don’t walk, but run!

Untuk beberapa orang, pasti ada yang udah ngeh banget pas baca judul post kali ini. Kalo belum, yuk mari kita urutkan dari awal bagaimana pertemuan gue dengan dunia yang sangat luar biasa: dunia variety show.

Ini bermula ketika gue ketemu lagi setelah sekian lama sama dua sohib gue yang udah sering banget muncul disini: Rahmy dan Helena. Ketika ketemu, mereka berdua langsung maen tagih-tagihan data. Gue yang waktu itu nggak ngerti apa-apa cuman bengong begitu Rahmy ngeluarin laptop nya dan menunjukkan koleksi ber-folder-folder data berupa video. Judul folder utamanya: Running Man.

“Cha, lu gak tau Running Man apaan, cha?” tanya Helen.

Gue menggeleng.

Kemudian kita nonton satu video bareng-bareng. Ah, ternyata mirip game show gitu yah. Episode yang pertama kali banget gue tonton adalah episode 149, Gumiho Race. Bahasa Korea yang sepintas mirip sama Bahasa Jepang, yang mana gue udah familiar duluan lewat berbagai macam anime jaman dulu, membuat gue gak ngerasa kesusahan untuk nonton. Ketika kita nonton bareng-bareng, Helen sama Rahmy udah bisa cekakak-cekikik dengan jokes mereka. Guenya masih bengong. Waktu itu subtitle yang dipake adalah Bahasa Inggris. Walaupun gue gak ada masalah ngeliat sub-nya, tapi gue baru tahu ada tulisan-tulisan bisa nempel di layar yang isinya macem-macem. Gue kelabakan, karena disatu sisi harus baca subtitle-nya dan juga baca tulisan-tulisan di layar. Ternyata, tulisan di layar itu namanya caption. Caption ini punya pandangan alias point of view berbeda dari keseluruhan acara. Semacam ada orang yang ngomentarin isi keseluruhan acara selain dari yang ngarahin games dan anggota game nya sendiri. Kebanyakan caption ini isinya lawak, suka ada emoticon juga yang numpang. Orang yang ngarahin games ini berada dibalik layar, kita cuman bisa denger suaranya doang. Dia sering dipanggil PD-nim.

Ketika gue nonton, problem gue adalah masalah muka. Itu muka mirip semua di mata gua astaga! Sementara anggota game ini nggak cuman tiga orang, tapi tujuh. Bahkan setelah gue nonton, dan akhirnya kecanduan, di bagian awal penanyangan anggota inti game ini ada delapan orang. Belum termasuk tamunya yang ikutan diajak main. Bisa dari idol, aktor, aktris, komedian, rapper, penyanyi, banyak lah. Anggota game ini sendiri punya latar belakang yang beragam. Member-nya ada yang MC kondang, penyanyi jaman dulu yang kemudian lebih sering tampil di tv, aktor dan aktris drama, rapper, dan komedian. Dengan berbagai macam latar belakang itu, mereka bisa menciptakan banyak karakter utama selama main. Layaknya game show, ada dua tokoh utama yang menjadi kepala tim di acara ini. Mereka berdua selalu berantem. Tokoh pertama punya badan proporsional, strategik, witty dan cekatan. Tokoh kedua badannya keker karena selalu work out di Gym, kuat fisik, pinter juga, instingnya kuat banget. Tapi diantara mereka ada geng pengkhianat, alias Betrayal Trio. Isinya tokoh-tokoh tertindas yang melakukan apa aja supaya nyawanya satu-satunya, yang tertempel di name tag di bagian punggung, nggak diambil pihak lawan.

Secara konsep, gue harus mengakui bahwa ini acara yang luar biasa berbeda. Konsepnya game show, bahkan ‘wikipedia’ menyebutnya urban game show, tapi disatu sisi banyak yang bisa digali dibalik karakter dan penokohannya. Seperti novel, setiap hubungan dari karakter punya latar belakang yang menarik. Bagaimana tokoh yang suka berkhianat mempertahankan diri, menjadikan dirinya kuda hitam dari tim, tapi disatu sisi nggak lupa untuk jadi pemenang. Bagaimana kepala tim mempercayai anak-anaknya, sampai pada satu titik lupa dan ahirnya dikhianati sendiri sama salah satu dari geng Betrayal Trio itu. Tapi acara ini gak lupa sama lingkungan dan kebudayaan mereka sendiri. Selama shooting kadang-kadang instruksi dikasih via telepon genggam, telepon pintar keluaran baru, chatting app (belakangan gue tahu Korea segitu majunya dalam bidang teknologi), dan bahkan QR-code. Tapi ketika perlu, mereka akan balik ke kebudayaan mereka, tentang budaya Korea yang berlandaskan kerajaan macam di drama-drama kesukaan Ibu kita. Mereka nggak cuma main di skyscraper, tapi bisa di desa kebudayaan yang rumahnya masih pake rumah panggung. Sehingga tanpa sadar, kemudian gue jadi sangat adiktif dengan acara ini. Episode yang paling berkesan dan membuat gue jadi maraton nonton adalah episode 84-85, ketika BigBang jadi bintang tamunya. BigBang adalah salah satu idol besar dari Korea, yang gue udah tahu duluan dari SMA gara-gara salah satu temen gue.

koleksi

Satu hal yang paling bikin acara ini menarik adalah konsep Spy. Spy, alias mata-mata, kerjaannya paling bikin jantung ketar-ketir. Dia disisipkan untuk satu misi, dan kebanyakan misinya adalah 1 vs the rest. Maksudnya adalah dia harus mengeliminasi semua anggota dan membuat dia menang sendirian, tanpa diketahui oleh siapapun dalam game itu. Lebih seru lagi, tiga tim yang bertarung punya Spy dimasing-masing team dan membuat satu tim lain yang bentuknya invisible, tapi bisa saja menang di akhir permainan. Kadang-kadang yang begini ini bikin frustasi ketika nonton, tapi bakal penasaran juga kalo nggak ditonton. Dan gue sudah jadi korban maraton berepisode-episode karena efek nagih dan penasaran “game seperti apa yang akan diusung di episode kedepannya.”

Running Man memang lebih berkonsep ke game show. Tapi setelah beberapa lama, gue sadar ternyata dia lebih suka dipanggil variety show. Kenapa? Karena unsur karakter, penokohan, Spy, dan latar belakang beragamnya itu membuat acara ini nggak cuman mentok di permainan, tapi juga banyak varietas yang lain. Di episode awal, kadang-kadang kita bakal lebih sering ngelihat antara tokohnya berantem (dalam arti positif), ledek-ledekkan, ngecengin bolak-balik, dan lainnya. Di satu episode, setiap tim ngelakuin psychological war supaya tim lain labil dan akhirnya bisa menguntungkan dirinya. Atau bikin game baru sederhana cuman buat menentukan urutan main. Di satu sisi, bahkan mereka dengan tegas marah ke PD-nim gara-gara disuruh nyemplung ke air padahal lagi musim dingin. Atau mereka akan main game bareng senior-senior yang lebih tua, nari-nari untuk mengembalikan nostalgia masa-masa mereka masih muda. Konsep itu membuat Running Man lebih dari game show, dan akhirnya menuju ke jenis lain acara bernama variety show.

Kalo mau liat sneak peek kocaknya Running Man, bisa ditengok video dibawah. Mungkin akan ada yang kena virusnya setelah ini? Muehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s