lost

Halo.

Ketika awal gue memutuskan untuk menulis posting ini, gue udah sempet mikir banyak banget variasi pembuka tulisan. Mulai dari yang paling imut sampe yang paling kaku. Tapi ternyata yang bisa lancar keluar dari ketikan gue cuman empat huruf itu. Ya, apa boleh buat. Halo, sekali lagi, untuk kalian yang sempat berhasil nyasar di ‘ruangan’ kecil ini.

Tanpa banyak pembukaan, gue akan langsung cerita. Gue, hari ini, sangat amat tersesat. Tersesat bukan dalam perjalanan, melainkan dalam makna. Gue ngerasa tersesat banget. Gue hilang arah, hilang pijakan. Gue limbung, gue buta dan gue tak berdaya. Kerjaan gue seharian ini cuman bengong, ngelamun, dan mencet-mencet remot tipi tanpa kendali. Iya, gue memang update Twitter, tapi sekedar mencari apa yang terjadi di dunia luar. Gue sekedar ingin tahu ada apa di sana, kemudian merespon apa yang sudah ada di bagian mention gue dan kemudian menghilang. Tapi di alam nyata gue gak ada pegangan.

Gue, menafsirkan kejadian ini sebagai akibat dari punishment terlampau jauh yang gue buat untuk diri gue sendiri. Gue lagi liburan pergantian semester, dan nilai semester gue yang lalu hancur lebur. Jauh dari perkiraan terburuk yang gue buat. Jauh dari apa yang terlihat di pikiran gue selama ini. Saking jauhnya gue sangat merasa kecewa sama diri sendiri dan tentu saja merasa sangat berkecil hati di depan orang tua gue. Gue ngerasa apa yang gue lakukan selama ini sia-sia, dan gak ada artinya untuk membalas semua kebaikan orang tua gue selama ini. Gue menghukum diri gue sendiri dengan berbagai macam pikiran yang terus berkata bahwa gue ini gak ada gunanya di dunia. Tapi ternyata gue terlampau jauh. Setelah gue telaah ulang lagi, ternyata rasanya sama dengan jatuh dan tertimpa tangga. Gue ditelan muram kenyataan, dan dilebur sama perasaan sendiri. Gue pun hancur berkeping-keping.

Kehancuran diri gue ini diperparah dengan keadaan lingkungan yang men-transfer aura buruk negeri ini. Udah bukan rahasia kalau sekarang semua serba sulit, serba mahal. Semua diberitakan di media nasional, yang selama ini menjadi sumber informasi dan menu utama selama gue ada di rumah. Semua melaporkan betapa mahalnya daging sapi, cabe merah, bawang merah, daging hingga telur ayam. Setiap gue mendengar berita itu, gue ngerasa sedih banget. Kenyataannya, bokap gue gak kerja, dan gue gak punya penghasilan apa-apa. Semua dari nyokap gue. Tapi semua berusaha dipenuhi oleh beliau, walaupun terasa sekali ketika kita ke supermarket nyokap gak bisa belanja dengan total harga dibawah seratus ribu rupiah. Entah dalam kolerasi apa, justru gue yang semakin terpuruk dengan keadaan itu.

Gue ngerasa semakin gak adil. Gak adil karena ini bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Kenapa gak ada sesuatu yang ‘berkah’ yang muncul dalam hidup gue? Yang ada hanya rasa sakit, penderitaan, dan berita yang semakin menjauhkan gue dari kesan bahwa bulan ini bulan baik. Oke, gue memang gak se-religius orang-orang yang berpendar melalui kata-kata nan baik. Gue juga harus banyak belajar untuk itu. Tapi gue cuman menggugat, atau dalam arti lain, gue bertanya, apa yang baik dalam hidup gue selama Ramadhan tahun ini? Yang gue tahu, sekitar dua minggu ini gue menahan haus, lapar, emosi, kata-kata yang kurang berkenan, dan menahan air mata selama 13 jam. Kemudian ketika adzan maghrib berkumandang, gue melantunkan doa dan mengucap syukur karena tetesan teh manis panas yang mengalir. Tapi dibalik itu semua gue justru merasa tumpul atas nurani. Nurani yang peduli dengan orang-orang yang semakin terjepit harga-harga untuk makan. Nurani yang mau berkata jujur dan tidak menyelewengkan hak orang banyak untuk kepentingan sendiri. Gue juga merasa semakin menyesal atas apa yang gue lakukan selama ini yang tidak ada manfaatnya, bahkan di bulan Ramadhan sekalipun.

