ketika gue jadi suporter

HALOOOOOOOOHHHHH..!

*nyalain petasan* *meledak* *tetangga muncul* *kabur*

Buset, buset dan buset. Gue udah gak inget lagi kapan gue posting terakhir ke blog yang tua ini. Untungnya gue masih inget kunci masuk ke blog ini apaan. Dan untungnya laptop gue masih ada software untuk ngetik isi blog nya. Jadi lah gue muncul hari ini untuk menceritakan sesuatu yang menurut gue penting untuk di ceritakan. Dan sekaligus untuk melepas rindu menulis yang akhir-akhir ini kurang mendapat aspresiasi dari diri gue sendiri.

Kampus gue, Institut Pertanian Bogor, punya acara tahunan yang namanya Olimpiade Mahasiswa IPB alias OMI 2013. Layaknya olimpiade, maka nomor yang dilombakan cukup banyak, misalnya atletik, futsal, sepak bola, bulu tangkis, tennis meja, dan buanyak sekali lainnya. Nah, setiap kontingen diwakili oleh masing-masing fakultas, baik itu program Strata 1 atau Diploma 3. Beberapa temen gue yang punya keahlian dalam bidang olahraga mendaftarkan dirinya dan tentu saja kemampuannya di BEM, dan ikut pelatihan ini itu untuk meningkatkan kemampuan. Sementara buat gue yang bisanya cuman nonton dan bersorak, gue pun menyiapkan diri untuk mendukung teman-teman gue yang akan bertanding. Nah, spesialnya di fakultas gue, ada satu golongan mahasiswa yang menjadi suporter sejati dari setiap pertandingan, namanya Batalyon Merah. Kebanyakan golongan mahasiswa ini berasal dari jurusan gue, termasuk yang pertama kali menginisiasi munculnya Batalyon Merah. Gue pun ditarik untuk ikut menjadi salah satu diantaranya. Karena tanggung jawab angkatan kepada angkatan di atas gue, banyak yang masuk jadi golongan Batalyon Merah. Tapi gak hanya dari departemen gue, departemen lain pun ikutan untuk masuk. Jadi makin banyak dah yang ikutan.

Singkat cerita, akhirnya OMI 2013 digelar dan gue pun menghadiri upacara pembukaannya. Gymnasium IPB riuh rendah, dan semua mahasiswa IPB dari Dramaga hingga Baranangsiang hadir. Kebetulan malam pembukaan digelar malam minggu di awal Mei. Buat berbagai macam golongan, nonton upacara pembukaan, apalagi OMI 2013 sama aja dengan malem mingguan sama sang pacal. Maka satu gymnasium penuh banget dengan ribuan manusia.

Gue sebagai anggota muda Batalyon Merah ikut barisan yang sejak awal disiapkan oleh temen-temen yang lain. Kertas berisikan chants-chants yang akan dinyanyikan disebar ke seluruh barisan dan kita latihan bareng. Kebetulan satu kontrakan gue sering ikut latihan awal sebelum OMI 2013, makanya gue lumayan bisa mengajarkan nyanyian-nyanyian itu ke temen-temen kiri kanan gua. Dan singkat cerita, malam pembukaan digelar, dan semua bersorak. Gue memposisikan diri di tengah kerumunan orang-orang yang gak gue kenal, tapi masih satu Batalyon Merah. Kami bernyanyi mengikuti arahan sang jenderal, bersorak ketika apapun yang terjadi, saling serang dengan chants beberapa suporter lain, namun ketika sang MC meminta sedikit perhatian, kami dengan kalem menrendakan suara kami. Semua berlangsung asyik sampai pertandingan pembuka dimulai. Pertandingan pembuka mempertemukan tim IPB All Stars dengan team basket terkemuka SM Britama. Para wanita mulai merangsek maju melihat atlet basket yang aduhai, terkecuali gue yang emang udah jauh terpojok di bagian belakang barisan.

