cerita yang tidak populer

KRIEEEEETTTTT…

*clingak-clinguk. nggak ada orang. isinya debu ama sarang laba-laba semua*

Setelah persembunyian selama berbulan-bulan ini, akhirnya gue kembali ke pangkuan rumah kecil ini utnuk bercerita, sesuatu yang gak bisa diceritakan sama siapa-siapa. Walaupun lagi heboh masalah karya cipta dan sistem copy paste, gue rasa pemikiran ini terlalu besar untuk gue handle sendiri. Jadi, daripada disimpen dan bikin sakit hati, boleh dong kalo gue bagi sedikit sama komunitas maya?

Cerita kali ini sungguh sebuah cerita yang tidak populer. Sebuah pendapat yang mungkin akan menimbulkan banyak mispersepsi atau sedikit gesekan antara yang pro dan kontra. Saran gue sih, kalian yang tersasar dan kelak akan membaca postingan ini, harap tetap menjaga kenyataan bahwa gue hanya membagikan pendapat yang didasarkan pada observasi diri sendiri. Jika kalian setuju, ya monggo berbaris rapi dan jadi pengikut saya (?). Engga deng. Ya kalo setuju ya berarti kita samaan. Kalo ngga setuju, ya udah tinggal tutup aja alamat ini. Cari yang menurut anda lebih pas sama pendapat anda sendiri. Comment section di setiap post bukan ajang pamer kata-kata dan kekayaan intelektual untuk menyanggah pendapat yang udah diutarakan. Apalagi kalo sampe bawa kata-kata ngga enak didenger telinga. Ini blog pribadi, bukan pasar. Ocre?

Karena syarat dan ketentuan udah dibicarakan, dan secara anonymous kita udah sepakat (apanya?), maka saya akan melanjutkan pemaparan pendapat yang sungguh tidak populer ini. Ini tentang bitter-sweet reality setelah 20 tahun lebih yang baru saja saya sadari. Cekibrot.

Banyak yang belum tahu, atau emang sebenernya nggak perlu dikasih tahu banget sih, kalau gue lahir dari keluarga dengan dua kepercayaan berbeda. Selain lahir dari orang tua yang berasal dari dua pulau berbeda, gue juga lahir dari orang tua yang punya cara beribadah yang berbeda. Kok bisa gitu? Nggak tau. Kalo dirunut cerita, sekitar dua puluh tahun yang lalu, muda-mudi yang kelak menjadi orang tua gue ini nggak bekerja di lokasi yang sama. Bukan temen SMA, apalagi temen SMP. Alkisah ceritanya, mereka berdua tersasar di lokasi kos-kosan yang sama. Kos-kosan karyawan yang terletak di bilangan Jakarta Pusat itu adalah saksi mengapa dua muda-mudi ini tertarik dan menjalin cinta (cailah). Suka makan keluar bareng, suka ngobrol bareng, yah pokoknya gitu deh. Karena mereka memang sudah cukup umur, maka melanjutkan hubungan ke tingkat pernikahan adalah hal yang wajar, bukan?

Pertanyaannya, kenapa menikah padahal memiliki kepercayaan yang berbeda? Padahal hukum di Indonesia belum mengatur (dan sampai sekarang tidak mengatur) pernikahan beda agama. Jalan keluarnya, akhirnya si pemuda mengikuti kepercayaan si pemudi, dan pernikahan dilangsungkan dengan satu kepercayaan. Walaupun pada akhirnya, pernikahan kedua (?) kalinya dilakukan pada kepercayaan yang dianut si pemuda. Gue diceritakan, ketika pernikahan kedua kalinya ini, gue udah berusia sekitar… 3 bulan? 4 bulan? Yang jelas, gue udah ada dan paru-paru gue sudah menukar kandungan oksigen dan karbon dioksida dari darah melalui tali pusar. Oke, sekarang buka lagi buka Biologi nya (lah!).

