Lakon: Sape’i Si Maling Jemuran

1.

(Pagi itu, suasana berkabut. Hentakan sepi dari cuaca terdengar dimana-mana. Tapi lain halnya dengan ruangan di salah satu pengadilan tinggi ternama di Jakarta. Suasana riuh rendah. Semua orang berbisik pelan, menebak-nebak apa yang akan terjadi di ruangan ini. Diskusi pelan ini terus menerus berbunyi hingga tiba-tiba, datang lima orang berseragam lengkap masuk ruangan. Wajahnya garang, perawakannya liar dan tegas. Ditengahnya berdiri seorang laki-laki muda nan parau. Wajahnya pucat pasi. Tangannya digenggam dinginnya besi borgol yang melingkar. Tak lama ia duduk di kursi pesakitan. Tak lama, para hakim, jaksa, dan petugas-petugas lain masuk memenuhi ruang sidang. Ketukan palu terdengan membahana membungkam ruang sidang.)

Hakim Ketua : Para hadirin yang terhormat. Terima kasih sudah memenuhi ruang sidang ini. Sebentar lagi pembacaan putusan Jaksa Penuntut Umum akan segera dibacakan. Hadirin dimohon tenang.

(Suasana berubah menjadi mencekam. Sang pesakitan duduk terdiam menanti takdirnya berbicara. Tak lama, sang Jaksa berdiri menghadap hakim.)

Jaksa              : Yang Mulia, Hakim Ketua yang terhormat. Para hadirin yang budiman, izinkan saya membacakan putusan dari Tim Jaksa Penuntut Umum mengenai kasus maling jemuran dengan terdakwa Sape’i Rohman bin Abdullah.

(Seorang wanita tua mendadak berdiri sambil menunjuk sang pesakitan.)

Ibu                  : Anak saya bukan maling! Anak saya bukan maling!

(Suasana mendadak riuh. Para warga yang satu desa dengan terdakwa ikut bediri dan menunjuk-nunjuk jajaran hakim yang mulia.)

Hakim Ketua : Tenang, hadirin dimohon tenang. Sidang tidak akan dilanjutkan jika para hadirin belum tenang.

(Para petugas siap sedia untuk menenangkan hadirin. Para wartawan yang hadir juga ikut berbisik-bisik, menerka-nerka apa yang terjadi dibalik semua ini.)

Jaksa              : Para hadirin yang terhormat, izinkan saya kembali pada putusan vonis terhadap terdakwa…

(Suasana perlahan tenang.)

Jaksa              : Menimbang, bahwa terdakwa memiliki bukti-bukti kuat atas tindakan pencurian beberapa helai pakaian yang dimiliki secara sah oleh saudari Ibu Tanto Wongsoyudo, yang sudah dibacakan pada sidang-sidang sebelumnya…

(Sang Jaksa menghela napas panjang, dan melanjutkan.)

Jaksa              : Mengingat, bahwa tindakan pencurian merupakan tindakan kriminal yang melanggar hukum pidana kitab KUHP Pasal 113 ayat 5. Maka dengan ini, Jaksa Penuntut Umum memutuskan bahwa terdakwa bersalah secara sah dan meyakinkan, dan dikenai hukuman sebesar… 15 tahun penjara, dengan subsider kurungan 6 bulan…

(Suara Jaksa tenggelam dalam balutan keriuhan suara hadirin. Sang Ibu terdakwa menjerit dan memaksa untuk menghampiri anaknya. Sang terdakwa langsung dikelilingi oleh prajurit-prajurit pengadilan yang dengan sigap melindungi dari ancaman amuk massa. Suasana yang begitu riuh rendah ini memaksa sang Hakim angkat palu. Namun sang Ibu masih terus menjerit, ditimpali lautan amarah penduduk desa yang terus memaki sang Jaksa.)

Hakim Ketua : Para hadirin dimohon tenang. Para hadirin dimohon tenang!

Hakim Josh   : Ketua, sidang ini tidak bisa dilanjutkan! Lebih baik kita tunda saja sidangnya, atau kita anggap sidang ini selesai!

Hakim Sam   : Betul, Pak Ketua! Kita anggap saja pembacaan vonis ini selesai dan kita akan melaksanakan sidang lagi dalam kurun waktu 14 hari kedepan. Kalau tidak, kita pasti akan kena amuk massa, Pak Ketua!

(Hakim Ketua terpaku melihat riuh rendah massa yang ada di depannya. Sang Ibu yang sedang menangis histeris memanggil nama putranya. Warga yang terus mengamuk dan memaki perangkat pengadilan, dan sang terdakwa yang bergetar seluruh tubuhnya. Hakim Ketua kemudian berdiri dan mengangkat palunya lagi.)

