menjinakkan singa lapar

Akhir-akhir ini, gue sangat banyak terbantu oleh artikel curhatan orang yang menjelaskan tentang sendi kehidupannya pada satu waktu tertentu. Semisal, ketika si penulis menggunakan fasilitas ini-itu, pergi ke sini, jalan ke situ, naik apa kemana, dan lainnya. Tapi semakin ke sini, tulisannya pada jadul-jadul banget dan mulai gak relevan sama keadaan sekarang. Gue paling banyak menemukan tulisan sekitar tanggal 2012 dan 2013, selebihnya minim sekali. Karena sekarang orang-orang lebih banyak cerita di gadget atau facebook mereka, tulisan penting di blog jadi semakin kurang. Walhasil, untuk menambah cerita pengalaman pribadi di internet dan untuk pay back kepada jagat blog Indonesia, gue mau membagikan pengalaman gue di pertengahan tahun 2015 yang lalu.

Alkisah,

Gue dulu waktu kecil males banget makan nasi. Gue doyannya ngemil, entah itu kue keju atau yang gurih-gurih macem chiki dan lainnya. Wajarlah, anak SD. Tapi ternyata, kebiasaan gue telat makan itu “membangunkan singa lapar” yang ada di perut gue. Alhasil, gue mulai kena maag dari kelas 3 SD. Sejak kelas 3 SD gue merasakan gimana perihnya kalo telat makan, dan pola makan yang sehari enam kali tapi dalam porsi kecil itu gue jabanin berbulan-bulan sampai si “singa lapar” ini kembali tertidur. Maag gue memang sembuh pada saat itu, tapi sangat mungkin dia kembali kalo gue ngga awas sama keadaan. Akhirnya gue kemana-mana selalu bawa promag untuk jaga-jaga disaat butuh.

Gue tumbuh besar ditemani “singa lapar” yang “kebangkitannya” sangatlah random. Setiap tahun, dia akan cenderung kambuh, membuat rekor kehadiran sekolah gue selalu ada izin sakitnya. Apalagi kalo musim banyak tugas sampe lupa makan, dijamin akhir-akhirnya selalu ada waktu dimana gue collapsed. Tapi gue terbiasa menghadapi itu semua, sehingga nggak kaget lagi. Panik sih iya, karena ketika lo lagi asik-asiknya menjalani hidup tahu-tahu ada yang ganggu dan rasanya perih banget. Sampai ketika tahun 2015 yang lalu, “singa lapar” ini tidak kunjung sembuh setelah dua kali diobati. Bahkan, tambah parah dan sakitnya mulai bikin sebadan ngilu semua. Ketika itu, “singa lapar” ini kambuh pas hari Minggu, dan dokter langganan dari SD nggak buka praktek. Karena kondisi gue yang semakin rendah, akhirnya dibawalah gue ke RS Hermina. Sama dokter jaga, waktu itu gue dikasih obat sementara. Katanya kalo ini masih sakit juga, gue harus ketemu dokter spesialis yang berhubungan dengan perut. Gue panik, karena seumur-umur belom pernah ke dokter spesialis, ya paling pernah cuman ke dokter mata (kalo itu diitung spesialis juga). Ibu gue pontang-panting nyari info masalah dokter spesialis ini, dan kemudian menemukan ada dokter spesialis gastrologi (lambung) yang buka praktek di klinik sehingga harganya akan lebih miring. Namanya Dokter Eddy, praktek nya di Klinik Nirmala, Jatinegara. Malam hari setelah nyokap pulang, pergilah gue menyambangi si dokter.

Ketika sampe sana, gue daftar untuk pasien baru. Gue nunggu cukup lama, karena ternyata dokter ini pagi hingga sorenya bertugas di RS Carolus dan RS Premier Jatinegara, nggak jauh darisitu. Kesan pertama gue adalah dokter ini maruk abis, karena dia walaupun udah tugas di dua rumah sakit besar pun masih buka praktek di klinik sederhana ini. Setelah sabar menunggu, akhirnya gue dapet giliran periksa juga. Ketika diperiksa, gue mengeluhkan sakit di abdomen atas, dan di paha bagian atas kanan dan kiri, persis di lokasi sekitar usus buntu. Diagnosa Dokter Eddy menyebutkan lokasi itu ternyata bukan usus buntu seperti yang gue kira, tapi dekat dengan saluran ovarium. Walhasil dokter meresepkan gue beberapa obat dan surat rujukan untuk cek darah dan USG.

Pagi hari esok harinya, gue ke RS Carolus untuk ambil darah. Setelah beberapa tetek-bengek yang administratif, akhirnya darah gue diambil. Pengalaman gue, ambil darah yang paling gak enak adalah di rumah sakit. Dan bener, walaupun yang ngambil darah adalah suster senior, tapi ternyata rasanya pedes abis. Luka bengkak abis ambil darahnya pun bertahan hampir tiga hari setelah ambil darah nya. Hasilnya bisa diambil sorenya. Tadinya gue mau ngabisin pagi itu untuk sekalian USG. Tapi karena jadwal USG nya masih sorenya, jadi gue memutuskan untuk pulang dan istirahat dulu.