Suara makin riuh rendah ketika tim IPB mulai menyerang, yang selalu berhasil ditangkis oleh para pemain SM Britama. Gue mulai merasa ada hilang suara di bagian kiri dan kanan gue, yang ketika gue lirik mereka sedang terperangah dengan salah satu jump shoot yang dilakukan oleh pemain SM Britama. Kemudian suara makin tenggelam dengan teriakan para wanita yang (sangat jelas) mendukung pemain SM Britama. Namun kehilangan suara ini ternyata dirasa mengecewakan sang jenderal. Ia terlihat semakin bersemangat dan mendesak kami untuk terus bernyanyi. Buat gue itu bukan hal yang sulit karena mata gue masih bisa mengikuti permainan SM Britama dengan mulut terus bernyanyi. Namun gue juga sedikit mempertanyakan kenapa kami bernyanyi chants tentang fakultas padahal yang sedang bermain di bawah sana adalah tim IPB. Cuman karena gue pikir ini bukan yang pertama kali buat sang jenderal, maka gue nurut aja. Akhirnya SM Britama berhasil menggulung tim IPB All Star dan menandakan pertandingan OMI 2013 resmi diselenggarakan satu bulan kedepan.

Pertandingan-pertandingan berikutnya Batalyon Merah selalu hadir memberi semangat pada seluruh atlet yang sedang berjuang. Gue sesekali hadir untuk ikut memberi semangat. Cuman perkara sesekali ini juga membuat mereka yang merasa dirinya super-Batalyon Merah ini memberi sindiran yang bertubi-tubi dan tertuju (sayangnya) hanya pada satu komunitas yaitu gue dan temen-temen yang lain. Padahal fakultas gue dibangun oleh berbagai macam golongan yang harusnya juga menjadi pendukung Batalyon Merah. Terus kenapa cuman gue dan temen-temen angkatan yang disindir? Dijatuhkan martabatnya di kelas dengan di teriaki seperti maling?

Saling sindir menyindir ini sempat meruncing di beberapa jaringan sosial yang beranggotakan (lagi-lagi) angkatan kita sendiri dan dilakukan oleh mereka yang gue sebut super-Batalyon Merah. Mereka yang selalu hadir di setiap pertandingan dan menabuh drum untuk membangkitkan semangat semua orang. Mereka yang sangat dekat dengan petinggi Batalyon Merah dan dipercaya untuk mengkoordinir angkatan gue untuk hadir di setiap penampilan Batalyon Merah. Sayangnya mereka mengkoordinir dengan cara gembala sapi memecut sapinya untuk bergerak. Tidak memanusiakan, dan menganggap kami ini ada hanya ketika mereka butuhkan. Sakit rasanya.

Berbagai macam pertandingan telah kami lewati, berbagai perseteruan telah kami jalani hingga sampai di bagian akhir OMI 2013. Kami menempati tempat yang telah disediakan, dengan berbagai upacara awal yang menjadi pamungkas dari OMI 2013. Akhirnya pertandingan penutup dilakukan dengan tim IPB All Stars ber-futsal ria dengan team yang gue lupa darimana. Pertandingan ini, tadinya gue pikir, akan sama dengan pertandingan pembuka yang hanya berisikan suporter yang mendukung fakultas dan terus bernyanyi hingga pertandingan usai. Namun, barisan depan kami yang berisikan beberapa suporter tandingan dari fakultas lain berhasil menjadi satu dan mengganti nama fakultas pada chants masing-masing dengan teriakan IPB. Tentu saja ini menjadi pemandangan unik dan berbeda yang, jujur, memang harusnya terjadi ketika pertandingan mempertemukan tim sekelas IPB All Stars. Namun sang jenderal masih kekeuh bernyanyi seperti biasanya. Gue mulai jengah dan bosan melihat keadaan dimana gymnasium terbagi dua, menjadi bagian yang solid mendukung IPB dan bagian lainnya hanya berisi Batalyon Merah bernyanyi sendirian dengan berteriak-teriak nama fakultas kami. Karena gue bosan, gue mulai berhenti bernyanyi dan terbengong-bengong melihat pertandingan futsal yang ramai itu. Tapi gue tau, ketika gue terlihat tidak bernyanyi di tengah kumpulan Batalyon Merah maka konsekuensinya akan menjadi besar. Bisa saja terjadi perseteruan yang mungkin akan menjadi besar karena ini kesempatan terakhir kami menjadi Batalyon Merah di tahun ini. Maka gue memutuskan turun ke bawah, ke pelataran dimana semua orang menonton pertandingan futsal tanpa bernyanyi. Gue masih sempat bertemu dengan temen-temen yang lain, bahkan sempat bertemu dengan anggota super-Batalyon Merah yang akhirnya gue kacangin karena perlakuan mereka yang menjengkelkan beberapa hari ini.