Hakim Ketua : Tenang semuanya, tenang. Sidang saya putuskan berakhir sampai disini. Sidang akan dilanjutkan dalam kurun waktu 14 hari kedepan untuk mendengar keputusan final dari para Hakim. Terdakwa dipersilahkan kembali ke tempat. Dan para hadirin dimohon untuk tidak merusak fasilitas-fasilitas yang ada.

(Terdakwa kemudian digiring ke belakang ruangan sidang. Sang Ibu yang tak kuasa menahan beban kemudian jatuh pingsan. Para warga yang berteriak-teriak mendadak terdiam dan langsung beralih membantu sang Ibu. Sekilas sang terdakwa melirik ibunya yang lemah tak berdaya dipeluk saudara-saudaranya.)

 

 

2.

(Ruangan pengadilan yang muram kini berubah menjadi jeruji besi yang mencekam. Sang terdakwa, Sape’i, terduduk lemas menahan dinginnya ruangan ini. Teringat ketika ia dijewer dan diseret oleh Ibu Tanto Wongsoyudo, tetangganya yang kaya raya, menuju pos polisi dan memaki dirinya maling. Setelah itu kejadian berlalu begitu cepat. Ia hanya ingat dipaksa, dan terus dipaksa untuk mengakui perbuatannya yang tak pernah muncul di pikirannya.)

Sape’i            : (berbicara pada dirinya sendiri) Maling… Maling… Aku ini maling, tapi sekalinya maling, aku cuman maling kaus kutang sama bra ibu tua yang pongah itu. Astaga, jadi apa kelak aku ini nanti? Oh amak[1], bantulah aku ini mak!

(Mendadak sosok yang ia panggil daritadi muncul dari balik jeruji. Rangkulan tangannya yang hangat menyadarkan Sape’i yang diliputi lara.)

Ibu                  : Anakku! Ooh, Sape’i anakku! Amak ni rindu dengan kau! Tak tega amak dengar anakku yang rupawan ini diteriaki maling! Tak tega, amak, tak tega!

(Air mata mengalir lagi di pipi sang Ibu. Sape’i pun tak kuat menahan haru.)

Sape’i            : Amak, maafkan anakmu, yaa mak? Aku sudah buat sengsara keluarga ini. Aku sudah memalukan nama Apak[2], Amak, Ante[3], dan lainnya. Malulah aku, di depan Rindu, bunga desa di kampung sebelah. Apa jadinya calon suaminya dituduh maling ayam oleh wanita tua tak berdaya seperti itu?

(Sang Ibu tersenyum melihat jiwa anaknya yang masih muda belia. Niat hati ingin menjawil sang putra terhapus rindu yang tak terkira.)

Ibu                  : Sudah, sudah. Tak usahlah kau pikirkan Rindu, Amak yakin dia percaya padamu. Kelak amak akan bawakan makanan kesukaanmu agar kau lebih semangat disini.

Sape’i            : Tapi aku tak ingin disini mak, aku ingin di rumah saja.

Ibu                  : Berdoalah pada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan doamu.

(Sang Ibu mencium kening putranya dan melepas pelukannya. Begitupun anaknya yang mencium lembut tangan ibunya yang sudah tua itu. Tak lama runtuh sudah air mata dan isak tangisnya. Tak mau ketauan oleh anaknya, sang Ibu mempercepat langkahnya pergi dari situ.)

 

 

3.

(Ibu Tanto Wongsoyudo sedang duduk di sofa empuk sambil menghisap cerutunya, ketika seorang pria rupawan masuk dan memeluknya dari belakang. Ibu Tanto terkesiap dan menoleh, kemudian tersenyum. Pria itu kemudian mencium tangan Ibu Tanto dan duduk disampingnya.)

Ibu Tanto       : Sumringah sekali wajah anak mama yang satu ini.

Putra              : (tersenyum) Mama pasti tau perasaanku bagaimana. Terima kasih yah, ma. Rindu tak akan lagi percaya dengan pria cungkring tak terurus macam itu.

Ibu Tanto       : Putra, anakku, kau harus percaya bahwa kau akan mendapatkan Rindu. Bunga desa, mana pantas dengan anak bau kencur seperti itu. Dia cocoknya dengan pria tampan sepertimu.

