forgiveness

BWAH!

Setelah Avatar ditemukan, maka diketahuilah bahwa negara Api dan negara Air memiliki ego yang tinggi untuk menguasai dunia. Maka, bertarunglah mereka di tanah datar untuk mendapatkan negara kekuasan. Penulis dari blog ini kebetulan menemukan lemari kayu Narnia dan terjebak ditengah peperangan. Namun, setelah perjalanan panjang menembus hutan belantara, akhirnya penulis bisa menemukan jalan pulang dengan pintu kemana saja Doraemon. Singkat cerita, penulis bisa kembali ke Indonesia dengan selamat dan dapat menceritakan pengalamannya disini.

*digaplok satu kampung gara-gara ngarang cerita*

Well, eniwei, sekarang penulis kembali mengacirkan jari jemarinya diatas tuts keyboard dan memutuskan untuk mengisi kembali diary lama yang sudah usang ini. Mungkin terlihat jelas sekali ada perbedaan rona tulisan dari tulisan sebelumnya setelah vakum hampir setahun menulis blog. Tapi, inti tulisannya akan tetap sama: menceritakan apa yang tak sempat tercerita kepada orang-orang yang dekat dengan penulis.

Dan, tulisan pertama yang akan mengacir adalah soal maaf-memaafkan.

Kebetulan, tulisan pertama ini dibuat bertepatan sekali dengan Idul Fitri tahun 2014. Momen dimana kebahagiaan terpancar karena sudah berhasil menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Momen dimana semua orang berlomba-lomba menyambung kembali tali silaturahmi yang sempat merenggang. Tau kan, di kalangan anak muda jaman sekarang, bulan Ramadhan pasti ada jadwal buka bersama dengan teman berbagai angkatan. Mulai dari teman angkatan SD, SMP, SMA, satu fakultas, satu jurusan, satu organisasi, satu kepanitiaan, satu ekstrakulikuler, dan lingkaran pertemanan lainnya. Yang tadinya hampir nggak pernah ketemu, bisa mendadak akrab dan narsis bareng trus mejeng di sosmed. Yang tadinya bisanya cuman retweet di twitter, bisa bercanda bareng dan saling tukeran nomor hape yang aktif. Ah, banyak deh ceritanya. Pasti banyak juga yang ngerasa momen buka puasa bersama ini emang momen tahunan yang sakral karena bener-bener bisa membangkitkan memori nostalgia jaman dulu. Kadang ada rasa rindu, dan pertanyaan, “Kenapa tahun ini nggak ada jadwal buka sama si-Ini, si-Anu,…”. Bahkan, di detik-detik Ramadhan aja, masih ada yang nyempet-nyempetin ketemu untuk menyambung kembali cerita yang mungkin sempat sepi diantara kita~ (((pengalaman penulis))).

Dan, akhirnya, pada malam takbiran, berbondong-bondong ucapan saling bermaafan akan mengalir kayak buffering Youtube. Ngadat-ngadat karena jaringan yang penuh, tapi sering dan pasti, sampe akhirnya di satu masa udah nggak ada yang sms atau whatsapp lagi. Kemudian kita akan sadar, ada beberapa manusia yang dulu kita sebelin, minta maaf duluan. Bahkan menyelipkan kata-kata mesra supaya maaf ini terasa ikhlas dan setulusnya.

Kayak apa yang mau penulis ceritain sekarang ini.

*Lah, terus daritadi penulisnya ngapain? Kok baru mau cerita?*

Sebenarnya, nama ini udah pernah muncul di salah satu tulisan di blog ini. Singkat cerita, setelah tulisan itu, penulis punya masalah (lagi) dan berakhir dengan keputusan yang nggak enak. Hampir satu semester selama kuliah kemaren, penulis mengakui kalo penulis bener-bener foto mati ini orang. Mau dia ngapain kek teserah. Mau dia jungkir balik ke hutan trus mecahin gelas, penulis gak mau tahu. Intinya, ada sesuatu hal yang bener-bener ngga bisa penulis maafin dari satu nama ini.