Dan taraaaam. Gue lahir bulan Oktober taun 1993, tepatnya tanggal 18. Silahkan main itung-itungan sendiri kira-kira gue dibikin kapan (?!). Ketika gue lahir, sesungguhnya adalah cobaan terbesar dari pernikahan beda agama ini. Anaknya mau ngikut siapa? Bapak apa Ibu? Setelah adu otot-ototan, akhirnya gue ngikut Ibu. Sampe sekarang. Mungkin udah ada yang bisa nebak pemuda-pemudi ini kepercayaannya apaan? Silahkan disimpen jawabannya masing-masing.

Ohiya, ada sedikit fakta yang terlewat. Sebenernya pernikahan ini sempat menjadi pernihkahan satu agama, karena si pemudia ngikut si pemudi untuk menjadi satu kepercayaan. Namun ternyata, hati berkata lain, dan si pemuda kembali ke jalan awalnya. Inilah awal mula dua kepercayaan lahir di keluarga gue.

Lalu pendapat apa yang tidak populer yang mau gue utarakan disini?

Percaya atau tidak, bisa dikatakan bahwa jodoh Ibu gue adalah Bapak gue sekarang. Dan jodoh Bapak gue adalah Ibu gue sekarang. Mengapa? Karena kalo mereka tidak berjodoh, mana mungkin Ibu gue kuat 20 tahun menikah dengan orang keras kepala, bawel, dan ribet macem Bapak gue. Apalagi kepercayaan mereka berbeda. Ibu gue membina keluarga tanpa “imam” yang didengung-dengungkan harus memimpin keluarga dan bla-bla-bla. Nggak ada yang mimpin sholat Ibu gue dan gue, kita sholat berdua aja. Nggak ada yang mimpin pergi ke mesjid setiap sholat Tarawih, atau sholat Ied. Nggak ada sosok ayah yang ngajarin gue Al Quran setiap abis sholat Maghrib, gue belajar baca Al Quran dari tetangga gue.

Mereka bisa bertahan, apalagi jawabannya kalau memang Tuhan sudah menjodohkan kedua belah pihak dalam satu ikatan suci pernikahan?

Mungkin Tuhan memang sudah menggariskan nama Ayah dan Ibu gue dalam ‘lauhul mahfudz’ berdampingan. Tapi Tuhan harusnya tahu kan kalau Ayah dan Ibu gue tidak dalam kepercayaan yang sama?

Jawabannya adalah, karena Tuhan ingin menguji Ibu gue. Apakah Ibu gue cukup kuat dan mantap berada pada agama-Nya, padahal jodohnya bukan berasal dari agama yang cukup sama. Apakah Ibu gue akan bertahan atau keluar dari jalan yang sudah menjadi jalan kebenaran sejak dulu. Dan nyatanya, Ibu gue kuat. Beliau masih berada di jalan-Nya, masih beribadah kepada Tuhan dengan cara yang benar, dan masih berpegang teguh pada agamanya. Hingga sekarang. Hingga bisa mengajarkannya pada gue.

Ibu gue pernah bercerita, jauh sebelum ini, ia pernah patah hati. Dan ia lari menuju pangkuan-Nya. Beribadah siang malam, meminta petunjuk dan memohon keringanan hati. Dan doanya dikabulkan dalam banyak hal. Pekerjaan, misalnya. Pekerjaan yang akhirnya menghidupi keluarganya hingga detik ini. Tapi Tuhan tidak hanya menyayangi kaumnya melalui nikmat, tapi juga melalui cobaan kan? Inilah cara Tuhan menicntai Ibu gue, melalui cobaan yang ia berikan ketika ia ingin mengenapkan separuh agamanya lewat pernikahan. Melalui jodohnya. Dan, sejauh observasi 20 tahun ini, Ibu gue melewati cobaan ini setiap hari dengan kembali berpasrah diri pada-Nya. Mungkin saja kan Ibu gue sampai pada satu titik lelah, kemudian stress terus coba gantung diri? Tapi toh engga kok. Ibu gue masih sehat wal afiat sampai sekarang.