Dalam puncak kerumitan ini pernah sekali terucap gue gak mau puasa. Atau lebih parahnya, terbersit pikiran bahwa Ramadhan tahun ini tidak ada manfaatnya. Tapi kemudian ini bukan solusi. Gue bukan lagi anak kecil yang menyalahkan lantai ketika terjatuh saat berjalan. Blaming is not the answer. Tapi kemudian gue tersesat, dan kembali terjatuh dalam kesimpulan ‘gue ini gak bisa apa-apa’ dan ‘apa yang gue lakukan adalah sia-sia’. Begitu terus sampai akhirnya gue menyerah. Dan hari ini, malam ini ketika posting ini dibuat, gue sudah tidak sanggup lagi.

Gue memutuskan untuk mengakhiri punishment ini. Iya, gue mengakui bahwa gue selama semester kemaren sangat salah dalam pelajaran dan sekarang sedang merasakan akibatnya. Gue sudah kapok. Gue akan mulai lagi dari nol. Beribu maaf mungkin tidak akan mampu menghapus kekecewaan kalian sebagai orang tua gue. Tapi gue akan berusaha. Gue akan mencoba bangkit dari semua sampah ini. Kebangkitan adalah seni dari kekalahan, kan? Biarkan gue mencoba sekali lagi, untuk berjuang kedepannya.

Oh iya, mulai sekarang gue juga akan berhenti peduli. Gue akan berhenti peduli kepada semua orang. Gue gak akan peduli apakah harga daging akan terus meroket atau akan berhenti. Gue juga gak akan mau tahu apakah bulan Ramadhan ini berkah atau tidak. Gue hanya akan menjalani semua ini dengan lapang dada. Apa yang perlu dijalankan, maka akan gue jalankan. Jika tidak, gue akan berusaha untuk tidak memikirkannya. Sesimpel itu.

Gue tahu semua penjabaran jawaban diatas sesungguhnya hanyalah teori. Atau mungkin penjabaran diatas hanya menenangkan diri bahwa gue sudah mempunyai jawaban. Tapi pada akhirnya sulit untuk tidak menghukum diri sendiri, apalagi untuk berhenti peduli. Setelah malam ini masih akan ada malam dimana gue tersesat dan tidak punya pegangan. Mungkin pergulatan ini juga tidak selamanya berakhir. Tapi gue memang tidak seharusnya menyalahkan bulan Ramadhan hanya karena ini semua. Sekali lagi, blaming is not the answer. Gue minta maaf. Gue memang masih belajar tentang agama. Sulit untuk mengerti agama ketika orang tua kalian bahkan tidak sependapat untuk urusan itu.

Selamat menjalankan ibadah puasa, sobat.

One thought on “lost

  1. cha…
    i’m sorry… i havent read this post of yours the moment i tweeted about how glad I am that you wrote again.

    tbh cha… it literally cut my heart into pieces reading this. you’re not alone cha. i pretty much had the same damn shit.
    i’ve got so much to tell you but for now i just want you to know that i DO know hoe you feel… about your situation right now.
    bcs honestly, my mom’s also struggling in the same damn way like your mom.
    she’s getting a divorce anw. have i told u abt that? ah we really need to talk :”>

    p.s. contact me when you’ve read this kay.
    you know who i am.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s