there you are, buddy.

Halo.

Ternyata, Tuhan masih mengijinkan tahun 2013 untuk melangkah. Memberi kesempatan untuk gue dan 7 Milyar penduduk Dunia mengecup kenikmatan dan membuat sejarah. Selamat tahun baru untuk semuanya. Semoga tahun ini lebih baik (lagi) daripada tahun sebelumnya. Cheers!

Eits, belom, post ini belom berakhir. Gue mau cerita pengalaman paling berkesesan sepanjang sejarah tahun 2013 ini. Kisah ini dimulai ketika gue dan beberapa anak kuliah lainnya akhirnya bertemu dengan liburan semester 3 sekaligus liburan tahun baru. Seperti biasa, temen-temen yang tadinya gak berkomunikasi mendadak ricuh dan berkangen-kangen ria sambil merencanakan pertemuan kita kembali. Termasuk sahabat-sahabat tertua saya: Rahmy, Helen, Ita dan Icha.

Setelah diskusi yang panjang, akhirnya ditetapkanlah bahwa kita akan bertemu. Gue dan Helen akhirnya berhasil ketemu duluan karena gue udah keburu mumet dan super kangen dengan manusia kriwil itu. Gue menyempatkan diri untuk ketemu dia di salah satu kafe di deket rumah gue, sekalian uji coba KRS pake wi-fi. Kalo gak salah itu hari selasa sore, dan gue berangkat dari rumah sekitar jam 4 sore abis mandi. Waktu itu hujan gemericik datang persis ketika gue baru turun angkot. Setengah berlari gue menuju itu kafe dan langsung memesan tempat di lantai satu deket balkon. Suasananya keren, setengahnya melankolis karena suara hujan rintik-rintik masih terdengar merdu diantaranya. Gue cuman mesen secangkir coklat panas, karena gue yakin anggaran gue untuk berlibur sangat jauh dibandingkan pengeluarannya.

Cukup lama, kalo boleh dibilang, gue nunggu Helen. Tapi yaa tetep aja gak kerasa karena laptop sudah menari-nari ditengah wi-fi yang sebenarnya gak bagus amat-amat. Tapi setelah berulang kali ngecek jam dan whatsapp, akhirnya kriwil itu muncul. Rambutnya yang kriwil mirip mie instan, pipinya yang chubby dan raut wajahnya yang setengah kebingungan mendarat di depanku. Namun sorot matanya yang teduh, yang selama ini aku rindukan, menebus kebosananku.

Gak butuh waktu banyak untuk memancing Helen bercerita. Dan gak butuh waktu banyak juga buat gue untuk menceritakan apa saja. Mulai dari Korea, Shinee, KRS, IPK, gadget terbaru, whatsapp, LINE, bahkan teman dan pacar. Seperti biasanya Helen bercerita tentang lingkungannya yang (menurut gue) penuh dengan komplikasi iri dengki dan kebohongan hidup. Tapi gue juga bercerita tentang lingkungan gue, terutama di Bogor yang kadang-kadang tak mengenakkan. Bercerita dengannya selalu memiliki kesan sendiri. Bagaimana dia menanggapi masalah gue secara ‘lurus’, tanpa politik dan adu kepentingan. Melihat suatu masalah bersama dia, gue menjadi lebih jernih dan punya sudut pandang yang berbeda. Walaupun terkadang kita tidak menemukan solusi yang jelas dan tepat, setidaknya mempunyai orang yang bisa mendengarkan sepenuhnya sudah sangat meringankan banyak hal.

Pertemuan gue dengan dia harus diakhiri ketika jam menunjukkan pukul 9 malam. Gue pulang dengan membawa beberapa janji akan bertemu dengan sahabat-sahabat yang lain. Tak lama berselang dari hari itu, sebuah sms membuat gue sedikit bergairah.

Rahmy ngajak main hari Minggu.

Kalo dia yang ngajak main, ini harus jadi. Kita semua paham jadwal dia yang (sebenernya nggak terlalu) sibuk bikin kita susah kalo mau ketemu. Setelah perdebatan panjang akhirnya gue ketemu ama dia, dan Icha dan Helen hari Minggu jam 10 pagi di Komsen karena kita mau jalan-jalan ke TMII. Yep, jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah.

Awalnya gue juga heran kenapa kita milih tempat itu. Gue pernah ke sana waktu kecil, dan kemarenan pernah ke sana lagi karena mau ke snowbay nya tapi gak jadi gara-gara penuh. Dan kali ini gue akan pergi ke sana lagi, bareng sahabat-sahabat gue lagi, tanpa ada kejelasana kita mau kemana dan ngapain. Yang jelas, hari sebelumnya gue pamer ama orang tua gue kalo gue bakal naik skylift alias kereta gantung. Hehe.

Pagi hari dimana kelak kita akan bertemu, gue mendadak dapet kabar kalo Helen gak dapet ijin dari emaknye.

Walhasil rencana kita hampir berantakan. Gue mengajukan rencana cadangan kalo kita akan berenang di kolam renang deket SMP kita dulu. Tapi, giliran Rahmy yang gak ada baju renang. Setelah sunyi beberapa saat, akhirnya Icha memberi kabar terakhir kalo kita jadi jalan ke TMII. Dan berangkatlah kita, sekitar pukul 11 lewat, menuju TMII.

