365 days

A goal of relationship: having one.

Sebuah posting di situs hiburan internasional, 9gag, yang tertulis di atas membuat gue tersenyum. Ya, sebuah tujuan dari hubungan yang sering diimpikan orang-orang adalah memiliki satu dari mereka. Kecuali gue, dulu. Gue yang dulu nggak pernah berharap ada yang menyukai gue, dan nggak pernah bermimpi punya hubungan spesial dengan satu orang. Punya temen banyak atau sahabat aja buat gue udah menyenangkan. Apalagi pas kuliah liat satu departemen isinya cowok semua. Nggak mesti punya hubungan spesial aja gue udah bisa nempel-nempel sama cowok ganteng. Maka, hidup gue so-so aja.

Sampai satu saat tiba-tiba hubungan gue dengan beberapa orang terkerucut menjadi hanya satu orang. Dengan satu laki-laki. Sahabat gue. Cerita awalnya, gue sangat bersyukur punya sahabat cowok di awal masa kuliah. Entah kenapa, rasanya lucu dan menyenangkan sekali punya sahabat cowok yang bisa diajak ngobrolin apapun dan nggak punya drama berlebihan seperti punya sahabat cewek. Maka gue sangat bebas dan biasa aja ketika gue sama dia. Pergi kemanapun, makan dimanapun, dan ngga terlalu peduli urusan ‘kata orang’ selama gue sama dia. Kalo ditanya yaa tinggal ngeles “temen-temen di departemen gue cowok semua, wajarlah kalo kemana-mana gue sama cowok.” Abis itu juga pada nggak bakal komentar banyak. Haha. *evil glare*

Sampai satu ketika gue sadar kalau gue mulai punya ketergantungan khusus sama sahabat cowok gue. Kita definisikan dia sebagai ‘Langit’. Gue dan Langit masing-masing mulai saling mengisi dan berbagi jadwal tiap hari. Tiap hari yang dicari yaa dia. Apa-apa nungguin dia, ngurusin tugas sama dia. Cerita keseharian dan saling tuker pemikiran sama dia. Bahkan mulai ngerasa terbuka untuk ngeluh sama dia, satu hal yang akan sangat jarang gue lakukan kalau belum bener-bener percaya sama satu orang. Di satu sisi, entah kenapa sahabat-sahabat yang tadinya main bareng juga pada ngilang. Walhasil, jadilah gue sama Langit mulu.

Tadinya gue nggak mikir kalau hubungan saling mengisi ini ternyata yang disebut orang adalah sebuah hubungan ‘in-relationship’. Sampai salah satu sahabat gue yang lain, dan cowok juga, mulai neror gue dan terus-menerus ngecengin gue dalam arti lain. Dialah yang ngebuka mata gue pertama kali bahwa hubungan saling mengisi ini terlihat lebih dalam daripada sekedar sahabatan. Dia juga yang setengah ‘nyuruh’ gue untuk tegas dan (bahasa anak sekarang) minta kepastian atas hubungan gue ini. Setelah lama gue timbang-timbang, dan sempet bikin semacam kode awal sambil ngeliat reaksi si Langit, gue memutuskan untuk beneran nanya kepastian status gue apa di mata dia.

Pada awalnya, Langit emang nggak langsung ngasih jawaban. Dia cenderung untuk memberikan kode-kode romantis nan abstrak sama gue. Jelas gue nggak ngerti apa-apa. Satu kali gue nanya, dia nggak ngejawab langsung. Gue nggak mau maksa. Tapi, gue geregetan sekaligus penasaran sama makhluk Tuhan satu ini. Seminggu kemudian, dengan beberapa penjelasan yang gue juga udah rada lupa tentang apa, gue akhirnya yang tancap gas ke Langit. Dan jawaban Langit adalah satu senyum dengan kecupan manis di kening.

Semenjak saat itu, di dalam hati gue berucap: “Oh, jadi gue udah jadi pacar Langit.”

Kejadian lucu muncul beberapa hari setelah itu. Sebagai cewek labil yang baru aja jadian dengan pria muda tampan, gue membuat selebrasi kecil dengan memasang tanggal jadian di sebuah catatan kecil di laptop. Sepertinya Langit mengetahui hal itu, dan dengan cara yang lebih kreatif dari gue, dia menulis tanggal jadian itu di bagian belakang mobil dia yang berdebu. Sekilas nggak keliatan, tapi jujur pas gue pertama kali liat itu gue langsung ngegodain Langit. Dan yang digodain cuman senyam-senyum kecil. Bikin gemes.

Gue tidak langsung mendeklarasikan hubungan gue dengan Langit. Gue memilih untuk bersikap biasa. Walaupun ada ego diri sendiri yang selalu iri ketika ngeliat pasangan lain yang selebrasi tanggal jadian tiap bulan, bilang “met anniv yaa sayaaaang~” sambil nge-tag sang pacar di media sosial, gue hanya tersenyum. Waktu itu alasan sesungguhnya adalah karena Langit baru mengakhiri hubungannya yang cukup luar biasa penat, dan jaraknya baru 5 bulan setelah dia putus. Berhubung mantan-nya ini memang luar biasa ‘menakutkan’, dan gue nggak mau ambil resiko Langit dihujat abis-abisan di media sosial atas nama si mantan, maka gue memilih melindungi hubungan ini. Selain itu, kebetulan si mantan memang kenal gue, dan cukup baik sama gue dibanding sama sahabat-sahabat gue yang lain. Bahkan, si mantan ini pernah minta tolong sama gue supaya Langit membatasi pergaulannya sama cewek selama mereka baru putus. Gue nggak ngasih kejelasan apa-apa atas permintaan ini, karena sesungguhnya pada saat yang sama, gue dan Langit memang lagi sering bareng. Gue nggak mau ngejilat ludah gue sendiri, dan juga gue nggak setuju sama cara dia yang kayak gitu.

