(m)udik pt. 2

–meneruskan post ini

BRO. Emang permasalahan kontinuitas itu berat ya. Bikin part 1 nya bahagia bet, part 2 nya susah banget mau mulainya. Dan karena saya mulai agak sedikit males-malesan, jadi maafkan kalo padanan katanya tidak sebagus post sebelumnya. Akakakakkk

–mari dilanjut–

BENSIN! Permasalahan bensin ini yang bikin perjalanan mudik gue kemaren terasa sangat nyata deg-deg-ser-nya. Bayangin aja, perjalanan baru juga seperempat tapi bensin full-tank udah abis. Udara siang yang panas bikin mau gak mau harus pake pendingin udara. Pendingin udara nyala, tapi jarak tempuh nol besar. Walhasil kita keabisan bensin di sekitaran perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Setelah gue cek Waze, ada pom bensin di sebelah kiri jalan sekitar 6 km lagi. Akhirnya dengan perlahan, perjalanan 6 km itu pun dimulai. Rasanya lamaaaaaaaaaaaa banget. Gue yang mulai frustasi dan ketar-ketir takut mobil mogok berusaha menafikan dengan dengerin lagu yang “agak keras”. Salah satu lagu yang gue dengerin (sekalian rekomendasi ini) adalah track no 2 Rap Monster’s Mixtape: Do You.

Alasan gue kenapa malah asik dengerin lagu selama ketar-ketir itu adalah karena anxiety problem gue yang ngeri kambuh. Abis kalo itu kambuh, ngerinya tiba-tiba gue buka pintu mobil terus teriak-teriak frustasi kek orang gila. Bahaya kan? Jadi gue usir rasa kesal dan “berisiknya” gangguan kecemasan gue melalui lagu itu. Sepanjang menuju 6 km ke pom bensin itu, banyak orang yang minggir di pinggir jalan gara-gara kecapekan dan butuh istirahat. Waktu itu emang menunjukkan pukul 10 malam lebih sih.

DSC_2899

Berpayung langit yang Alhamdulillah terang, dan beralaskan kertas koran atau tikar seadanya, mereka melepas lelah selama menuju kampung halaman. Demi kembali ke fitrah yang bersih, demi menyambung tali silaturahmi bersama keluarga dan orang-orang yang terkasih. Buat gue, ada rasa-rasa nostalgik disitu. Entah kenapa.

DSC_2901

Biasa tidur di kasur. Sekarang tidur harus beralaskan rumput kering. Adek-adek kecil semua dipangku sama ibunya, ditenangkan oleh belaian ibu dan hangatnya keamanan dari ayah. Kurang nostalgik apa sih? Walaupun semalam, tapi banyak ikatan kekeluargaan yang dibuat disitu. Bener juga kata salah satu artis negeri orang, liburan keluarga penting untuk menjalin kembali ikatan-ikatan yang sudah tanggal antara anggota keluarga. Kadang-kadang kita hanya menyempatkan waktu bersama teman dan kekasih, tapi lupa sama keluarga sendiri.

Di tengah pusaran aura nostalgik dan dramatis itu, mobil gue terperangkap kemacetan yang bener-bener gak ada pergerakan. Karena lampu bensin udah kelap-kelip, dan gelimang lampu Pertamina udah terlihat dikejauhan, Ibuk memutuskan untuk turun dan melihat kondisi di depan. Dan bener aja, ternyata pom bensin ramainya tak karuan! Banyak mobil ngantri, dan lebih banyak lagi tukang eceran yang membariskan jerigen dan botol-botol bekas untuk kemudian dijual lagi di luar pom bensin. Wah, ternyata di belakang banyak yang bensinnya keburu abis duluan sebelum sampe pom bensin. Dan mobilnya ditinggal gitu aja di jalanan. Gue yang juga gak sabar ikutan mengecek kondisi pom bensin. Panik, pusing karena kelamaan di mobil, dan kondisi yang remang-remang bikin gue merasa melayang gitu pas jalan. Dengan segenap tenaga gue bertahan dan berusaha paham apa yang terjadi. Tiba-tiba, Ibuk telpon dan minta dibawakan botol air kemasan untuk kemudian diisi bensin. Gue panik karena harus cari dimana botol bekas di tengah riuh-rendah ini?

“KLUTUNG”

Sebuah botol air mineral bekas tiba-tiba menggelinding di kaki.

Gue saut secepat kilat dan berlari menuju ke mesin pom bensinnya. Gue serahkan pada Ibuk yang lagi melaksanakan trik orang Padangnya untuk “ndusel” biar dapet bensin barang seliter saja. Gue menghubungi bapak dan menceritakan apa yang terjadi. Gue berusaha kasih saran berdasarkan apa yang gue lihat. Setelah beberapa saat, gue dan Ibuk mendapatkan bensin. Bayangkan, bensin yang biasanya dijual 6000-7000 seliter bisa dijual dengan harga 10.000 rupiah dengan ukuran botol air mineral bekas satu liter. Semahal itu, karena selangka itu. Gue terbirit-birit kembali ke mobil dan menuangkan bensin tanpa sisa. HAH. Seperti ada nyawa tambahan. Bapak memutar kendali setir dan memposisikan mobil masuk ke jalur yang bergerak menuju pom bensin. Di kiri-kanan banyak mobil yang juga mengisi bensin dengan cara mengecer. Beberapa mengisi bensin langsung satu jirigen. Harganya 200.000 rupiah, dengan isi 20 liter. Ibuk berusaha menawarkan untuk beli jirigen, namun Bapak menolak. Akhirnya diputuskan untuk tetap mengantri dengan baik di pom bensin. Gue maju kedepan untuk melihat sudah sampai mana antrian dan antrian mana yang beneran dapet bensin.

Sambil menunggu jalan, gue cari jajanan. Ada yang jual nasi rames, ada yang jual teh panas dan banyak lainnya. Harganya masih sama dengan harga biasa, tidak dilebih-lebihkan. Tapi yang bikin tercengang, ternyata waktu menunjukkan pukul satu malam! Tidak terasa hari begitu saja berganti.

Drama kembali berulang ketika detik-detik mobil gue dapet bensin. Si petugas sudah was-was karena bensin katanya sudah mulai tiris. Gue yang mengawasi juga ikutan was-was. Ibuk kemudian mengambil keputusan untuk ‘hajar’ isi bensin full-tank daripada nanti ribet lagi. Dan benar saja, si petugas langsung memberi kode bahwa bensin pada saat itu habis. Persis setelah giliran mobil gue isi bensin gue selesai.

GODDAMNIT.

Kurang drama apa coba itu namanya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi saat itu. Bapak dan Ibu memutuskan kita berhenti di pom bensin dulu dan tidak langsung melanjutkan perjalanan. Lah percuma, setelah keluar pom bensin beberapa menit kemudian juga tidak bergerak lagi. Lagipula, waktu sahur juga sudah dekat. Hanya gue yang puasa saat itu, dan gue nurut-nurut aja. Akhirnya kita menghabiskan waktu dini hari hingga subuh di pom bensin.

Social media yang paling gue pake pada saat itu adalah Twitter. Jadilah gue membuat cuitan mengabarkan bahwa pom bensin gue menginap sudah kehabisan bensin.

rrrr

Cuitan itu dibuat sekitar jam 3.25 pagi. Kira-kira pas gue lagi sahur.

Karena sepertinya post ini sudah super panjang, cerita selanjutnya akan dilanjutkan di part ketiga. Ada cerita apa di pagi hari setelah bermalam di pom bensin ini?

ADIOS!

One thought on “(m)udik pt. 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s