kepada pangeran

Pangeran,

Masih jelas melekat di hati ini, bagaimana perihnya ketika aku, si perempuan hina ini, mengetahui bahwa kau tidak bisa meluangkan waktumu sedikit saja untukku di saat terakhir itu. Masih perih rasanya, melihat betapa singkatnya waktu yang kita habiskan di detik terakhir tahun itu. Masih ada amarah ini, amarah tak jelas ini, tentang bagaimana “biasa”nya kita memaklumi kesibukan masing-masing, ketiadaan masing-masing. Seperti aku yang hanya jadi bunga di pinggir jalan, menemani kau lewat dengan kuda gagahmu.

Pangeran,

Ketiadaanmu mengajarkan banyak hal. Hari demi hari, detik demi detik, ketiadaanmu terus menerus menyiksaku. Membangkitkan segala macam pikiran jahat, membangunkan semua penyihir hati yang mengubahku menjadi bukan aku. Ketiadaanmu memaksaku untuk bertarung atas diriku sendiri, bertarung melawan semua penyakit hati, sendiri. Bagaimana aku bangkit untuk mengambil pedang di jiwa yang kotor ini, kemudian membunuh penyihir itu, dan membuang jauh-jauh racun yang ia bawa. Ketiadaanmu menghiasi segalanya. Sisi-sisi kelam itu kau isi dengan ketiadaanmu. Bahkan matahari menari diatas ketiadaanmu atas hatiku.

Pangeran,

Tahukah kamu, aku juga berjuang memantaskan diri? Aku memaksa seluruh sendiku bergerak. Memaksa air mataku tak lagi jatuh, namun berbalik menusuk mataku untuk terus terjaga atas semua bukti-bukti alam. Kakiku tak hanya menendang ruang kosong di sudut ranjang, tapi bergerak menyambangi sudut kota, sendirian. Aku terdiam, menyadari betapa kosongnya hati ini di tengah reriuhan acara bahagia. Tapi aku, sekali lagi, memaksa diriku sendiri untuk tertawa, bercengkrama, seperti tidak ada yang salah. Padahal, entah sudah berapa kali ada potekan hati yang jatuh di lantai, tersapu keadaan. Tak mau aku ambil lagi.

Pangeran,

Barusan, aku lihat lagi wajahmu. Berbeda. Semakin jauh. Kau semakin tinggi. Stratamu kini tak lagi sekedar pangeran, namun raja. Raja kecil. Ya, kau raja kecil kerajaan sebrang. Kau begitu menawan, penuh dengan kebaikan. Tak perlu kau basuh wajahmu, sudah ada binar-binar harapan yang menyala di atasnya. Tak perlu pakai wewangian, sungguh wangimu bisa kucium dari sini, kuendus sebagai pengharapanku atasmu. Raja kecil tertawa, diamong sang Ibu yang tak pernah lupa dengan statusnya. Raja kecil siap memulai kerajaannya yang lain, seperti yang diinginkan keluarga kerajaan pada umumnya. Raja kecil dengan gagah berdiri menentang dunia, siap menaklukan para putri kerajaan lain dan menculik hatinya.

Raja kecil. Raja kecil. Raja kecil.

Oh, raja kecil. Apalah aku ini, dihadapmu?

Segala usahaku untuk memantaskan diri semakin menghancurkanku. Aku sia-sia. Aku hancur. Pertarungan sengit itu, ternyata tiada guna. Pertarungan atas aku, yang kuharap menguatkanku, ternyata menghancurkanku. Menghancurkan segala sendi kehidupanku.

Aku hancur melihat pangeran menjauh. Ya, menjauh, menjadi semakin tidak tergapai tanganku yang berdebu ini.

Seperti katak berharap terbang, itulah aku sekarang. Akulah katak yang hina, yang berharap diselamatkan raja kecil dari rawa-rawa yang kotor.

Aku mengharapkan sang raja kecil hadir di pinggir desa, memetik bunga di pinggir jalan, dan membawanya pulang. Merawatnya dengan baik, hingga sarinya muncul lagi, siap menggoda lebah yang datang.

Bahkan air mataku tak lagi bisa mengalir. Entah kenapa. Perasaanku hancur lebur, tapi tak ada tangis yang keluar. Aku ingin berteriak, mengeluarkan semua kegelisahan ini, mengeluarkan semua rasa sakit ini, mengeluarkan duri-duri yang berkecamuk di hati ini. Tapi tak ada yang bisa keluar. Aku terpenjara sendiri.

Ketiadaanmu. Ya, ketiadaanmu memenjarakanku semakin jauh.

Katak itu tenggelam dalam rawa-rawanya yang kotor. Tergilas eceng gondok yang kuat menghisap sari-sari kehidupan yang berada disana.

Juga, bunga di pinggir jalan itu kini telah tiada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s