Sifat posesif gue pada awalnya cukup mengganggu emosi serta kestabilan hubungan (cailah). Cuman karena gue memang nggak mau cari ribut, dan gue nggak suka berantem, gue berusaha luar biasa untuk mengurangi sifat ini. Walaupun gue pernah meledak, dan nangis gara-gara bete nggak jelas, tapi sesungguhnya Langit juga berkorban banyak hal terhadap gue. Dari situ gue sadar bahwa hubungan ini nggak main-main, dan gue juga harus bersikap dewasa ngadepin sisi kekanak-kanakan gue yang memang susah untuk dikontrol.

Ada banyak hal yang gue pelajarin selama ngejalanin hubungan ini. Saling percaya antara satu sama lain, itu yang paling susah. Apalagi karena gue biasa ketemu dia, sekalinya nggak ketemu langsung uring-uringan. Padahal dianya juga nggak kenapa-kenapa. Gue juga jadi luar biasa cengeng. Yang tadinya kalo nonton film sedih nggak ada masalah, sekarang jadi suka bermasalah setiap ada adegan yang berpotensi mengalirkan air mata. Apalagi tiba-tiba suatu guncangan hebat menghantam gue beberapa bulan lalu.

Gue nggak akan cerita detailnya, intinya gue sama dia susah, untuk tidak menyebut tidak mungkin, melanjutkan hubungan ke tingkat berikutnya. Latar belakang gue ternyata kurang baik, sehingga gue tidak bisa dipertimbangkan mendampingi pangeran berkuda putih ini. Bukti kehancuran gue bisa dilihat di postingan gue sebelum ini, di rumah ini. Seminggu lebih gue hancur, persis sebelum kuliah semester 7 berjalan. Dari luar gue terlihat biasa, menjalani hubungan dan pertemanan seperti nggak ada apa-apa, padahal kalo boleh jujur, untuk berhenti nangis aja sulit banget. Frekuensi berantem gue sama dia jadi sering, Tapi, kita berdua berusaha untuk bangkit dan nggak terlalu mengungkit yang macem-macem. Rasa sakit yang suka muncul gue obatin dengan memori-memori bahagia gue sama dia. Gue akan menghabiskan waktu sama dia internetan di kampus, sampe jam 9 malem, demi menghabiskan waktu kita berdua yang bisa aja nggak lama lagi. Gue menutup telinga dari omongan orang-orang yang merasa kedekatan gue sama dia berlebihan. Ucapan “mereka nggak tau apa-apa”,  selalu jadi jimat gue ketika hubungan gue jadi bahan omongan orang.

Jujur, gue iri luar biasa dengan hubungan orang-orang yang lancar dan sangat mungkin dilanjutkan hingga ke tahapan selanjutnya. Sekarang ini umur gue udah 21 tahun lebih, dan hubungan yang tengah berjalan yang berada di sekitar gue nggak mungkin hubungan yang main-main. Ketika lo udah berusaha mati-matian untuk mempertahankan suatu hubungan, dan lo tau akhirnya nggak akan seindah cerita dongeng, di otak gue itu terlihat seperti sebuah kesia-siaan, dan rasanya luar biasa sakit. Rasa sakit ini yang selalu dan selalu muncul setiap gue sendirian, dan akhirnya mengalirkan air mata gue.

Walaupun otak gue seperti menyerah dan bilang bahwa hubungan gue ini hanyalah sebuah kesia-siaan, nyatanya hubungan kita berdua masih bisa bertahan hingga saat ini. Pemikiran ‘konyol dan nggak serius’ gue dulu yang merasa dia adalah ‘sahabat yang kebetulan jadi pacar’, semakin hari semakin menghilang, berganti jadi pemikiran sederhana bahwa dia sekarang adalah orang yang akan gue lindungi dengan cara apapun. Setiap hari yang gue lewatin dengan Langit, adalah anugerah luar biasa yang pernah gue terima. Hingga hari ke-365 ini, kita masih diberi kesempatan untuk bergandengan tangan berdua dan menikmati momen-momen itu. Dan tulisan panjang ini adalah bentuk kebahagiaan sederhana gue.

Ya, gue bahagia. Gue bahagia karena ternyata hubungan yang gue jalani ini secara nggak langsung mendewasakan gue. Dan gue bahagia bisa merasakan hubungan ini sama orang seperti Langit, yang secara tulus menerima gue apa adanya. Menerima semuanya, dan bertahan bersama gue, si perempuan hina ini. Dan hubungan ini sudah menggenapkan dirinya selama satu tahun. Sebuah momen yang hampir aja nggak kejadian. Tapi ternyata justru merupakan momen paling indah yang pernah gue lewatin.

Kepada Yang Maha Mengetahui, terima kasih untuk satu tahun yang luar biasa ini. Sebuah keinginan sederhana, untuk terus melanjutkan hubungan ini, tentunya akan selalu gue panjatkan setiap hari. Seperti hidup yang akan selalu berjalan, selama nafas ini masih ada, selama itu pula hubungan ini akan gue pertahankan. Entah seperti apa dibelakangnya, apakah gue kuat dan sanggup menghadapi semua kemungkinannya, biarlah Yang Maha Mengetahui yang akan menjawab. Karena Dia-lah yang mempertemukan aku dan Langit untuk kedua kalinya. Dan Langit yang ini, akan gue pertahankan semampunya.

Happy anniversary. Let’s continue this journey, because I just loved you too much.

PF. 12 Maret 2015.

One thought on “365 days

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s