Melihat semangat membela IPB bagian di depan gue yang mengkombinasikan berbagai macam chants dan berdiri atas nama IPB, gue sempat membayangkan bagaimana kalau satu IPB bisa kompak bernyanyi untuk IPB semenjak pertandingan pembuka, dan pada pertandingan terakhir ini. Bagaimana semua orang bersatu dan bersemangat ketika pemain dari seluruh fakultasnya mendukung institusi tempat mereka menimba ilmu. Ada kekecewaan yang memakan hati gue, ketika fakultas gue sendirian bernyanyi dan membela entah siapa dalam nyanyiannya. Ketika perhatian mereka terpecah dan suara mereka tidak satu lagi. Termasuk suara gue yang sudah tidak mau lagi keluar karena perihnya tenggorokan. Gue merasa sedih karena ada beberapa orang yang masih membela gengsinya di tengah suasana seperti ini. Mereka masih bisa mempertahankan diri untuk memajukan ego mereka sebagai suporter salah satu fakultas terbaik, padahal nama fakultas sudah tidak ada lagi di tengah pertandingan all stars seperti ini.

Gue kemudian teringat dengan beberapa komentar orang tentang supporter Indonesia. Terkenal dengan anarkisme, kekerasan, dan fanatik yang mendarah daging yang kebanyakan berakhir di tindakan-tindakan konyol. Namun ketika membela negaranya, Indonesia, semua tumpah ruah menjadi pendukung merah putih yang bangga dengan jersey berlambang garuda, dan lantang meneriakkan semangat bagi pemain pemain Indonesia yang sebenarnya juga bermain di klub-klub lokal yang punya suporter fanatik. Bahkan ketika melawan tim Eropa yang mampir bermain di stadion GBK, mereka tetap membela Indonesia padahal mereka adalah juga pendukung fanatik dari klub Eropa. Tak ada pengkotak-kotakkan atau klasifikasi yang berbeda dari suporter. Mereka datang untuk mendukung, dan melihat permainan yang menghibur dari mereka yang bermain. Mereka terhibur, walaupun serak melanda dan ribuan peluh terbuang ke udara.

“Apa bedanya dengan kondisi seperti saat ini?” batin gue berontak.

Hasil pertandingan memang berakhir dengan kemenangan tim tamu yang tipis sekali. Batalyon Merah sendiri menjadi supporter terbaik OMI 2013. Rektor IPB yang kebetulan adalah dosen fakultas gue menyempatkan untuk melambai pada semua anggota Batalyon Merah dan menyampaikan senyum terbaiknya. Kemudian kami pulang dengan hati terangkat menjadi supporter terbaik tahun ini.

Tapi pemikiran tentang suporter ini masih gue simpan, dan terkadang masih menyembul ketika gue sendirian. Dan akhirnya, ketika liburan ini baru bisa gue sampaikan. Gue sempat berpikir tentang konsekuensi membawa cerita ini ke ranah media. Apakah gue bakal dihujat habis-habisan dengan jenderal Batalyon Merah? Apakah angkatan gue kembali bersitegang dengan super-Batalyon Merah yang mengamuk? Apakah gue akan mendapat sanksi masyarakat dari seluruh lingkungan gue sendiri?

Namun gue pikir lagi, kenapa harus takut? Ini adalah opini dan pendapat subjektif dari gue. Apa yang gue lihat, apa yang gue terima sebagai fakta bagi pikiran gue, dan inilah pendapat gue. Gue gak mungkin bisa menghindar dari keinginan untuk menulis dan menyampaikan pendapat. Blog ini ada dan masih bertahan karena keinginan gue untuk terus menulis di sarana yang berbeda-beda.

Apa salah gue berpendapat seperti ini?

One thought on “ketika gue jadi suporter

  1. Chaaa…
    I’m sorry but the moment i tweeted about how glad Ii am that you’re back on writing I had no idea aboout this post at all.
    It literally cut my heart when I read this post of yours.
    But believe me when i say this:
    “I do feel your pain.” Tbh my mom’s also dealing with the same damn thing. She’s struggling alone. She’s getting a divorce cha. Have i told u abt that?
    We really need to talk. I’ve got a lot to tell you.😦

    P.S. Contact me when you read this note
    You know who i am

    X

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s