Kita cerita dari siang sampe sore sampe udah mau maem baru balik bareng ke Bekasi. Dan entah kenapa saat itu gue bener-bener ngerasa kehadiran sahabat gue ketika gue sendiri sedang berjuang melawan ego gue di sekolah baru. Dan saat itulah muncul ungkapan ini:

I have my best friends, and they support me like hell. And no one can stop me from now.

Hampir empat tahun setelah pertemuan itu, empat tahun setelah muncul semangat baru dan perasaan paling nyaman yang pernah gue temui, cuman satu harapan gue. Gue berharap mendapat hal yang sama dari sahabat di departemen gue ini. Tapi gue pun gak berharap akan dapet cepet. Gak mungkin setelah muncul tulisan ini mendadak semua berubah sempurna seperti apa yang gue harapkan. Tapi, apa salahnya berharap sama sahabat sendiri, kan?

Ini konsep pertemanan-ku, bagaimana denganmu?

PS: I miss you like hell-crazy, PTcN.

DSC_0493

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s