(Ibu Tanto mencubit pipi Putra dengan lembut, seperti mencubit anak kecil berumur 5 tahun. Kemesraan ibu dan anak itu mendadak terusik dengan kedatangan Hakim Ketua dan Hakim Josh. Ibu Tanto kemudian membetulkan posisi duduknya dan berbicara tegap dan tenang seperti seorang punggawa.)

Ibu Tanto       : Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan. Aku sudah bayar mahal untuk mengunci mulut dan vonis kalian. 15 tahun itu tidak lama, bukan? Tinggal kalian kurangi sendiri dengan cara kalian kalau kalian kasihan…

Hakim Josh   : Tapi Bu, Hakim Sam belum setuju. Kami tidak bisa jalan kalau tidak ada kata sepakat diantara kita.

Ibu Tanto       : Loh, salah sendiri Hakim itu tidak mau terima tawaran saya. Saya sudah berusaha baik dengan memberikan apa yang dia mau. Saya sudah siapkan semuanya agar taraf hidupnya naik, tidak lagi naik sepeda onthel ke pengadilan. Dia yang sok jago menolak tawaran saya…

Hakim Josh   : Hakim Sam bukan tipikal orang yang seperti itu, Bu…

Ibu Tanto       : Tipikal orang yang mana lagi yang mau kau jelaskan? Bukankah semua Jaksa dan Hakim itu sama, silau kalau melihat duit? Iri kalau melihat kekayaan? Saya sudah lelah dengan tipikal orang seperti kalian berdua ini. Menjilat, menanti kasus yang besar dan banyak duitnya. Menyenggol perusahaan tentang ijin ini itu supaya dapet setoran. Tak lebih dari tukang angkot kalian ini.

Hakim Ketua : (berdiri marah) Ibu sudah merendahkan martabat kami!

Ibu Tanto       : Duh, Pak Hakim yang mulia, jangan munafik. Perlu kuceritakan berapa kasus yang kau tangani yang (mengangkat tangannya sambil membentuk dua jari) “basah” dan “lembap” seperti ini? Tak usah, semua orang juga tau! Aktor-aktor dibalik layar macam aku dan anakku ini harusnya yang pantas disebut hakim dan jaksa. Kami menghakimi dengan cara kami sendiri. Kami menjaksa, menentukan apa yang benar dan apa yang salah dengan mata kami yang penuh keadilan. Tak seperti kalian yang menghakimi atas dasar tebal amplop dan jaminan hari tua.

(Ruangan mendadak sepi dan muram. Putra, sedari tadi asyik bermain gadget-nya sambil cekikikan. Ia hanya tersenyum, ketika sekilas melihat dua hakim yang dibayar Ibunya diam tak berdaya. Yang ada di pikirannya sekarang hanya Rindu, si kembang desa yang cantik jelita.)

 

 

4.

(Hari sudah malam. Kebanyakan lampu sudah dimatikan oleh penjaga. Namun Hakim Sam masih asyik meneliti berkas yang sedari tadi menumpuk di mejanya. Raut wajahnya menyiratkan analisa yang mendalam. Tak lama kemudian, ia menyenderkan punggungnya sambil menghela napas. Tak lama, seorang wanita paruh baya muncul sambil membawa rantang makanan. Hakim Sam terkejut melihat kedatangan beliau, dan langsung menerimanya masuk dan mempersilahkannya duduk di kursi di hadapannya.)

Hakim Sam   : Ibu adalah Ibunya terdakwa, Sape’i, betul?

Ibu                  : Iya Pak Hakim, saya Ibunya Sape’i. Kebetulan tadi saya lewat dan melihat pak hakim masih sibuk. Kebetulan ada makanan, yah saya mampir sekalian. Itung-itung silaturahmi.

(Sang Ibu meletakkan rantangnya di atas meja Hakim Sam. Sang Hakim hanya tersenyum.)

Hakim Sam   : Ibu mau menyogok saya? (tertawa)

Ibu                  : Oh tidak pak Hakim, tidak. Saya hanya kasian melihat Pak Hakim. Saya gak punya uang buat menyogok bapak…

Hakim Sam   : Lha ini makanan kan bisa buat nyogok?

Ibu                  : Ya Allah pak, apa sih artinya makanan ini? Kalo ambo nak menyogok Pak Hakim yaa pake uang, atau emas, atau tanah. Apa daya wanita miskin seperti saya ini, pak?

(Ibu Sape’i kemudian menahan suaranya. Hakim Sam hanya tersenyum mendengar ucapan sang Ibu.)

