(m)udik pt.1

Bulan Juli tahun ini, umat Islam di dunia merayakan salah satu hari raya yang paling fenomenal, yaitu Hari Raya Idul Fitri. Di Indonesia, negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, hari raya ini pasti menimbulkan banyak efek dan fenomena sosial yang unik. Salah satu yang paling unik adalah tradisi pulang kampung, alias mudik.

Menurut salah satu selebtwit(?) yang gue follow, antologi mudik dapat ditarik dari padanan kata ‘udik’. Dalam KBBI, ‘udik’ dapat berarti desa, dusun atau kampung. Mudik, yang katanya diplesetkan dari ‘mulih udik’, berarti pulang ke desa, dusun atau kampung. Mudik adalah after effect dari budaya merantau yang dimaknai setiap insan Indonesia sebagai pergi ke daerah yang menjanjikan kehidupan yang lebih layak, dapat memberikan peluang kerja (atau peluang pendidikan) yang lebih baik dari daerah asal. Setiap setahun sekali, insan-insan yang jauh dari kampung halaman ini akan pulang kembali ke daerah asalnya selama beberapa hari untuk nanti kembali lagi ke kehidupan sehari-hari di rantau. Dan momen yang paling tepat adalah pada saat Hari Raya Idul Fitri.

Kenapa harus ketika Idul Fitri? Karena Idul Fitri adalah momen ketika kita kembali pada kondisi ‘fitri’ kita sebagai manusia. Selayaknya manusia, yang difitrahkan sebagai makhluk sosial, maka kita harus menjalin silaturahmi pada orang-orang yang mendukung kita. Dan yang paling utama, tentu saja orang tua. Makanya, ketika Idul Fitri ini banyak anak-anak yang walaupun sudah punya anak tetap kembali ke orang tuanya. Dari sinilah, berbondong-bondong ribuan orang yang tadinya bekerja di kota-kota besar memenuhi jalan menuju kampung halamannya masing-masing.

Di tahun 2016 ini, gue dan keluarga mudik ke Klaten, Jawa Tengah. Lebih tepatnya, ke keluarga Bapak. Walaupun Bapak bukan umat Islam, tapi gue dan sekeluarga lebih suka mudik kesana. Akhirnya setelah mencari waktu yang tepat, dibuat lah rencana untuk mudik hari Minggu, 3 Juli. Kita mudik menggunakan mobil pribadi. Gue yang belum bisa menyetir ini (T_T) masih belum bisa membantu banyak kecuali jadi tukang GPS dan nyiapin makanan untuk geng depan. Sekitar jam 8 pagi, kita berangkat dari rumah di Bekasi menuju Klaten. Kalo perjalanan lancar, estimasi mungkin di hari yang sama malam hari sih udah sampe.

Namun, estimasi hanyalah estimasi belaka.

Sebelum membahas betapa estimasi hanyalah estimasi belaka, gue mau membahas satu hal dulu. Jadi, selama mudik kemaren ada promo potongan 20% jika menggunakan uang elektronik. Berhubung gue ada, maka dipakelah itu uang elektronik untuk tap-in di gerbang tol Cikarang. Ketika mau masuk tol berikutnya, uang elektroniknya akan di-tap untuk narik saldo, dan digunakan untuk gerbang tol berikutnya. Setelah desek-desekkan di depan gerbang tol, akhirnya dikasihlah itu uang elektronik ke mbaknya. Usut punya usut, uang elektronik gue nggak bisa narik saldo, dan harus bayar pake uang cash. Betelah. Gue pun ngerusuh di twitter.

1

Gue akhirnya melayangkan protes ke bank yang bikin uang elektronik gue.

1

2

Lah. Orang lagi di tengah tol, masa disuruh cek kartu ke cabang bank terdekat. Dikira bisa terbang kali. Lagian juga kan itu hari minggu. Yang lebih lucu adalah, ketika gue protes sama yang bikin tol di Indonesia: PT. Jasamarga.

3

Jadi Jasamarga itu punya tol yang mana sih? Bingung.

Beres dengan masalah uang elektronik, akhirnya kita kembali melaju. Sampe di sekitar Kanci, kita diarahin untuk keluar tol dan melanjutkan melewati jalur Pantura sama pak polisi. Yaudah kita nurut. Waktu itu kita keluar di Gerbang Tol Kanci. Jam sudah menunjukkan jam 2 siang. Cuaca panas mulai menyerang. Pantura mulai penuh sama laron-laron (baca: pemudik yang pake motor), dan posisi mobil pribadi kadang-kadang jadi terjebak di posisi yang gak enak. Jalan cenderung merayap, bahkan kadang-kadang berhenti lama. Perjalanan dibawa santai sih, tapi tetep aja namanya bete macet mulai menyerang. Sampe akhirnya sekitar menuju jam 5, jalanan mulai setak. Alias berhenti total. Kiri-kanan mulai matiin mesin. Bus mulai berjajar untuk bikin barikade dan menggunakan arus sebelah yang tumben sepiiiiiiiiiiii banget. Laron-laron pun ikutan pindah ke jalur sebelah untuk ikut lawan arus. Suasana super bete karena tidak ada tanda-tanda pergerakan ini mulai bikin gue gerah di dalem mobil. Akhirnya gue keluar dan iseng foto-foto di deket mobil.

DSC_2893

Waktu mulai menunjukkan jam buka puasa. Dan tanda-tanda bergerak belum juga ada.

DSC_2892

Masuk waktunya buka puasa, dan gue akhirnya buka puasa di mobil. Pergerakan mulai ada nih, sedikit demi sedikit mulai kosong jalanan depan dan mobil mulai melaju. Mulai ada harapan nih. Layaknya perut yang mulai bahagia karena sudah mendapat asupan karena sudah buka puasa, we were craving for more speed.

Tapi, tak lama kemudian jalanan kembali setak. Kejadian yang sama tadi sore, persis keulang lagi.

DSC_2898

Jujur gue juga kehabisan kata-kata untuk menjelaskan betapa merananya kondisi macet-macetan ini. Ya, satu kata. Macet. Gak bergerak.

Karena persediaan air mulai menipis, di tengah kemacetan itu gue keluar mobil untuk nyari air mineral botolan. Dan, men, harganya meningkat lebih dari dua kali lipat. Bisa gitu, doski jualan air mineral botolan sampe harga 20 ribu. Padahal di ‘anu-mart’ harganya paling mahal 8 ribuan. Tapi ya berhubung di sekitar situ ngga ada toko macem itu, ya pasrah akhirnya beli. Daripada keausan kan?

Sekitar jam 9 malem mungkin, jalanan mulai bergerak. Tapi posisi saat itu masih di Jawa Barat, tepatnya masih di sekitar Cirebon gitulah. Intinya, perjalanan dari jam 8 pagi sampe jam 8 malem itu bahkan belom pindah propinsi. Macetnya parah dah. 12 jam dan masih di Jawa Barat itu kan keterlaluan namanya.

Dan, lebih kacaunya lagi adalah: bensin mobil gue tiris.

GAWADH.

(to be continued…)

2 thoughts on “(m)udik pt.1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s