Lalu bagaimana dengan Bapak gue? Menurut apa yang gue percayai, sejatinya Bapak gue sedang ditunjukkan ‘jalan kebenaran’ melalui pernikahan ini. Sesederhana itu. Karena Tuhan sayang sama Bapak gue, dan Tuhan mau menunjukkan bahwa ada ‘agama yang sempurna’ untuk dirinya. Namun Bapak gue belum menerima itu, belum tersentuh hatinya. Dan ia kembali ke kepercayaan sebelumnya. Walaupun sudah ada gue, ternyata belum cukup. Ya sudah.

Gue?

Ah, bagaimana dengan diri gue sendiri?

Tenang saja, bocah hitam legam ini sudah menerima semua kodratnya dari lahir. Menurut bocah hitam legam ini, semuanya hanya cara Tuhan menyanyanginya dan menunjukkan ‘jalan kebenaran’ dengan cara yang berbeda. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, cobaan dan nikmat adalah dua cara Tuhan untuk memberikan jalan pada masing-masing umat-Nya. Dan Tuhan menyayangi gue dengan memberikan cobaan-cobaan setiap hari supaya gue lebih bersyukur. Supaya gue lebih mantap di agama ini, dan gue menerima itu dengan lapang dada. Kelahiran gue adalah cobaan terbesar bagi kedua orang tua gue. Keadaan keluarga gue juga merupakan cobaan terbesar bagi gue. Seimbang kan? Semuanya karena Tuhan berkata demikian. Apalah daya manusia mau mengakalinya?

Terakhir, gue cuman mau menegaskan, percayalah pada kehendak Tuhan. Apalagi soal jodoh. Jodoh kita sudah tertulis lengkap di ‘lauhul mahfudz’, tidak akan tertukar. Kalau sekarang kamu sedang menggandeng seseorang yang selalu menemani setiap hari, berdoalah semoga namanya adalah nama jodoh yang Tuhan siapkan untukmu. Jika tidak, maka mintalah kepada Tuhan agar dijodohkan (?). Yah, pokoknya semoga langgeng untuk siapapun yang sedang mabuk kasmaran! (lah?)

Wahai Tuhan, si pemilik hati

Pada kehendak-Mu, kuserahkan seluruh hidupku

Hidup, mati, jodoh, rezeki, semuanya adalah pilihan-Mu

Apalah daya manusia kecil renta yang duduk bersimbah air mata dihadap-Mu, selain meminta dan meminta

Mengharap jawab-Mu, mengharap diperlihatkan apa sebenarnya kehendak-Mu terhadap aku

Tuhan, jika ia yang kini namanya selalu kusebut dalam tidurku adalah pilihan-Mu, maka dekatkanlah dan tetapkanlah hati ini dengan kuasa-Mu

Namun jika bukan, berikan aku keringanan hati saat waktunya tiba

Jauhi aku dari pikiran-pikiran bodoh yang menjauhkan aku dari-Mu

Karena hanya pada-Mu, harapan ini bermuara

 

PS.

Ini murni blog pribadi, bukan blog dakwah atau ajaran agama apapun. Sesungguhnya semua tulisan ini adalah curahan hati terdalam si pemilik blog yang sudah tua renta ini.

Sampai jumpa, dan mohon maaf lahir batin!

2 thoughts on “cerita yang tidak populer

  1. Gue mengamini pendapat lo, Cha. It’s one of your best writings so far. Semoga lo dan keluarga lo selalu bahagia ya. Menikah dengan seseorang yang memeluk kepercayaan yang berbeda bukanlah hal yang mudah. And I admire your mother for her that. And for your own love problem, you gotta be strong too. If it’s meant to be, it will be! Love youuuu!!❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s