Hakim Sam   : Bu, yang benar adalah, makanan ini Ibu makan sendiri. Atau bagi-bagi sama tetangga yang kekurangan. Bukan sama saya. Saya ini digaji sama negara. Duit ibu beli alat-alat rumah tangga di toko itu, sedikitnya adalah untuk gaji saya. Namanya pajak. Ibu kan sudah kekurangan, lebih baik untuk Ibu dan keluarga saja.

(Ucapan bijaksana Hakim Sam mengundang haru Ibu Sape’i. Ia kemudian pamit dan berterima kasih berulang-ulang dengan Hakim Sam. Hakim Sam hanya tersenyum dan terus mengamini doa yang dilantunkan sang Ibu. Dalam hatinya, Hakim Sam berjanji akan membebaskan Sape’i, apapun yang terjadi.)

 

 

5.

(Tak terasa, 14 hari sudah berlalu dari sidang pembacaan putusan Jaksa Penuntut Umum. Tapi Hakim ketua, Hakim Sam, dan Hakim Josh belum juga menemui kata sepakat. Diskusi lagi-lagi dilakukan di ruangan di dalam pengadilan. Hakim Sam terlihat tenang dan kalem, sementara Hakim Josh terlihat mengernyit dan berpikir keras.)

Hakim Josh   : Sape’i jelas terbukti bersalah. Ia memegang hasil curiannya, di tempat kejadian perkara. Ketika Ibu Tanto menghampiri, ia malah kabur dan melempar barang curiannya. Bukankah itu tindak-tanduk maling?

Hakim Sam   : Tidak bisa kita katakan begitu. Sape’i memang dalam posisi yang sulit, apalagi dia tidak mengakui kalau dia secara sengaja mengambil pakaian Ibu Tanto.

Hakim Ketua : Tapi tak ada maling yang mengaku, pak…

Hakim Sam   : Iya saya tau, tapi kalau hanya bukti itu yang kita pakai, semua orang tahu gerak refleks memang kebanyakan seperti itu. Kita tidak bisa menghukum orang, apalagi seberat itu, dengan tuduhan yang seringan itu.

(Ketiga Hakim terdiam. Keputusan final ini hanya menyisakan dua opsi, apakah Sape’i bersalah atau tidak. Namun tak ada yang bisa secara jelas menyatakan apakah dia bersalah atau tidak. Hakim Sam berjalan perlahan menjauhi kedua hakim tersebut, dan terhenti di depan jendela. Di hadapannya terlihat riuh rendah sore hari lembaga pemasyarakatan. Salah satunya terlihat Sape’i yang sedang terduduk di pinggir lapangan.)

Hakim Sam   : Apakah kalian mau pengadilan keruh dan kotor seperti ini terus?

(Hakim Josh terperanjat dengan ucapan tiba-tiba Hakim Sam. Hakim Ketua yang sedari tadi hanya memperhatikan layar komputernya mendadak menoleh menuju Hakim Sam.)

Hakim Ketua : Apa maksud Pak Hakim?

Hakim Sam   : Apa kalian mau peradilan terus-terusan kotor dan berjamur seperti ini? Penuh dengan kemunafikan, kepalsuan, dan ketidakjujuran seperti ini?

(Suasana hening lagi. Ketiga hakim tampak terdiam dan terlihat berpikir keras. Tak lama Hakim Josh berdiri dan membuka laci di bawah mejanya. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah box makanan yang didalamnya berisi tumpukan uang. Ia menaruh box makanan itu di meja di tengah ruangan.)

Hakim Josh   : Aku tak pernah menggunakan uang ini. Aku pun tak suka dengan cara ini. Aku membayangkan anakku yang ada di posisi Sape’i sekarang ini. Menerima tuduhan yang sama sekali bukan untuknya. Hanya karena tak sengaja memegang jemuran yang jatuh karena angina dan tertangkap oleh yang punya jemuran, kemudian anakku akan dianggap maling. Aku tak mau anakku diperlakukan seperti orang bodoh yang mudah sekali dibodohi.

(Hakim Sam menengok melihat box makanan itu. Box yang sama yang ia tolak beberapa minggu yang lalu. Ia kemudian melirik Hakim Josh yang kali ini terduduk lesu di pinggiran sofa.)

Hakim Sam   : Apa kau punya pendapat lain, Pak Hakim Ketua?

(Yang ditanya hanya melirik Hakim Sam dari balik layar komputernya.)