Gue gak tahu persis selama apa kita gak ketemu. Yang jelas, di angkot kita hampir tidak menghiraukan siapa-siapa selain dunia kita sendiri. Hampir semua kita komentari, dari papan reklame, jalanan, rute, sampe cerita-cerita kita sendiri. Intinya, orang-orang hanya melirik kita begitu asik dengan dunia kita dan mereka memberi pandangan lain. Itupun dengan sengaja kita hiraukan. Sampe pada satu puteran, sekitaran Asrama Haji Pondok Gede, kita mulai kebingungan tentang rute ke TMII. Berbekal petunjuk singkat dari Ayah Rahmy, kita memutuskan untuk turun dan melanjutkan perjalanan dengan angkot lain.

Angkot kedua ini ternyata ‘ngerjain’ perjalanan kita. Kita diturunkan di depan gerbang TMII yang tertutup, dan bahkan itu bukan loket 2 TMII yang kita harapkan. Akhirnya gue mengambil jalan bertanya dengan penjual toko kelontong. Di samping toko kelontong itu memang ada gang kecil, selebar ukuran manusia dewasa, dan menuju entah ke mana. Kata supir angkot dan pemilik toko itu sih, kita disuruh lewat situ. Berbekal kenekatan dan ke-sok-tahu-an, gue dan Rahmy menggiring Icha dan Helen menuju gang sempit itu. Siapa sangka muara gang itu tepat berada di tengah kebun kosong dan rumah petak? Jalan setapak di depan kita akhirnya kita telusuri, dan siapa sangka juga, ternyata setelah melalui kebon kosong itu, kita persis berada di depan loket 2 TMII?

Usut punya usut, jalan yang kita ambil memang jalan pintas yang dibuat sendiri oleh penduduk sekitar untuk memudahkan mereka menuju TMII. Dengan suka cita kita menuju TMII, dan menjamah beberapa anjungan. Setiap anjungan yang kita singgahi pasti ada fotonya di depan rumah adatnya, atau di depan patungnya yang aneh-aneh. Karena mayoritas dari kita berdarah Minang, maka anjungan Sumatera Barat pastinya kita singgahi. Kita juga mampir makan siang dengan dua porsi sate padang dan coca cola gratisan dari Icha.

Perjalanan dilanjutkan menggunakan insting ‘turis’ yang merasuki kita dari kebon kosong dalam perjalanan menuju TMII. Kata Rahmy, perjalanan awal kita udah semacam halang-rintang. Langkah kita akhirnya tertahan di anjungan Kalimantan Timur, dimana kita berteduh dan memulai cerita panjang kita tentang banyak hal. Atau lebih ringkasnya, kata Rahmy dan Icha, ‘Love Line’ kita pun di mulai.

2-1
b-o-c-a-h

‘Love Line’ adalah jaringan cerita tentang cinta dari Rahmy, Icha, dan berakhir di gue. Helen bersikeras bahwa dia tidak punya cerita cinta yang bisa dibagikan. Akhirnya Helen menjadi pengganggu yang paling sering digeplak sama Rahmy dan Icha karena memotong di tengah-tengah cerita kita. ‘Love line’ ini puanjaaaaaaaaaaaaaaaaaang sekali, sampe akhirnya kita baru sadar ternyata jam sudah menunjukkan sekitar jam 4 sore. Barulah kita move on dari anjungan dan berniat menuju Istana Anak-Anak. Namun, karena masuknya butuh tiket masuk, akhirnya kita memutuskan untuk langsung menuju skylift, alias kereta gantung.

Di kereta gantung, kita cekikikan lagi karena baru sadar perjalanan kita baru menyusuri satu sisi dari TMII. Dan kita berjanji, next journey, kita akan menyusuri lebih banyak anjungan dan tempat lain yang menyenangkan di TMII. Karena kebanyakan anjungan tutup jam 5, akhirnya kita memutuskan untuk pulang. Kita pulang melalui jalan yang sama, namun ternyata pintu loket 2 TMII tutup jam 5. Gue dan Rahmy perlahan berjalan menuju pintu yang tertutup itu. Menyadari banyak juga orang yang berjalan ke arah yang sama, gue merasa ada selipan yang setidaknya bisa kita lewati. Dan ternyata, pintu keluarnya di luar pemikiran kita.

DSC05224
muka-muka polos

Persis di samping pintu gerbang besar, ada tembok rendah yang bisa saja langsung dilompati laki-laki dewasa. Namun, oleh penduduk setempat, tembok rendah itu diberi tangga di kedua sisinya. Tangganya sederhana, dari kayu yang dipaku, dan dijejerkan pada arah yang berlawanan, dari dalam tembok menuju luar tembok. Jalan menuju tembok rendah itu kecil sekali, mirip dengan gang kecil yang kita lewati ketika menuju TMII. Walhasil, kita semua memanjat dan melewati tembok itu layaknya sedang main outbond. Namun kali ini, di luar tempat outbond resmi.

***

 

Kita pulang dengan sebuah cerita. Pengalaman yang hampir tak pernah terduga sebelumnya. Ketika kita dikerjain sama abang angkot ketika masuk TMII, melewati gang sempit dan kebon kosong yang tak bertuan, dan pulangnya masih ‘dikerjain’ sama loket TMII yang harus dipanjat biar bisa keluar. Semua itu, seperti tidak mungkin. Helen terbiasa main dan ‘ngegaul’ di Jakarta bersama teman-temannya yang hip. Icha dan gue kalo main yaa paling ke pusat perbelanjaan dan pusat sosialita standar lainnya. Rahmy masih beruntung bisa main-main ke pantai di Sumatera sana. Tapi, ketika kita bertemu, berkumpul, dan bercerita, satu hari itu seperti… hampir seperti selamanya. Setiap menitnya, setiap detiknya, setiap langkah kita, semuanya. Seperti ada yang berkata lembut:

There you go, buddy. This is what you looking for.

Terima kasih yang tak terkira untuk kalian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s