Sorenya, gue USG. Iya, proses USG yang biasa dilakuin ibu-ibu hamil itu. Dokter yang meriksa gue juga bertitel SPOG (correct me if i’m wrong). Gue diminta untuk minum banyak sebelum masuk ruangan USG. Kalo tetiba gue kebelet pipis, juga harus ditahan. Kesan gue pertama kali masuk ruangan USG sebelum waktunya, ya gitu. Persis kayak di film-film. Bedanya, gue dateng dengan kabar sama sekali tidak gembira. Dokter yang nanganin juga masih muda, persis dokter idaman ibu-ibu hamil muda. Selama periksa, gue merasakan sakit di beberapa lokasi yang cukup membuat panik si dokter. Gue ngga ngerti apa, karena yang gue tau adalah di lokasi itu sakit. Setelah pemeriksaan sekitar 30 menit lebih, gue disuruh bertemu dengan Dokter Eddy lagi membawa hasil USG nya.

Ketika akhirnya gue kembali kontrol ke Dokter Eddy lagi, hasil cek darah dan USG sudah ditangan. Menurut dokter, darah gue bagus, cuman tekanan darah sedikit rendah. Yang menjadi highlight-nya adalah hasil USG gue yang ternyata… tidak memuaskan. Ada sesuatu di dalam sana, yang berbahaya jika dibiarkan terlalu lama. Dokter merekomendasikan untuk CT-Scan di bagian abdomen bawah untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Dibuatlah jadwal untuk CT-Scan di RS Carolus (lagi) keesokan harinya.

Mengesampingkan faktor mental gue yang terjun bebas, gue pun daftar untuk CT-Scan. CT-Scan di bagian abdomen ini adalah CT-Scan yang paling mahal, karena luas cakupannya yang besar, dari bagian bawah dada hingga pangkal paha. Harganya berkisar di atas empat juta rupiah (2015). Rumah sakit swasta akan menetapkan harga yang lebih fantastis lagi. Sebagai perbandingan, RS Cipto Mangunkusumo Jakarta menetapkan harga sekitar 4.2 juta, RS Carolus sekitar 4.6 juta, dan RS Mitra Keluarga bisa 5 juta rupiah. Tadinya orang tua sempet mempertimbangkan untuk pindah CT-Scan ke RS Cipto Mangunkusumo yang letaknya ngga jauh dari situ. Cuman mempertimbangkan saran Dokter Eddy yang sudah percaya dengan dokter yang akan membaca hasil dari CT-Scan itu sendiri, makanya akhirnya pilihan tetap diambil ke RS Carolus. Sebenarnya, CT-Scan sendiri ngga jauh beda dari rontgen. Cuman bedanya, dia lebih menyeluruh dan lebih jelas menggambarkan kondisi organ dalam. Prosesnya, kita akan dibuat melewati lorong yang menyinari tubuh kita dengan sinar X-ray. Ada dua pilihan dari CT-Scan ini, ada yang pake cairan pemantul dan enggak. Cairan pemantul ini semacam cairan refraktor yang akan bersinar lebih terang jika disinari X-ray. Jadi, organ dalem kita yang sudah full diisi sama cairan ini, akan terlihat lebih jelas ketika nantinya disinari sinar X-ray. Cairan ini dicampur dengan sirup biasanya kita konsumsi sebelum masuk ruangan CT-Scan, dan ada yang dialirkan ke tubuh melalui selang infus. Untuk kasus gue, karena yang ingin dilihat juga adalah bagian usus bawah, maka cairan ini akan dimasukkan ke tubuh juga melalui selang dari (maap) anus.

Gue ngga perlu mendeskripsikan bagaimana tepatnya perasaan dan kondisi mental yang terjadi selama proses CT-Scan. Cukuplah menjadi bagian dari hidup gue yang ngga akan pernah terlupa saja. Mulai dari pertama kali di infus, kemudian ngerasain saluran kecil dipaksa masuk ke (maap) anus, dan rasanya harus nahan napas selama proses pengambilan gambar saat CT-Scan sementara gue napas aja engap-engapan gara-gara panik. Rasanya… gak mau lagi pernah ngalamin yang namanya CT-Scan seumur-umur.

Setelah melewati penderitaan yang tidak ternilai harganya itu, gue akhirnya mendapat kabar baik bahwa hasil CT-Scan ternyata tidak mengindikasikan adanya sesuatu apapun yang bermasalah. Dokter Eddy kemudian meresepkan gue obat dan istirahat total. Setelah seminggu kemudian gue kontrol lagi, dan jumlah obat dikurangi. Sampai akhirnya gue lepas dari obat dan ngga perlu kontrol balik ke dokter lagi. Akhirnya “singa lapar” itu berhasil kembali tertidur dan sampai detik ini tidak terbangun lagi.

Sang “singa lapar” telah berhasil dijinakkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s