Tapi, tiba-tiba, entah kesambet apa, nama ini whatsapp duluan. Minta maaf.

Terlihat tulus, karena nggak pake broadcast message. Apalagi nge-tag berjamaah di Path.

Bener-bener masuk ke private chat. Dengan imbuhan yang dibuat seakrab semampunya, dengan pemilihan kata yang bener-bener nyentak di hati penulis. Karena si nama ini menyebutkan dengan jelas bahwa di ngeselin. Disisipkan pula maaf empat kali beserta emot khas whatsapp.

Penulis syok. Bingung mau bales apa.

Tadinya penulis mau ngacangin itu chat. Kayak biasa yang penulis lakuin selama kesel sama dia. Tapi penulis inget kalo ini momennya lebaran. Nggak mungkin penulis kayak anak kecil yang ngambek ampe berhari-hari. Anak kecil aja kalo ngambek, dibeliin balon juga udah baik lagi. Masa penulis lebih egois lagi dari anak kecil umur 5 tahun? Malu sama umur!

Akhirnya, penulis menuliskan kata-kata standar bahwa maaf diterima. Plus senyum setulus jari mengetik. Setelah menekan tombol kirim, si pengirim nggak bales lagi. Berarti urusan kelar. Penulis bernafas lega.

Tapi keesokan harinya, penulis kepikiran. Apa bener penulis udah bener-bener memaafkan dia?

Ada sebaris kalimat yang pernah penulis ingat yang kayaknya cocok sama tulisan ini:

Time is the best medicine for the heart. – Anonim.

Waktu. Iya, sang waktu. Kadang-kadang sakit dihati ini bakalan sembuh berjalannya waktu. Tapi, apa iya waktu udah menyembuhkan sakit hati penulis?

Jujur penulis juga nggak tahu udah apa belumnya. *sweatdrop*

Kalo boleh jujur, sampe saat sebelum penulis membuka laman ini, penulis masih nggak mau melihat sesuatu apapun yang berhubungan dengan nama itu terbukaa di hadapan penulis. Melihatnya, kadnag-kadang cuman bikin sakit hati. Inget betapa dulu dia bahagia, dan dia merasakan kebahagiaan itu tanpa merasakan balik pengorbanan yang pernah penulis kasih setulus hati ke dia. Well, pada saat itu, hampir tanpa pamrih sama sekali.

Berarti, penulis masih kesel dong?!

Ketika ditanyakan pada konsultan psikologis penulis (re: Bapak Penulis), beliau cuman ngangguk-ngangguk sambil bilang: “Mungkin kalo maaf udah. Tapi, kembali seperti dulu lagi gak bisa. Sekarang batasnya cuman itu. Teserah dia mau ngapain, kalo memang gak ada hubungannya sama kamu, gak usah digubris. Tapi baik, tetep baik. Cuman nggak ada lagi perhatian dan pengorbanan seperti dulu lagi.”

Penulis pun balik ngangguk-ngangguk kayak boneka kucing lagi manggilin tamu di toko perhiasan orang C*na.

Dan, begitulah. Ini mungkin seni memaafkan. Membiarkan berjalan kembali seperti biasa, dan mengiringi langkah-langkah ‘kesalahan’ itu pergi.

Luka memang tidak bisa sembuh. Namun, luka itu bisa tersamar. Sampai rasa sakitnya habis. Sampai kita lupa mengapa kita mendapat luka itu.

Untuk nama yang tersebut di tulisan ini, maafkan penulis yang sungguh egois ini. Maafkan penulis yang masih meradang sampe detik ini. Mari kita biarkan waktu yang menyembuhkan ego penulis kepadamu. Menyembuhkan luka dalam yang kelak menjadi sejumput cerita yang bisa dibagikan ke anak-cucu kita.

Akhir kata, Selamat Idul Fitri semuanya!

idul fitri 2014

P.S: akun @raachaan tersebar di seluruh logo sosial media yang tercantum diatas. Berminat menemukannya? ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s