tak sampai hati

Judulnya emang rada menakutkan sih, tapi itulah yang beberapa hari ini muter mulu di otak gue. Tentang hal-hal yang rasanya ingin gue sampaikan tapi gak tega mau ngomongnya. Dan gak tega juga mau bilangnya dari mana. Tapi kalo gak dikeluarin juga rasanya kayak terlalu banyak yang mengganjal di otak dan perasaan gue. Makanya gue rasa, kalo gue keluarin lewat sini akan lebih baik jadinya.

Perkenalkan tokoh utama dari posting gue kali ini, sebut saja namanya Indah. Gue berteman baru beberapa lama ini sama Indah. Dia temen satu departemen gue di kuliah. Gue deket sama dia gara-gara sahabat gue emang udah temenan duluan sama dia, dan akhirnya kebawa kemana-mana. First impression gue sama dia biasa-biasa aja. Dia cantik, putih, bersih, pinter olahraga, orangnya bisa membaur kemana-mana. Dan yang terpenting, dia supel dan banyak laki-laki yang kalo sama dia bisa diayomin. Pada dasarnya gue juga melihat dia orangnya manja dan kalo dalam lingkungan yang bukan comfort zone-nya dia, dia akan jadi orang yang sibuk dengan dunianya sendiri. Untuk bagian itu, memang agak mirip sama gue. Tapi selain itu, gue merasa rada berbeda sama dia.

Singkat cerita, gue dan Indah berteman baik dan bahkan bersahabat. Tapi seperti gue pernah jelaskan sebelumnya, definisi sahabat gue sama beberapa orang bisa dikatakan berbeda. Tapi gue toh nyaman-nyaman aja, karena emang gak ada yang perlu dipersalahkan. Akhirnya gue dan Indah beserta beberapa temen lain termasuk sahabat pertama gue di TMB memutuskan untuk tinggal bersama. Alasannya karena kita emang udah nyaman sama masing-masing, dan memudahkan kita untuk belajar bareng bahkan ngerjain tugasnya bareng. Dimulailah pencarian terhadap rumah impian kita itu. Gue dan sahabat TMB pertama gue ini, sebut saja namanya Hana, sangat antusias sama prosesnya. Kita nyari anak TMB yang juga lagi nyari kontrakan baru biar rame ada temennya. Namun pencarian itu masih ngambang, belom dapet yang bagus. Pencarian tertunda karena kita harus ujian. Akhirnya untuk beberapa kesempatan mereka ngumpul di kontrakan gue untuk sementara.

Percikan mulai muncul ketika temen kontrakan gue, sebut saja namanya Dita, komplain ke gue mengenai kebiasaan anak-anak yang tinggal di rumah ini. Dita dengan blak-blakan komplain banyak hal, salah satunya mengenai Indah. Gue tau itu emang sentimen masing-masing aja. Ketika ada yang bilang “Lo jutek sama gue.”, gak mungkin kan gue harus menyangkal dengan berkata “Kalo lo tau dalemnya juga nggak kok!”. Basi banget pasti. Jadilah gue hanya mengiyakan dan menerima komplain dari Dita. Tapi Dita masih baik sama Indah, walaupun ada kecenderungan juga Dita gak mau ketemu sama Indah lagi. Dita mengingatkan gue tentang kebiasaan Indah di rumah yang rada gak mengenakkan buat Dita. Masalah tanggung jawab di rumah dan beberapa hal mengenai kebiasaan sehari-hari yang prinsipal. Gue dengan besar hati menerima semua kritikan dari Dita.

Masalah kembali menguap ketika akhirnya gue bener-bener tinggal serumah sama Indah dan Hana. Dari awal gue mulai merasa ketidakcocokkan yang luar biasa sama dia. Masalah tanggung jawab, ya masalah itu lagi, yang entah kenapa buat gue jadi gak nyaman. Karena kita ngontraknya bareng-bareng, yaa paling enggak kontribusi semua orang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang muncul kan? Kalo Indah terkesan cuek dan menggampangkan segala urusan. Ya oke sih, kalo emang itu bisa dibuat sesimpel itu. Tapi kalo masalah pembayaran yang emang punya deadline, ya gak bisa lah dibuat segampang bayar utang sama temen sendiri.