Hakim Ketua : Buat apa kau tanya pendapatku? Aku sudah tua, sudah makan asam garam peradilan bodoh seperti ini. Aku sudah mau mati. Biarlah aku mati dengan semua dosa-dosaku ini. Biarlah aku disiksa di liangku karena makan uang setan ini. Tapi jangan kau, jangan pula si Sape’i itu. Biarlah kalian yang muda-muda ini menentukan apa yang salah dan apa yang benar dengan hati nurani kalian. Buka cakrawala pandangan kalian. Buka hati dan pikiran kalian sejauh mungkin. Timbang dengan adil, dan tutup semua indra kalian kecuali hati nurani kalian. Karena sesungguhnya peradilan bukan untuk menentukan mana jahat mana benar, tapi siapa yang bertanggung jawab dengan perbuatannya sendiri.

(Hakim Sam dan Hakim Josh terpaku dengan ucapan Hakim Ketua. Tak bakal disangka akan mendapat jawaban sejelas dan sebijaksana itu. Kedua hakim pun mendapatkan jawaban mereka atas nasib Sape’i.)

 

 

6.

(Hari persidangan akhirnya datang juga. Para Hakim dan Jaksa telah datang memenuhi ruangan. Sape’i juga sudah duduk manis di kursi pesakitan. Seluruh tetangga-tetangganya datang untuk memberi dukungan Tak lupa sang Ibu yang kali ini menggenggam erat tangan Rindu, si kembang desa. Rindu tampak sumringah dan terus menguatkan Ibu Sape’i. Ia pun ingin tahu apa hasil dari persidangan Sape’i.)

Hakim Ketua : Para Hadirin yang terhormat. Sidang akan dilanjutkan dengan pembacaan putusan persidangan atas nama terdakwa Sape’i Rohman bin Abdullah, dengan tuduhan maling jemuran. Dimana terdakwa di laporkan oleh Ibu Tanto Wongsoyodo, sebagai pemilik sah jemuran yang menjadi barang bukti persidangan.

(Suasana kembali hening. Tenggorokan Sape’i mulai tercekat dan tak bisa menelan. Begitu juga sang Ibu yang mulai menitikkan air mata.)

Hakim Ketua : Menimbang, bukti persidangan yang sudah dihadirkan dalam sidang, dan saksi-saksi yang telah disumpah bersaksi dengan sejujur-jujurnya dan sebenar-benarnya.

(Suasana kian mencekam. Doa-doa dilantunkan oleh sang Ibu demi anaknya yang sedang diadili.)

Hakim Ketua : Mengingat, vonis putusan Jaksa Penuntut Umum sebesar 15 tahun penjara dengan subsider kurungan 6 bulan pertama. Maka dengan ini Hakim memutuskan bahwa terdakwa, Sape’i Rohman, dinyatakan…

(Waktu seperti berhenti berputar sepersekian detik, ketika hampir semua orang di dalam ruangan sidang menahan napasnya.)

Hakim ketua : …tidak bersalah karena tidak cukup bukti untuk ditahan di lembaga pemasyarakatan. Keputusan ini sah dan dibuat dengan sebenar-benarnya.

(Ruang sidang langsung bergejolak. Semua warga meloncat kegirangan dari kursi mereka. Ibu Sape’i tak kuat menahan air matanya. Tubuhnya yang lemah mendadak tersungkur lemas dan bersimpuh di pinggiran ruang sidang. Sape’i terlihat sujud syukur persis disamping kursi pesakitan. Di seberang sisi, Ibu Tanto Wongsoyudo dan Putra terlihat marah dan tak terima dengan putusan ini. Namun putusan ini sudah diketok oleh Hakim Ketua dan tak ada lagi yang melawan. Hakim Ketua langsung menutup sidang dan menghilang dibalik riuh rendah massa sidang yang ramai. Hakim Josh dan Hakim Sam pun tak terlihat lagi rupanya. Seluruh hadirin sidang kemudian merangsek menuju Sape’i dan mengelu-elukan namanya. Sape’i kemudian diarak seluruh warga kampung untuk meramaikan kebebasannya. Awak media pun memberitakannya ke seluruh negeri. Nama Sape’i pun terkenal menjadi buah bibir dimana-mana. Kelak ia menjadi contoh bagi seluruh pengadilan di negaranya. Nama Sape’i pun masuk Kantor Urusan Agama sebagai calon suami dari Rindu. Pernikahan mereka pun dilangsungkan dengan penuh cinta diantarannya.)

[1] Bahasa Melayu dari Ibu.
[2] Bapak, bahasa Melayu.
[3] Tante, bahasa Melayu.

(Lakon ini merupakan Pemenang Pertama Lomba Tulis Lakon Fateta Art Contest 2013, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.)

 

(P.S: Lakon ini sekaligus lakon pertama penulis yang masuk lomba, dan menang :p)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s