Untuk beberapa kalangan, masalah keuangan emang sedikit sensitif. Sebagai temen, gue emang mempunyai sedikit tanggung jawab untuk membantu dia ketika dia lagi kesusahan, atau ketika dia emang butuh bantuan, Tapi kalo kita bantu terus, dengan pinjaman-pinjaman macam utang itu, kalo dia gak bisa kontrol pada akhirnya, bakalan jadi masalah buat dia juga kan? Gue pernah membahas kebiasaan Indah yang tidak bisa mengontrol utang dia sama anak-anak yang lain. Termasuk gue, juga. Siapa sih yang gak risih punya utang puluhan ribu sama temen sendiri? Atau kalo mau makan aja harus pinjem uang ke temen karena uang sendiri udah gak ada? Gue risih, gue malu jadi gitu. Tapi kenapa Indah biasa aja?

Gue gak ngerti cara berpikir dia. Dia dapet kiriman uang yang sama dengan gue dan temen-temen yang lain. Dia punya kebutuhan yang gak jauh beda sama kita. Bahkan kebutuhan gue bisa dibilang lebih besar sebelum ini, karena gue harus bayar listrik dan PAM untuk kontrakan gue dan Dita. Bahkan di rumah Dita gue nyewa pembantu buat bersih-bersih rumah sama cuci baju. Tapi Alhamdulillah, gue bisa mengontrol itu semua. Gue masih bisa nabung, bahkan ketika dompet gue ilang gue cuman minjem secukupnya sama anak-anak, dan bergantung sepenuhnya sama tabungan gue sendiri. Gue bahkan gak tega mau bilang tambahin uang sama orang tua, padahal keadaan gue saat itu emang bener-bener gak punya apa-apa karena semua uang dan data diri gue ada di dompet. Tapi gue bertahan sampe sekarang, dan utang gue juga kelar sama anak-anak. Sementara Indah? Sampe sekarang dia masih punya rentetan panjang masalah utang-piutang ini. Sebagai temennya, harusnya gue punya kemampuan untuk ngingetin dia masalah ini. Tapi, sampe detik ini gue masih bergeming.

Puncaknya, seluruh pertanyaan dan argumen-argumen gue semakin menjadi-jadi ketika minggu ini, dia bener-bener gak punya uang. Kita udah tinggal serumah, yang artinya makanan untuk makan sehari-hari ditanggung bersama. Gue sudah mengakomodasi beberapa hal, begitu juga Hana dan temen gue yang satu lagi. Dia masih bisa makan, walaupun gue selalu merasa kontribusi dia terhadap kita gak ada sama sekali. Dan saat kita memutuskan untuk makan keluar, dia gak mau makan karena gak punya duit. Kita gak tegalah, untuk ninggalin dia sendirian. Akhirnya kita beliin dia makan. Setelah selesai, gue dan anak-anak memutuskan untuk mampir ke warung untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Setelah beberapa saat gue menemukan fakta bahwa dia dengan entengnya membeli keperluan pribadinya dia sendiri dengan uang temennya. Secara sangat enteng. Tanpa ada tekanan atau maaf yang besar karena sudah merepotkan temannya sendiri.

Gue mentok. Gak habis pikir sampe situ.

Kemana duitnya? Kemana tanggung jawab dia sama uang bulanannya itu?

Lama gue berpikir, merenungkan tabiat Indah. Memikirkan apa yang bisa gue lakukan, paling tidak untuk mengurangi kebiasaannya dalam hutang piutang itu. Tapi semakin gue berpikir, semakin gue gak ngerti apa jawaban dari pertanyaan gue selama ini. Tapi balik lagi, gue gak bisa ngomong apa-apa di depan dia. Mau ngomong apa kalo ketika kita bilangin dia cuman mengangguk tanpa action lebih lanjut?  Ketika yang ada gue cuman dikasih muka jutek dan perkataan yang tidak mengenakkan gitu?

Kalo misalnya gue dikasih kesempatan untuk ngomong sama Indah, gue cuman mau bilang satu hal. Ada kalanya orang-orang disamping kita itu gak semudah itu untuk dimintain tolong. Ada kalanya orang-orang disamping kita itu justru punya maksud paling jahat untuk diri kita sendiri. Untuk itulah kita punya tanggung jawab sama diri sendiri. Kita udah gede, udah dewasa. Gak perlu lah setiap hari diingetin untuk makan tiga kali sehari. Kalau kita emang masih dikasih umur, berarti emang kita masih punya tugas untuk berkontribusi dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sekitar kita.

Semoga Indah bisa sadar semua ini. Agar gue, Hana, dan temen gue tidak harus membiarkan mulut ini menceritakan kejelekan temen sendiri di dalam forum.

2 thoughts on “tak sampai hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s